Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
109


__ADS_3

"Sweety istirahat." Erfan mengingatkan, istrinya seminggu terakhir ini sibuk dengan Healthful Land Project.


"Iya," Hira segera masuk ke kamar. Ia memboyong Yeni ke kantor suaminya agar bisa banyak berdiskusi dengan Galih yang membantu mengurus semua keperluannya. Sedang di yayasan sudah ada Ibu Ratna yang mengurusnya.


Erfan mengikuti istrinya ke kamar, meninggalkan Galih dan Yeni yang masih berdiskusi.


"Bee aku boleh ikut survey lokasi besok." Izin Hira pada Erfan yang ikut berbaring di sampingnya.


"No Sweety." Tolak Erfan tegas, Hira memanyunkan bibirnya. "Capek Sayang, jauh loh ke sana. Biar Galih sama Yeni yang urus."


"Aku pengen jalan-jalan. Nature is healing." Ucapnya dengan wajah puppy eyes, merengek-rengek dipelukan Erfan.


"Enggak Sweety, sekali enggak tetap enggak." Tegas Erfan lagi, "sekali aja kamu dengerin Mas bisa kan Sayang. Itu bahaya buat kandungan kamu."


"Please Bee, please. Sekali ini aja, setelah ini aku bakal nurut sama kamu." Mohon Hira dengan mata berkaca-kaca.


"Oke, terakhir. Setelah ini kamu harus nurut sama aku, gak boleh nakal lagi." Erfan akhirnya mengalah. Ia paling lemah ketika melihat mata jernih itu berubah sendu.


"Janji," jawab Hira dengan cengiran.


"Hm," Erfan memejamkan mata. Tidak baik berdebat dengan Hira, itu akan berpengaruh pada psikis istrinya. Ia lebih memilih mengalah daripada berdampak buruk pada anak mereka.


"Bee, jangan marah." Rengek Hira seraya memainkan bulu mata sang suami.


"Ngantuk Sweety, Mas mau tidur bentar dulu."


"Mas itu marah, bukan ngantuk." Ngotot Hira, tangannya tak berhenti usil mencubiti pipi, hidung dan telinga Erfan.


"Mas beneran ngantuk Sweety." Erfan menangkap tangan sang istri lalu menggigit jemari yang nakal itu.


"Bee, jangan digigit. Sakit." Rengek Hira sambil menangis dramatis. Erfan membuka mata, melongo menyaksikan tingkah ibu hamil itu. Ia menggigit pelan, tidak mungkin menimbulkan sakit. Apa hormon ibu hamil bisa membuat perempuan jadi aneh?


"Cup... cup... jangan rewel Sayang. Mas beneran ngantuk tadi, sekarang udah enggak kok." Bujuk Erfan dengan suara lembut, membawa istrinya dalam dekapan.


Sabar Erfan, enam bulan lagi. Batinnya dengan meringis, baby billionaire lagi rewel.

__ADS_1


Lama tidak ada pergerakan, ia melirik Hira. Istrinya tertidur nyaman dalam dekapan hangat Erfan.


"Semoga Allah selalu menjagamu dan memberikan kesehatan." Erfan mengecup puncak kepala Hira. Ia masih takut istrinya kenapa-kenapa kalau beraktivitas terlalu lelah di luar rumah. Karena kondisi kandungan Hira yang lemah.


Erfan tidak ingin kehilangan buah cinta mereka lagi. Apapun akan ia lakukan untuk menjaga calon anak dan istrinya ini.


***


Mau tidak mau Erfan ikut menemani istrinya survey lokasi untuk Healthful Land Project. Perjalanan jauh sangat beresiko pada kesehatan ibu dan calon anak itu.


"Bee, kram." Rengek Hira, belum sampai separo jalan istrinya itu sudah mengeluh kram perut.


"Kita pulang aja ya Sayang." Bujuk Erfan seraya mengusap perut yang mulai membuncit itu.


"Gak mau, aku mau ikut sampai sana." Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Adek, yang pintar di dalam ya Sayang. Mommy kesakitan kalau adek nakal." Erfan mengendus-endus perut Hira dengan kepalanya. "Tenang ya, anak Daddy pintar." Bisiknya, lalu mengecup lama di perut itu.


"Mommy juga sama, susah dikasih tau." Lelaki itu menarik sang istri dalam pelukan. Mengecup di kepala berulang kali.


