Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
71


__ADS_3

Seorang pria paruh baya masuk ke ruangan Erfan diikuti sang asisten. Baru kali ini Erfan bertemu dengan pemilik Digitech itu secara langsung. Selama ini hanya asistennya yang menghadiri meeting. Ia dibuat terpana, karena ada hal yang berbeda saat Erfan menatapnya. Di samping Hardiyata ada Ikbal, asistennya yang masih seumuran dengan Erfan.


"Wah... wah... wah... Jarang-jarang ada bos yang mau momong istrinya di kantor." Goda Hardiyata, takjub melihat anak muda di depannya ini. Anak muda itu dengan sabar membujuk istrinya.


"Maaf Pak, gak mau dilepas." Ucap Erfan pelan, takut istrinya tambah merajuk. "Silahkan duduk dulu Pak," lanjutnya.


"Gak papa. Dulu istri saya waktu hamil juga seperti ini. Mungkin kalau masih ada anak saya sudah seumuran kamu." Ujar Hardiyata sendu mengenang putra tunggalnya. Erfan hanya tersenyum menanggapi.


"Sweety, turun dulu ya kenalan gih sama Pak Hardiyata." Bujuknya, berharap Hira segera sadar. Ressa dan Ikbal sudah menyiapkan berkas yang akan mereka bicarakan siang ini.


Hira menyeka air matanya lalu turun dari gendongan Erfan. "Pintar," puji Erfan, "mau di kamar apa di sini."


"Di sini." Cicitnya, Erfan mengangguk membawa istrinya menuju sofa.


"Pak Hardiyata, ini Hira istri saya." Hira spontan menyalami pria paruh baya itu lalu mencium punggung tangannya. Tak sengaja matanya bertabrakan dengan mata tua itu.


"Bee." Hira menatap lekat suaminya, lalu menatap Hardiyata kembali, "kalian mirip." Gumamnya pelan, yang masih bisa di dengar. Ressa ikut memandang dua orang itu, memang benar mereka sangat mirip.


"Kamu sangat pintar, Sayang." Hardiyata mengusap puncak kepala Hira, tidak ada yang mengerti dengan ucapan itu.


***


"Pak, boleh saya bertanya hal pribadi?"


Hardiyata mengangkat sebelah alisnya, ada hal apa yang membuat asistennya ini sampai menanyakan hal pribadi. Asisten yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, karena dia tak memiliki anak.


"Apa yang mengganggu pikiranmu Ikbal. Tanyakan!" Katanya tenang, tak merasa terganggu dengan kelancangan asistennya. Ia merupakan sosok pemimpin yang hangat dan mengayomi. Tak salah jika perusahaannya berkembang sangat pesat.


"Minggu lalu saya menghadiri peresmian EXTNET Indonesia, saat Bapak di luar negeri. Tapi ada hal yang membuat saya penasaran, maaf jika nanti menyinggung perasaan Bapak."


"Katakan!"


"Apa Bapak benar tidak mempunyai anak?" Hardinata tertawa kecil, lalu menepuk pundak Ikbal.


"Ikbal, Ikbal. Kamu lihat sendirikan kalau saya hanya bedua dengan istri saya dari dulu." Ikbal mengangguk, dia tau itu. Rumah besar itu hanya diisi dua orang dan asisten rumah tangga.

__ADS_1


"Pimpinan EXTNET itu sangat mirip dengan Bapak." Hardiyata tidak mengelak, tubuhnya menegang. Apa bernar yang Ikbal katakan itu? Membuatnya bertanya-tanya dalam hati. "Lihat foto ini, Pak." Ikbal memberikan ponselnya, foto yang sempat ia ambil saat pimpinan EXTNET memberikan sambutan. Lelaki itu tidak segan merangkul pinggang istrinya di depan para undangan.


"Buat kerjasama dengannya, agar saya bisa bertemu mereka langsung, Ikbal. Dan berikan informasi anak muda ini pada saya segera." Ikbal mengangguk, lalu meninggalkan ruangan atasannya.


Benarkah anak itu putranya yang hilang tiga puluh dua tahun yang lalu. Benarkah anak kandungnya masih hidup. Sejak dua puluh tahun yang lalu Hardiyata menyerah mencari putranya. Karena salah satu panti asuhan yang diselidiki menerima seorang bayi yang sangat mirip dengan putranya mengatakan kalau bayi itu sudah meninggal.


Setelah pertemuan siang tadi Hardiyata memiliki secercah harapan baru. Berharap anak itu benar putra tunggalnya yang hilang.


***


"Bee, aku kepikiran Pak Hardiyata." Sampai rumahpun istrinya masih memikirkan itu. Walau Erfan sebenarnya juga kepikiran.


