
Keinginan Hira membawa mobil sendiri terwujud. Guntur menawarkan bantuan untuk menjemputnya tapi Hira menolak. Kurang baik apa pria itu padanya.
Siang begini macet, perlu satu jam baru Hira sampai lokasi yang Guntur berikan. Jam setengah sebelas, ia hanya bisa meringis.
Hira langsung menuju ruang yang digunakan untuk penyuluhan. Sesi kedua hampir selesai dilaksanakan.
"Sudah puas tidurnya dr. Hira?" Hira bergidik mendengar ucapan Erfan yang terdengan dingin namun mampu mengintimidasinya. Ia harus bersikap tenang jangan sampai terlihat gentar.
"Maaf terlambat." Kata Hira tenang, walau Erfan pasti tidak akan memaafkannya.
"Sana pulang, kami tidak perlu dokter seperti anda. Tidak bisa diajak kerja sama." Oh shitt, tenang Hira tenang.
"Lo sehat Ra?" Guntur menyelidik penampilan Hira sangat jelas terlihat wajah cantiknya sedang kelelahan. Mereka sekarang sedang berada di sebuah ruangan, sudah jam istirahat. Karena menunggu Hira penyuluhan ditunda setengah jam, ternyata empunya baru datang setelah sesi kedua hampir selesai.
"Sehat Guntur, sana berangkat makan siang dulu." Kata Hira saat menyadari Erfan melenggang pergi meninggalkan ruangan. "Gue di sini aja, oke." Hira menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran dengan tersenyum. Guntur mengangguk, bingung harus bersikap seperti apa sekarang. Zaky membuat posisinya serba tidak enak.
Hira baru tau ini adalah perusahaan milik Abi Nazar, PT. Aydan Jaya Abadi. Adnan dan Ken masuk ke ruangan bersama Erfan dan Ken yang baru selesai makan siang. Dua pria tampan itu sangat berwibawa berbeda dengan lelaki yang sedang berdiri di depannya ini.
"Dokter Hira tidak ikut makan siang?" Tanya Adnan.
"Sudah tadi sebelum berangkat." Bohong Hira, ia makan hanya subuh tadi.
"Ayo kita lanjut," ajak Adnan pada Hira.
"Biar dia nunggu di sini Nan." Ucap Erfan datar, Hira tersentak kaget ternyata ia benar-benar tidak dibutuhkan sekarang. Adnan mengkerutkan alis, Erfan sudah berjalan lebih dulu bersama Guntur, mengikuti Ken.
"Gak papa pak, saya nunggu di sini aja. Kalau acara sudah siap baru saya masuk." Hira mengatakannya dengan tenang, Adnan mengangguk lalu meninggalkannya.
__ADS_1
Boleh gak sekarang kalau Hira merasa sakit hati karena tidak dianggap. Ia gak cuma tidur kok, tadi malam cuma Hira sendirian yang kerja. It's okay, masih bisa sabar kok. Setelah sepuluh menit berlalu, Adnan menghampirinya kembali mengajak ke tempat yang sudah di siapkan.
Hira melihat ratusan orang berada disebuah lapangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis. Banyak dari kalangan masyarakat. Sama seperti hari kemaren tenda-tenda itu penuh.
"Ngapain anda masih di sini, pulang!" Bentak Erfan dengan suara tinggi, emosinya meluap-luap saat melihat wajah Hira ada di depannya. Mereka berada dalam sebuah ruangan yang akan digunakan untuk penyuluhan. Di sini juga ada Adnan dan Ken selain Guntur.
"Jangan bersikap kekanakan Pak, tidak ada waktu untuk bertengkar sekarang." Hira menatap tajam Erfan, bendera permusuhan dikibarkan. Sudah cukup ia diam saat Erfan semena-mena.
"Kekanakan? Saya atau kamu yang kekanakan. Datang jam setengah sebelas siang." Erfan mengepalkan tangannya menahan marah, karena Hira berani menantangnya.
"Oh ya, apa saya yang kekanakan? Siapa yang membuat saya harus begadang tadi malam setelah ANDA menghapus semua data yang saya kerjakan. Anda cuma TIDUR dengan pulas. ANDA ingat itu PAK ERFAN." Hira mengucapkan setiap kata dengan nada berapi-api. Moodnya sudah hancur sekarang, emosinya sudah sampai di ubun-ubun membuat kepalanya berasap.
Adnan dan Ken menyaksikan perdebatan dua orang di depannya geleng-geleng kepala. Sedang Guntur hanya bisa memijat pelipis, puyeng menghadapi dua orang yang sama emosionalnya.
