Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
105


__ADS_3

"Sweety, apa yang sakit?" Panik Erfan. Ia langsung meninggalkan meeting setelah mendapat kabar istrinya kesakitan.


"Kram Mas." Lirih Hira, memeluk pinggang suaminya dengan kuat.


"Adek, pintar-pintar di perut Mommy ya Sayang." Erfan mengecup perut Hira dan membelainya penuh kasih sayang. "Kalo adek pintar, Mommy gak akan kesakitan," bisiknya lagi.


Sungguh ajaib, kram di perut Hira semakin berkurang. Bukan cuma mommy nya yang mau dekat-dekat daddy. Adek bayi pun juga ikutan manja.


"Daddy tadi pergi gak pamit sama adek, jadinya ngambek."


"Maafin Daddy ya Sayang." Bisik Erfan, "terimakasih Sayang sudah tenang, harus pintar ya biar Mommy gak kesakitan." Lanjutnya seraya mengusap perut Hira dengan kedua telapak tangannya.


"Kesayangan Daddy ini gak ada yang bisa ditinggal lama." Ujarnya seraya membawa tubuh Hira yang semakin berisi dalam dekapan. "Ayo bangun ikut Mas ke kantor, Sweety."


Bukan Erfan kalau membiarkan istrinya jalan kaki. Ia menggendong sang istri sampai ke mobil.


"Aku berat gak Bee?" Tanya Hira polos, beban lima puluh kilo lebih mana mungkin gak berat.


"Berat banget Sayang."


"Mas gak bisa gendong lagi dong." Ucapnya cemberut.


"Bisa, paling cuma encok. Nanti kamu yang pijetin Sweety, kalo Mas encok." Hira mendengus sebal, "pijat plus-plus juga boleh." Lanjut Erfan menggoda istrinya. Tangan kiri lelaki itu masih setia membelai perut Hira yang masih ramping. Tangan kanannya mengendalikan setir.


"Nyetir yang benar, Bee." Ketus Hira, Erfan mengangguk. "Siap Nyonya Erfan."


"Kamu lanjut istirahat, Sweety. Mas meeting dulu." Ujar Erfan setelah mengantar istrinya ke kamar. "Ganti baju biar tidurnya enak." Pesannya sebelum kembali ke ruang meeting.


Prinsip Erfan, meeting tetap bisa berlanjut tanpa kehadirannya. Hira tetap prioritas, ia tak bisa menempatkan istrinya dalam bahaya.


"Gimana keadaan Bu Hira, Pak?" Tanya Galih, mereka baru selesai meeting. Sekarang sedang berada di lift, hanya ada mereka berdua di sana.


"Gak kenapa-kenapa, cuma gak bisa di tinggal Lih bisa rewel si baby." Galih tidak tau kalau bayi dalam kandungan ternyata bisa bertingkah manja seperti itu.


"Syukurlah, nanti saya bantu pantau di sana."


"Sekalian urus pembayaran operasi di EMH, Lih."

__ADS_1


"Siap bos," mereka keluar dari lift setelah terdengar bunyi ting dan pintu terbuka.


Galih selalu takjub dengan bosnya yang dingin ini. Dulu ia pikir Erfan tidak bisa bersikap seperti manusia sewajarnya. Tapi ternyata sang bos sosok yang sangat hangat dan perhatian pada pasangannya.


Erfan membuka pintu ruangannya di sana ada seorang perempuan yang sedang menunggunya dengan tampang sok manis.


"Mas, baru selesai meeting?" Sapa Salwa ramah, Galih meneliti gadis itu dari ujung kepala sampai kaki.


"Galih, bereskan." Titah Erfan dingin, ia malas berurusan dengan gadis itu. Tanpa bersuara Galih langsung menghunuskan tatapan tajamnya pada Salwa.


"Keluar!" Perintah Galih, menarik tangan Salwa kasar.


"Lepas, jangan sentuh gue." Pekik Salwa nyaring, Erfan duduk di kursinya. Ingin sekali ia lenyapkan gadis itu. Sudah ketahuan busuknya masih saja berani datang. "Gue mau bicara sama Erfan, lepas," teriaknya lagi.


"Galih, lepasin." Ujar Erfan datar, nyaris tanpa ekspresi. "Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?"


"Gak ada Mas, aku kangen kamu." Ucapnya manja seraya mendekati Erfan.


Erfan ingin muntah mendengar kata kangen dari Salwa. Betapa jijiknya dia melihat wajah ular itu ada di dekatnya.


"Bee, siapa yang teriak-teriak?" Hira membuka pintu, mendapati Salwa yang berbicara manja pada suaminya.