"Sweety, manusia di belahan dunia ini banyak yang mirip, Sayang."


"Bukan itu Bee, kamu gak akan ngerti dengan apa yang kurasakan."


Apa perempuan hamil semuanya peka seperti itu, batin Erfan.


"Kamu ingat surat yang kamu sembunyikan itukan Bee, kamu bukan anak kandung Mami Reny dan Papi Wijaya 'kan, Bee. Aduh, susah aku jelasinnya." Ujar Hira frustasi, "bukan tanpa alasan aku ngomong gini." Katanya lagi.


"Tadi beliau bilang, mungkin kalau masih ada anak saya seumuran kamu. Saat aku bilang kalian mirip, beliau malah muji aku. Kenapa gak kucuri aja tadi satu ubannya buat test DNA. Nyesel deh jadinya gini."


Erfan tertawa geli mendengar ocehan istrinya ini.


"Tunggu Bee, darimana Pak Hardiyata tau kalau aku hamil. Beliau pasti sudah menyelidiki seluk beluk kamu sebelum datang. Coba tanya perusahaan mana yang pernah beliau datangi selain kamu. Adanya juga perusahaan lain yang berbondong-bondong mengemis kerjasama pada mereka." Cerocos Hira dengan menggebu-gebu.


"Kamu kok cerdas banget sih Sayang kalau gak lagi manja." Bukannya menanggapi, Erfan malah menggoda. Dalam hati ia juga membenarkan semua perkataan istrinya yang belum terpikirkan olehnya.


"Bee, aku bukan dokter Hira kalau gak cerdas. Kalau gak guna nih kepala aku sudah jadi kambing congeknya mak lampir." Gelak tawa Erfan mengisi kamar.


"Tapi kalau lagi manja, minta ampun deh."


"Bee, aku manjanya cuma sama kamu." Ujar Hira cemberut masam.


"Iya-iya, aku suka kamu manja kok." Bujuk Erfan, "Sayang kita nginap di rumah Ummi yuk, lama gak ke sana."

__ADS_1


"Hayoo... Gak usah ganti baju ya Bee."


"Iya, pakai jaketnya aja."


Ada yang harus Erfan pastikan, mungkin Abi Nazar tau sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melangkah maju. Jika ancaman itu benar adanya, bisa saja Pak Hardiyata dalam bahaya.


Sesampainya di rumah Abi Nazar, istrinya itu langsung sibuk bermain dengan baby Key dan Nasya. Erfan sudah tak dianggap ada lagi. Di rumah ini setelah sholat isya mereka berkumpul di ruang keluarga, itu sudah menjadi rutinitas.


"Abi kenal dengan Pak Hardiyata?" tanya Erfan, setelah obrolan-obrolan hangat bergulir.


"Pemilik Digitech?"


"Iya Bi."


"Tau, cuma gak kenal dekat. Pernah beberapa kali tidak sengaja bertemu."


"Beliau punya anak, Bi?" Erfan meminum teh hijau nomor satu buatan ummi, sambil mengawasi istrinya yang bermain di karpet bersama anak-anak.


"Setau Abi gak punya anak."


"Hardiyata yang dulu kehilangan putranya itu, Bi?" tanya ummi, abi mengangguk.


"Putranya hilang, Bi?" Hira memberikan Key pada Elvina lalu duduk di samping suaminya. Mungkinkah apa yang ada dipikirannya memang benar. Hati dan perasaannya saat ini benar-benar sinkron.


"Iya, kabarnya dulu diculik. Tapi tak pernah ada kabar ketemu. Itupun kabar angin gak tau kebenarannya." Jelas Abi


"Hardiyata yang ini, Bi?" Ken menunjukkan fotonya setelah mencari di google. Sungguh ia sangat penasaran, kenapa Erfan tiba-tiba membahas orang itu.


"Iya." Kata abi setelah menatap lekat fotonya. Adnan juga ikut penasaran, merebut ponsel Ken. "Kenapa bisa mirip lo, Fan? Apalagi foto waktu mudanya ini, bagai pinang dibelah dua kalau kata pepatah." Tak mau kalah ummi merebut ponsel di tangan Adnan. Jadilah mereka rebutan ponsel milik Ken.


"Mi, hati-hati apple kegigit punya Ken itu mahal." Ringisnya melihat ummi yang sangat antusias merebut ponsel di tangan Adnan. Hampir saja terjatuh.


"Kamu bisa beli sepuluh yang begini." Ummi menenteng dengan enteng ponsel Ken yang di jepit jari telunjuk dan jempol lalu di goyang-goyangkan.


"Mubajir Mi." Ken mendesah berat, kasihan ponselnya yang keluaran terbaru itu kalau harus berakhir celaka di tangan ummi.

__ADS_1


__ADS_2