"Lebih baik anda pulang atau saya yang pulang!" Wow lagi-lagi Hira diusir sekarang, hilang sudah harga dirinya di depan Erfan.
"Kalian bisa bersikap profesional, apa kalian pikir Pak Emran main-main dengan program ini." Guntur membungkam mulut dua orang yang sekarang sedang sama-sama panas. Tangan Hira masih dicekalnya. "Tunjukkan kalau kalian bisa melakukan tugas dengan baik. Ingat Erfan, tidak ada yang mau mengosongkan hotel lagi untuk tanggal 21 kecuali lo mau mengeluarkan biaya yang fantastis untuk hal yang tak penting itu."
"Oke, lo selalu punya senjata buat gue melemah Guntur." Erfan tersenyum mengejek.
"Tentu, itulah gunanya gue ada di sini." Guntur balas tersenyum miring.
"Aneh lo Fan." Tiga kata yang keluar dari mulut Ken membuat Erfan menoleh ke sumber suara. "Masalah pribadi jangan dibawa-bawa. Lo sudah bukan anak TK lagi." Sambungnya, Erfan memutar bola mata malas.
"Lo gak tau apa-apa jangan ikut campur." Geram Erfan, Ken tersenyum miring.
"Duduk." Titah Adnan, sontak tiga orang di depannya menurut duduk di kursi yang digunakan khusus untuk panitia. Beruntung acara masih belum dimulai setelah istirahat tadi. "Kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Tidak perlu membentak seperti itu Erfan. Ini bukan wilayah lo, gak malu apa kalau sampai orang lain yang dengar."
__ADS_1
Kalau boleh jujur sekarang Hira yang sangat malu karena sudah diusir dan dibentak Erfan. Tapi ia harus bersikap tenang dan profesional. Boleh marah nanti kalau sudah sampai kamarnya sendiri, lalu berteriak puas dalam kamar mandi.
"Guntur, lo aja yang di sini sama dia. Gue keruangan Adnan aja." Akhirnya Erfan mengalah juga, Hira berhasil membuatnya malu hari ini. Ada harga yang harus perempuan itu bayar.
"Oke, lo ademin tuh hati dalam kulkas dulu biar gak terbakar terus." Ejek Guntur, saat Erfan beranjak mengikuti Adnan keluar ruangan.
"Ada masalah apasih sama dr. Hira sampai berapi-api begitu?" Tanya Adnan setelah sampai di ruangannya. Erfan tidak bisa menjawab, salah Hira karena sudah muncul dalam hidupnya dan membuat Erfan terusik. Itu jawabannya, kalau itu yang dikatakannya pada Adnan sudah pasti ia akan ditertawakan.
"Jangan terlalu membenci Erfan!"
"Nanti jatuh cinta," Erfan melanjutkan ucapan Adnan, "bulshit dengan kalimat yang dianggap keramat itu."
Adnan geleng-geleng kepala, "lo beneran harus ke psikiater deh Fan. Bahaya kalau gak bisa ngendaliin emosi seperti ini."
"Gue sehat Adnan, gue sehat!" Sela Erfan lantang.
"Gak ada yang bilang lo sakit Erfan, cuma jiwa lo sedikit terganggu aja." Adnan tersenyum smirk
"Capek ngomong sama lo Nan, bikin kepala gue tambah panas." Adnan memberikan sekaleng minuman soda dingin, Erfan menyambutnya dengan malas.
"Kalau capek istirahat, bukan marah-marah. Bikin energi tambah habis terkuras. Kurang istirahat bikin kepala tambah semrawut. Otak lo overload akhir-akhir ini makanya seperti itu."
"Kepala gue mau pecah Nan sekarang."
"Gunakan waktu yang ada ini buat lo tidur, rilekskan pikiran." Adnan menghidupkan murotal yang mengisi ruangannya dengan alunan merdu ayat suci Al-Qur'an. "Nasya akan tidur nyenyak kalau mendengar ini, siapa tau berlaku juga buat lo biar hati tambah adem."
"Gue kangen Nasya, kangen Key." Gumam Erfan, berapa hari sudah ia belum bertemu dengan dua malaikat kecil itu.
__ADS_1
"Kalau lo sudah senggang nanti tengokin." Adnan beranjak dari sofa membiarkan Erfan membaringkan tubuhnya. Erfan tak menjawab hanyut dalam pikirannya. Tidak berapa matanya terlelap. Amarah yang tadi meluap sudah mereda. Ia juga tak mengerti kenapa sebenci itu pada Hira, sampai membentaknya di depan orang lain.