"Sakit, apaan sih!" Salwa menghempas tangan Hira sampai ibu hamil itu meringis. "Mas dia kasar," adu Salwa manja.


Erfan langsung mendorong tubuh Salwa dengan kasar, mendekati istrinya.


"Mas!" Pekik Salwa geram, karena Erfan membela Hira.


"Tangannya sakit Sayang?" Hira mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Urus dia Galih!" Ucap Erfan murka, ia membawa bayi kangurunya dalam gendongan.


Hira tersenyum, mengejek Salwa. Ia tidak selemah itu, tadi hanya belajar akting. Galih menarik Salwa secara paksa.


Setelah Salwa tidak ada di ruangan lagi, Hira turun dari gendongan Erfan. Masuk ke kamar lalu menutup pintu dengan kasar. Erfan tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang merajuk.


Hira semakin marah karena Erfan tidak membujuknya. Ia kembali keluar kamar, melihat suaminya duduk dengan tenang di depan laptop. Ibu hamil itu melipat tangan di depan dada, bersandar di pintu. Erfan menyadari itu, tapi seolah tidak peduli.

__ADS_1


"Bee, kenapa gak dibujuk sih. Aku kan lagi marah sama kamu. Gak peka banget. Senang disusulin cewek cantik ke kantor. Sana gih tidur sama dia aja." Omel Hira, hormon kehamilan membuatnya susah mengontrol emosi.


Erfan tertawa geli, istrinya sangat menggemaskan bertingkah seperti itu.


"Kamu marah ya Sayang?" Tanya Erfan polos, ingin sekali ia memakan gadisnya ini sekarang juga. Kalau tidak ingat kondisi kandungan sang istri yang sangat rentan, Erfan bisa lepas kontrol.


"Enggak Bee, aku lagi ngamuk ini." Hira memutar bola mata kesal, suaminya tidak peka.


"Ups, Mommy mau apa, hm?" Erfan beranjak dari kursi, membawa Hira dalam dekapan seraya menciumi puncak kepala kekasihnya. "Kalo minta dibujuk bilang dong Sweety, Mas kan gak tau kalo kamu gak ngomong."


"Gak ada orang marah yang lapor dulu biar dibujuk, Bee. Kamu gak peka banget. Emang harus ya kalo marah lapor dulu ke ketua RT, RW, kelurahan, apa perlu sampai ke presiden." Cerocosnya, Erfan sampai mengulum senyum.


"Mau dibujuk yang gimana, hm?" Erfan membawa istrinya masuk ke kamar.


"Ngapain perempuan itu ke sini, Bee." Hira duduk dipangkuan suaminya dengan tangan bergelayut di leher Erfan.


"Mas gak tau Sayang, dia datang sendiri. Apa perlu Mas patahin kakinya biar gak datang lagi?"


Hira menggembungkan kedua pipinya lalu menggeleng pelan. Ia tau suaminya tak pernah main-main. Sosok hangat yang berada di depan Hira ini memiliki sisi yang mengerikan.


"Aku gak suka liat dia di sini."


"Iya Sayang, nanti Mas tutup aksesnya untuk masuk ke sini."


"Aku juga gak suka kalo dia ketemu Mas di luar kantor."


"Iya Sayang, Mas gak akan nemuin dia di luar kantor." Erfan tersenyum, istrinya kalau sedang cemburu sangat menggemaskan. Ia mengusap lembut pipi Hira lalu memberikan kecupan di sana.


"Aku mau Mas batalin semua kerjasama dengan perusahaan yang menaunginya." Erfan membulatkan mata, tidak percaya istrinya kalau cemburu sampai sebrutal itu.


"Gak bisa gitu dong Sayang, Mas harus profesional. Kalau Mas memutus kerjasama sepihak itu bisa merugikan perusahaan kita." Jelas Erfan lembut, "Hira percaya sama Mas kan Sayang? Mas gak punya perasaan apapun sama dia."


Hira memasang wajah cemberut, lalu mengangguk dua kali.


"Gitu dong, istri pintar." Puji Erfan, tangannya mengelus sayang puncak kepala sang istri. "Ini yang manja adek apa Mommy sih?" Selidiknya dengan senyum menggoda.


"Adek." Jawab Hira cepat, malu mengakui kalau memang dirinya yang cemburu.

__ADS_1


"Adek cemburu ya, kalau Daddy diambil tante cantik." Goda Erfan setelah mengecup perut Hira.


"Bee!" Pekik Hira kesal, tidak ikhlas kalau Erfan memuji perempuan itu cantik. Walau memang kenyataannya cantik.


__ADS_2