
"Happy Anniversary Sweety." Ucap Erfan saat Hira membuka mata di pagi hari. "Ini hadiah buat kamu." Ujarnya setelah memberikan satu kecupan singkat di bibir.
"Makasih Bee." Hira menyunggingkan senyuman yang paling manis, walau pagi ini badannya terasa sakit.
"Kamu kenapa Sayang?" Erfan memeriksa suhu tubuh istrinya, tidak panas.
"Badanku pegal-pegal Bee."
"Kita ke dokter ya," ajak Erfan.
"Enggak, mau tiduran aja."
"Sholat subuh dulu Sayang, baru tiduran lagi." Erfan membantu istrinya bangkit dari tidur. Hira bangun dengan malas, beranjak ke kamar mandi.
Gagal rencana Erfan memberikan surprise kalau istrinya sakit.
Usai sholat subuh Hira kembali meringkuk di kasur. Ia malas melakukan apapun, kasur jadi tempat ternyamannya.
"Kamu gak ada haid dari pertama kita ketemu Sweety." Erfan memastikan, ia hapal jadwal istrinya. Karena setiap malam belum pernah libur berkunjung. Kecuali Hira merasakan tidak enak badan, baru ia meliburkan diri dengan sangat terpaksa.
Hira mengangguk, ia memang sudah telat beberapa minggu. Tapi baru akhir-akhir ini merasakan badannya lemas. Ia sengaja tidak periksa tapi tetap memperhatikan asupan gizi dan minum vitamin rutin.
"Kita hari ini ke dokter Sayang, Daddy mau lihat adek." Hira hanya berdehem menanggapinya.
"Adek pintar-pintar di perut Mommy ya Sayang." Erfan menciumi perut istrinya membuat Hira geli sendiri.
"Bee, aku belum periksa. Hasilnya belum pasti." Ia mengingatkan, tidak ingin Erfan kecewa karena terlalu berharap berlebihan.
"Gak papa Sayang, aku yakin adek lagi pengen diperhatikan makanya kamu sakit." Ujarnya sangat yakin, membawa tubuh Hira dalam dekapan hangat. Hira tak menyahut, ia kembali melanjutkan tidur.
Erfan membuka tirai jendela, matahari sudah bersinar terang benderang. Istrinya belum juga bangun. Ia sudah menyiapkan semangkok bubur, segelas susu cokelat hangat dan buah-buahan. Yang biasanya susu promil, Erfan ganti menjadi susu bumil.
Pagi-pagi Erfan sudah menyambangi minimarket dan apotik demi menjawab rasa penasarannya.
Kalau benar Hira hamil, sungguh kado terindah diusia pernikahannya yang baru menginjak satu tahun pertama ini. Ia berdoa agar bisa selamanya hidup bersama sang istri.
"Bee, silau." Rengek Hira seraya mengerjap-ngerjap.
"Sudah jam sepuluh Sayang, kamu mau tidur sampai sore." Sambut Erfan dengan senyuman hangat.
"Hah, kamu gak kerja Bee." Pekiknya lalu bangun dari tidur sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
__ADS_1
"Kamu sakit, mana bisa aku ninggalin kamu. Ayo cuci muka dulu baru sarapan." Erfan menggendong istrinya ke kamar mandi. "Apa mau sekalian mandi Sayang."
"Iya Bee, mandi aja."
Lelaki itu menurunkan Hira di kamar mandi. "Aku siapin pakaian ganti, tapi coba ini dulu." Erfan memberikan testpack ke tangan istrinya lalu keluar kamar mandi. Hira menurut sesuai instruksi suaminya. Lalu berendam di bathtub sambil menunggu hasil dari benda ajaib itu.
"Jangan lama-lama berendam Sayang." Ujarnya kembali ke kamar mandi. Dengan telaten Erfan memandikan dan memasangkan pakaian Hira. Lalu menggendongnya ke kamar. Tangannya sibuk mengeringkan rambut sang istri kemudian menyisirinya.
"Sekarang waktunya makan, Sweety." Erfan tak mengizinkan Hira memegang apapun. Ia dengan sigap melayani istrinya.
"Bee, tangan aku masih berfungsi dengan baik kalau kamu lupa." Protes Hira, ia seperti orang sakit keras yang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Udah, jangan cerewet Sayang. Nurut aja sama Mas." Erfan mengelus sayang rambut Hira, lalu mengecup singkat di kening. "Kamu itu manis banget kalau nurut gini, kita gak perlu menghabiskan tenaga untuk berdebat."
"Pintar." Puji Erfan seraya mengusap puncak kepala Hira setelah perempuan itu selesai makan dan minum susu. "Kalau lapar lagi nanti nyemil buah."
Hira memutar bola mata jengah, ia diperlakukan seperti orang cacat saja.
