Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
90


__ADS_3

Selain memiliki perusahaan yang bergerak dibidang teknologi Keluarga Hardiyata juga memiliki perusahaan yang bergerak dibidang properti. Perusahaan itu sekarang dikelola oleh adiknya. Hanya saja yang lebih dikenal luas Digitech Indonesia.


Sebelum mendirikan Digitech, perusahaan properti itu dikelola Hardiyata. Persaingan bisnis saat itu sangatlah ketat. Lelaki itu berhasil memenangkan satu proyek besar yang diincar para pengusaha tanah air.


Salah satu rival bisnisnya yang tak menerima kekalahannya adalah Wijaya. Karena selain rival bisnis lelaki itu juga rivalnya dalam mendapatkan seorang gadis. Wijaya semakin tidak terima saat gadis yang menjadi incarannya menikah dengan Hardiyata. Sejak saat itu perang dimulai tanpa Hardiyata ketahui.


Di sebuah rumah sakit besar dihebohkan dengan hilangnya seorang bayi laki-laki yang baru berumur dua hari. Saat itu ibu kandungnya masih mengalami kritis pasca melahirkan karena mengalami pendarahan hebat.


Wijaya tersenyum puas saat tersiar kabar istri Hardiyata hampir gila karena kehilangan anaknya. Anak yang ia culik itu sudah dirawatnya sendiri setelah diambil dari panti asuhan. Wijaya tidak akan menyia-nyiakan anak yang dilahirkan oleh wanita yang sangat dicintainya.


Anak dari pernikahannya dengan Reny—perempuan yang Wijaya nikahi karena perjodohan, ia titipkan pada adiknya Wisnu. Yang sudah lebih dulu menikah tapi belum memiliki keturunan.


Reny awalnya tidak setuju dengan rencana Wijaya. Tapi akhirnya luluh juga dengan bujukan lelaki itu. Mereka menyayangi anak Hardiyata seperti anak kandung sendiri. Merawatnya dengan baik, tak membedakan kasih sayang yang mereka berikan.


Wijaya tersenyum setelah selesai menceritakan. Entah Erfan harus marah atau bersikap bagaimana sekarang. Orang yang merawatnya sejak bayi sampai dewasa itu sudah diringkus polisi.


"Papi bangga, karena anak yang Papi besarkan menjadi lelaki yang hebat." Puji Wijaya, dia tidak merasa sakit hati walau sudah tertangkap. Karena selama tiga puluh dua tahun ini berhasil membuat Hardiyata menderita. Dan sekarang ia bisa melihat putra Hardiyata itu rapuh dengan kepergian istrinya.


"Sebuah kehormatan bagiku bisa membuat orang terhebatku mendekam dibalik jeruji." Erfan tersenyum miring. "Bahkan tidak hanya Papi, tapi sekaligus dengan dua anak-anak Papi. Mungkin itu cukup untuk membalaskan rasa sakit ayah dan ibuku." Lanjutnya dengan raut yang tak terbaca.


"Bagaimana rasanya kehilangan istri kesayangan?" Tanya Wijaya, tak terpancing dengan perkataan anak yang sudah dibesarkannya.


"Bagaimana rasanya kehilangan segalanya?" Erfan balik bertanya, "anak, istri, uang dan kebebasan."


"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat Hardiyata menderita dan kamu merana." Jawab Wijaya tenang, Erfan mengangguk.


"Kemana saja aku sampai tertipu oleh topeng kalian selama puluhan tahun ini." Ucap Erfan penyuh penyesalah, "ah, tapi aku yakin kalian sangat menyayangiku sampai lupa kalau aku adalah anak dari rival Papi."


"Aku sangat berterimakasih dengan ketulusan cinta kalian selama ini." Lanjut Erfan lalu meninggalkan Wijaya yang bergeming di tempat.

__ADS_1


Pengakuan itu membuat hati Erfan terkoyak. Selama puluhan tahun orang yang ia panggil papi sengaja membuat ayah dan ibu kandungnya menderita. Sekarang Wijaya puas melihat ia menderita karena kepergian Hira.


Erfan kembali ke rumah setelah pulang dari rumah tahanan. Tiga bulan sudah ia tinggal di rumah mewah ini tanpa sang istri. Erfan masih melalukan pencarian pada istrinya itu, namun belum ada hasil.


"Kamu gak ke kantor, Sayang?" Tegur Btari melihat anaknya menghempaskan tubuh di sofa.


"Malas Mah, habis ketemu Papi di penjara."


"Mama buatin kopi ya." Ujar wanita paruh baya itu langsung beranjak ke dapur. Erfan mendapatkan begitu banyak curahan kasih sayang selama di rumah ini.