"Lanjut aja Lih."


Sepanjang jalan Erfan tak berhenti mengusap perut sang istri. Tubuh yang mulai gempal itu sangat nyaman tidur dalam pelukan suaminya.


Sesekali Hira melenguh, Erfan menenangkan dengan mengusap pipi kekasihnya. Kalau tidak sedang hamil mungkin ia bisa menolak tegas keinginan istrinya ini.


Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih mereka sampai penginapan. Erfan membangunkan istrinya yang tak berhenti tidur sepanjang jalan.


"Come on, baby." Erfan membantu istrinya turun dari mobil. Galih dan Yeni sudah membawa barang-barang ke villa. Kondisi istrinya yang tengah hamil tidak memungkinkan pulang pergi. Jadi ia memutuskan untuk menginap.


"Masih pegel, Bee. Bentar ya." Hira menyandarkan punggungnya yang terasa panas ke jok mobil kembali. Tanpa babibu Erfan menggendong tubuh istrinya ke kamar.


"Mas benar-benar pengen marah sama kamu Sweety." Kesalnya setelah membaringkan Hira dengan nyaman di kasur empuk. "Kalau dikasih tau selalu aja ngeyel."


Perempuan itu hanya diam, memiringkan tubuhnya yang pegal-pegal. Ia sudah janji ini yang terakhir ngeyelan.

__ADS_1


Semarah apapun Erfan tetap tidak tega melihat istrinya seperti ini. Lelaki itu melepas alas kaki dan jilbab istrinya. Setelahnya ia memijat kaki dan punggung Hira dengan pelan.


Diam-diam, Erfan mendengar suara isak tangis. Siapa lagi kalau bukan istrinya. Hormon ibu hamil benar-benar membuat perempuan baperan.


"Ssttt, Mas marah karena sayang sama Rara. Mas gak mau kamu sakit, Sayang." Calon ayah itu memberikan pelukan hangat pada kesayangannya. "Udah ya, berhenti nangisnya. Nanti adek ikutan sedih kalau Mommy nangis." Erfan mengecup lama di kening Hira.


"Bau asem, hm." Goda Erfan sambil menjepit hidungnya.


"Ih, Mas. Aku gak bau cuma keringetan aja." Kesal Hira, masih dengan air mata yang menggantung di sana.


"Mandi dulu yuk Sayang, biar segar. Tidurnya nanti jadi lebih enak." Hira mengangguk, bangun dari tidurannya beranjak ke kamar mandi.


Erfan memijat pelipisnya yang berdenyut. Mengurus ibu hamil selalu melelahkan baginya. Perempuan susah ditebak apa maunya.


Lelaki itu mengambil laptop membawanya duduk ke sofa. Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Erfan memeriksa laporan-laporan yang masuk ke emailnya.


"Bee, boleh jalan-jalan?" Tanya Hira yang baru keluar dari kamar mandi, masih menggunakan kimono.


"Besok." Jawab Erfan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Hari ini, Bee." Rengek Hira dengan suara manja.


"Besok, Sweety." Tegas suami Hira itu lagi, ia masih sibuk dengan kerjaannya.


"Gak mau! Mau hari ini." Kesal Hira karena suaminya berbicara tidak memperhatikannya. Hira merasa terabaikan.


"Mas masih ada kerjaan Sayang."


"Aku mau jalan sama Yeni." Ucap Hira nyaring, terpaksa Erfan harus meletakkan laptopnya terlebih dahulu. Intonasi suara istrinya sudah naik, itu artinya sedang marah.


"Sini." Panggil Erfan dingin dengan tatapan elang yang siap mencongkel mata Hira. Perempuan hamil itu berjalan perlahan mendekati suaminya.


Erfan menarik Hira untuk duduk dipangkuannya. "Ini kalau gak dibikin capek, gak bakalan berhenti ngeyel." Ucapnya lalu membungkam bibir istrinya dengan lembut. Napas mereka beradu dengan detak jantung yang saling bersahutan. Ia tidak memberikan kesempatan untuk istrinya protes.


"Kalau masih ngeyel lagi Mas bikin kamu gak bisa jalan hari ini." Ucap Erfan dingin setelah melepaskan istrinya yang hampir kehabisan napas. Hira menciut, membenamkan wajah di dada bidang sang suami. Suaminya itu sangat mengerikan kalau sudah bersikap seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2