Erfan mengacuhkan raut wajah kesal istrinya. Ia kembali ke kamar mandi mengambil testpack dan melihat hasilnya. Bibirnya mencetak garis melengkung ke atas dengan mata berkaca-kaca. Erfan terharu dan sangat bahagia.
"Terimakasih Sayang." Lelaki itu memeluk istrinya sangat erat dan hati-hati. Lalu beralih ke perut sang istri. "Sehat-sehat di dalam Sayang. Daddy tunggu di sini." Erfan melabuhkan kecupan sayang di sana.
"Alhamdulillah." Ucap Hira setelah melihat garis dua di benda ajaib itu. Ia juga sangat terharu, Allah secepat ini memberikan mereka kepercayaan lagi.
"Apa?" Tanya Hira antusias.
"Nanti Daddy kasih tau kalau sudah pulang dari rumah sakit."
"Kalo gitu hayoo sekarang kita ke rumah sakit." Ajak Hira semangat, Erfan mengernyit sampai keningnya bertaut.
"Tadi katanya masih pusing, badannya pegal-pegal. Gak mau istirahat lagi." Ujar Erfan menggoda.
"Gak mau, mau lihat hadiahnya."
"Kan masih sakit Sayang, nanti pingsan." Erfan tersenyum mengejek.
"Kan ada yang gendong." Ucap Hira tak mau kalah.
Usai berdebat Erfan membawa istrinya untuk cek kandungan. Tubuh yang terlihat lemas itu masih saja pura-pura kuat.
Tak segan-segan Erfan menggendong istrinya keluar dari rumah sakit. Sesuai hasil USG usia kandungan Hira memasuki minggu kelima.
__ADS_1
"Bee, malu." Hira membenamkan wajahnya di bahu kekar sang suami.
"Tutup matanya Sweety. Mas gak mau kamu jatuh pingsan."
"Ih Mas lebay deh, aku cuma lemas."
"Jangan bawel bisakan Sayang." Erfan mengabaikan tatapan orang-orang, saat ia memasuki lift. Bayi kangurunya seperti anak kecil yang sedang merajuk merengek-rengek di bahu Erfan minta diturunkan.
"Ingat kata dokter kandungan kamu masih lemah jadi harus hati-hati dan banyak istirahat."
Hira memutar bola mata jengah. "Aku juga dokter, Bee."
"Iya, aku tau kamu dokter Sayang." Erfan membuka pintu mobil, mendudukkan istrinya perlahan. Kemudian melajukan mobil menuju komplek perumahan elit yang berdampingan dengan komplek kediaman Hardiyata.
"Ini hadiah buat kamu Sayang." Ucap Erfan setelah memarkirkan mobilnya di carport.
"Serius Bee, ini rumah kita." Hira menatap takjub bangunan dua lantai yang mengadopsi gaya desain rumah Tropis. Rumah di hadapannya ini sangat elegan dan cantik dengan dominasi cat warna putih pada dinding eksteriornya.
Balkon besar dan balkon kecil di lantai dua membuat rumah itu semakin keren. Suaminya memang selalu mengagumkan, Hira akui itu. Jendela kaca besar model vertical dan atap rumah model limasan menambah kesan mewah.
"Yes Sweety, ayo masuk." Erfan menggenggam tangan Hira masuk ke rumah besar itu. Mereka disambut Bi Atun. Erfan masih mempekerjakan perempuan paruh baya itu.
"Rumah ini sudah siap dipindahi Sayang."
"Makasih, Bee." Hira melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Setelah menyapa asisten rumah tangga yang selalu setia dengan keluarga mereka itu.
"Ayo Bibi ajak keliling." Sambut perempuan paruh baya itu dengan hangat.
"Gak usah, Bi. Biar sama saya aja. Bibi bisa istirahat." Tolak Erfan sopan, "ayo keliling Sayang." Ujarnya setelah berhasil membawa Hira dalam gendongan.
Selesai mengajak Hira berkeliling area rumah Erfan membawa istrinya ke lantai dua. Ada tiga kamar di sana. Selain itu, lantai atas juga ada gazebo, area rooftop, tempat untuk santai dan ruang fitness.
"Besar banget rumahnya, Bee."
"Kita akan tinggal di sini sama anak-anak kita Sayang. Jadi harus besar." Ujar Erfan, "sekarang kita ke kamar." Lelaki itu membawa Hira ke ruang kamar utama yang ada di lantai satu.
"Kalau kamu hamil susah naik turun tangga, jadi Mas buat kamar kita di lantai satu." Jelas Erfan, kamar utama memiliki akses langsung ke teras belakang rumah dengan view taman dan kolam renang.
"Gimana?" Tanya Erfan setelah menunjukkan semua area rumah pada sang istri.
"Amazing, kejutan banget Bee. Terimakasih Sayang." Hira berjinjit memberikan kecupan di pipi Erfan.
__ADS_1
"Aku senang kalau kamu suka." Lelaki itu membawa istrinya dalam dekapan. "Ada satu kejutan lagi Sayang."