"Kalian sempat bicara?" Tanya Btari setelah meletakkan kopi yang masih mengepul di atas meja, Erfan mengangguk.


"Begini ya Mah rasanya kehilangan. Pasti Mama dulu sedih banget waktu kehilangan Erfan. Udah usaha nyari kemana-mana tapi gak ketemu juga." Ucap Erfan sendu, seluruh tenaga sudah ia kerahkan untuk menemukan istrinya. Tapi belum ada hasilnya juga.


"Namanya sedang kehilangan pasti sedih, Sayang." Btari mengusap lembut pipi putranya. Ia mengerti perasaan anak semata wayangnya yang sedang kehilangan istri ini.


"Tapi Mama berusaha bangkit karena kasihan sama Papa yang sedih melihat kondisi Mama." Lanjutnya, Erfan bersandar di bahu Btari, menggenggam erat tangan sang mama lalu menciuminya.


***


Untuk menghilangkan rasa bosan, Erfan menghabiskan waktunya bersama bayi yang baru belajar melangkah itu. Juga ditemani gadis kecil yang sudah lincah mengoceh. Lelaki itu ikut berguling di karpet bermain bersama baby Key dan Nasya.


"Pencarian Hira belum ada hasilnya Fan?" Tanya Nazar yang baru bergabung di ruang keluarga.


"Belum Bi." Sahut Erfan pasrah sambil berbaring di lantai dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.


"Sudah dicari ke rumah orang tuanya, Fan?"


"Sudah Bi, nggak ada di sana juga." Erfan tidak mendatangi rumah orang tua Hira, hanya menyelidikinya dari Ressa.

__ADS_1


"Di Balikpapan mungkin?" Adnan ikut bergabung dalam obrolan.


"Udah gue kirim orang ke sana. Gak ada juga." Ujar Erfan bangkit dari tidurnya lalu bergabung di sofa.


"Kusut banget gitu muka yang lagi ditinggal istri." Ledek Elvina, Erfan tak menanggapi. Menyandarkan punggung ke sofa. Kalau dihitung-hitung sudah hampir enam bulan ia jauh dari Hira. Apa istrinya itu baik-baik saja sampai tak ada kabar seperti ini.


Ummi yang ikut prihatin hanya mengusap lengan Erfan. Tidak tau bagaimana cara menolong lelaki itu.


"Akhir pekan kami mau ke Bandung, mau ikutan?" Ajak Ken. "Refresh dulu otak lo itu biar gak ngelag."


"Nggak ah, kalian pasti cuma mau ngajak Nasya ke kebun strawberry." Jawab Erfan malas, gadis kecil itu sangat suka buah strawberry, hampir setiap hari merengek mau diajak memetik buahnya langsung. Baru juga bisa ngomong sudah lancar rengekannya.


"Namanya juga sayang anak Fan." Jawab Attisya sewot.


"Gue sayang istri juga gak bisa jaga." Ujar Erfan tersenyum miring, mengejek dirinya sendiri.


"Makanya punya istri jangan disia-siain." Elvina berujar ketus.


"Sayang!" Tegur Ken, lalu menggeleng dua kali. Elvina langsung kicep. Bukan saat yang tepat bercanda seperti itu. Sahabatnya sedang berduka setelah berbulan-bulan melakukan pencarian namun istrinya tak ditemukan juga.


"Sudah bertemu Guntur?" Tanya Adnan, Erfan hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia merasa malu bertemu temannya itu karena sudah menuduh yang bukan-bukan. "Temui sana minta maaf, jangan gengsi. Lagian Guntur gak salah." Saran lelaki itu, yang dikasih tau tak merespon.


Susah menasehati orang yang lagi patah hati. Bikin makan hati sendiri. Erfan memang tak bertemu Guntur, tapi Hardiyata yang selalu berhubungan dengan lelaki itu. Meningat kediaman mereka juga berdekatan.


Erfan memijat pelipisnya yang berdenyut, matanya sudah mulai mengantuk.


"Masih konsumsi obat tidur?" Selidik Ken.


"Yah, gue gak bisa istirahat kalau gak minum obat." Ujarnya, sebelum berangkat tadi Erfan sudah minum obat. Sekarang reaksinya baru terasa.

__ADS_1


"Kamu ke psikolog, Nak. Gak baik minum obat tidur terus menerus nanti ketergantungan." Saran ummi, sudah berbulan-bulan lelaki yang sudah dianggapnya anak ini mengkonsumsi obat tidur.


"Belum siap mental Mi, malu." Ujar Erfan lalu beranjak menuju kamar. Anggap saja rumah sendiri, ia pamit tidur duluan. Hanya dengan bantuan obat Erfan bisa memejamkan mata.


__ADS_2