Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
63


__ADS_3

Erfan sudah bisa melepaskan Hira bekerja dengan perasaan lebiha tenang setelah tertangkapnya Azmi dan Fany. Meskipun ia tidak rela melepaskan dua orang itu, kalau bisa ingin membunuh mereka dengan tangannya sendiri.


"Jangan kelelahan Sweety, nanti aku jemput ya." Erfan mengantar Hira sampai ke depan ruangannya. Istrinya itu sangat keras kepala tidak bisa disuruh diam. Kurang apa Erfan, apapun yang diminta Hira pasti bisa ia dipenuhi.


Rumah?


Mobil?


Perhiasan?


Erfan bisa memberikan semuanya tanpa Hira harus bekerja. Asal jangan disuruh naik balon udara.


Setelah kejadian itu trauma Hira kembali lagi. Istrinya itu tidak mau ditinggal sendirian di rumah. Lebih memilih berada di rumah sakit daripada diam di rumah saat Erfan bekerja.


Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru seperti ancaman bagi Hira. Maminya sering datang mengganggu Hira, mungkin Erfan harus memikirkan membeli rumah baru untuk istrinya itu.


"Bos, ada Mami di depan." Ujar Ressa yang menyembulkan kepala dibalik pintu.


"Suruh masuk Sa."


Apalagi yang maminya inginkan kalau bukan membebaskan Fany. Erfan tidak akan melakukan itu. Cukup sudah Fany mengusik ketenangan hidupnya.


Mami Reny datang dengan wajah sendu, terlihat sekali maminya itu pusing memikirkan Fany. Erfan sudah tak peduli.


"Mami masih punya nyali datang menemuiku?" Erfan menyambut Reny dengan senyuman miring.


"Fan tolong bebaskan Fany dan Azmi."


Mohon Reny duduk di kursi depan Erfan, si empunya hanya bersidekap di depan dada tanpa ekspresi.


"Tidak akan pernah mamiku tersayang. Itu balasan untuk mereka juga Mami yang telah menyakiti Hira."


"Maafkan Mami Fan, Mami mohon bebaskan adikmu."


"Adik? Benarkah dia adikku? Aku mulai ragu sejak Mami menyatakan perang terbuka denganku." Jawab Erfan nyaris tanpa ekspresi.


"Dia benar adikmu Erfan, apalagi yang kamu ragukan."

__ADS_1


"Aku jadi ingin test DNA saking ragunya dengan ucapan Mami. Walau Mami bersujud di kakiku sekalipun, aku tidak akan membebaskan Fany." Erfan berdecak masih dengan raut yang tak terbaca.


"Tega kamu Fan!" Ucap Reny dengan wajah memelas, mau akting bagaimana pun tidak akan berpengaruh untuk Erfan.


"Tega? Mana yang lebih tega, aku atau Mami yang ingin memisahkan rumah tanggaku dengan paksa. Yang setiap hari menyakiti perasaan istriku. Orang yang Mami anggap adikku itu, dengan berani melecehkan istriku di depan mata Erfan sendiri. Sekarang siapa yang lebih tega. Jawab?" Teriak Erfan murka, cukup sudah dia menahan diri agar tidak terpancing amarah.


Reny terdiam, tidak dapat membela diri. Tetesan air dari matanya terjatuh. Ia ingin meminta maaf dan mengatakan kalau sudah menyesal. Tapi mulutnya terlalu angkuh untuk mengatakan itu.


"Sia-sia Mami menangis di sini, aku tidak akan berubah pikiran. Lebih baik sekarang Mami pergi."


Tak menunggu sang mami pergi, Erfan lebih dulu meninggalkan ruangannya. Mana mungkin ia tega melihat ibunya menangis.


Huuhh...


Andai mami tidak menyakiti Hira, tidak akan ia membenci mami seperti ini.


Erfan memacukan mobil menuju kantor Ilmi, tempatnya kabur kalau lagi malas di kantor. Erfan mah bebas mau kerja dari mana.


"Ribut lagi sama ibu suri?" Ilmi berdecak saat Erfan tanpa permisi masuk ruangannya.


Emang ya, tamu tak tau diri si Erfan ini.


"Lo pikir gue panti sosial harus ngejamu orang kaya, seperti lo." Ilmi malas menanggapi Erfan yang mulai geser itu susunan otaknya.


"Sedikit berbaik hati kek sama anak pungut kayak gue, biar nambah pahala amal jariyah."


Kesal, Ilmi bangkit dari kursi kebesarannya menoyor kening Erfan. Ia memesan makanan pada seketarisnya.


"Gitu dong, 'kan jadinya gue betah sembunyi di sini." Erfan terkikik geli mengabaikan wajah kesal sahabatnya.


"Lo betah, gue yang jengah!" Sarkas Ilmi tak membuat Erfan sakit hati, malah membuatnya semakin tertawa. "Lo beneran saraf Fan!" Desis Ilmi.


"Gak masalah saraf kalau bikin gue tambah kaya."


Abaikan Erfan yang sudah tidak waras itu, membuang waktunya saja. Ilmi geleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya ini.


***

__ADS_1


Sepulang dari kantor Ilmi, Erfan langsung menghadiri meeting. Otaknya memang tidak waras kalau memikirkan masalah keluarga. Tetapi masih bagus kalau dibuat mikir urusan bisnis. Ladang cuan tidak bisa diabaikan.


EXTNET Indonesia sedang mengembangkan sebuah aplikasi manajemen bisnis yang bisa memudahkan pengelolaan bisnis secara terintegrasi yaitu Enterprise Resource Planning (ERP).


Erfan menyimak presentasi yang disampaikan Tian mengenai software baru yang akan mereka luncurkan. Ia sangat menyukai dunia teknologi, harusnya Erfan bisa menarik Guntur untuk bergabung bersamanya. Pria yang lebih muda darinya itu juga mencintai dunia teknologi.


"ERP yang kita tawarkan ini menyediakan informasi secara real-time tentang proses bisnis inti perusahaan seperti produksi, order processing, dan inventory management. ERP juga dapat memantau sumber daya perusahaan seperti uang, bahan mentah, kapasitas produksi, dan pegawai.  Sehingga ERP bisa melancarkan arus informasi yang berjalan lintas fungsi di dalam organisasi sampai hubungan dengan para stake holder di luar perusahaan."


"Di jaman sekarang ERP tidak hanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan berskala besar, namun juga telah populer di kalangan UKM." Tian mengakhiri presentasi singkatnya.


"Untuk promosi, strateginya sudah disiapkan?" tanya Erfan pada manager marketing. Manager marketing mengangguk, lalu menjelaskan.


"Mengingat sekarang banyak perusahan yang menerapkan Work from home (WFH)  di tengah situasi pandemi virus Covid-19. Dari sana kita akan masuk, masih banyak para pebisnis yang terbiasa dengan sistem manual dan konvensional, mereka akan kesulitan menerapkan sistem WFH pada karyawannya."


"Jadi kita akan menawarkan ERP dari EXTNET sebagai solusi untuk membantu manajemen perusahaan lebih mudah dalam berkoordinasi bersama timnya dan memastikan seluruh operasional berjalan dengan baik. Kita juga sudah mengenalkan sistem ini pada para UKM dan perusahaan-perusahaan."


Bravo, meeting berakhir Erfan dan Tian tersenyum puas dengan hasil kerja keras mereka.


"Kita maju satu langkah lagi Fan, gak sia-sia EXTNET mengudara di Indonesia."


"Selain mengganggu otak anak bangsa dengan main game, akhirnya kita berani bikin yang bermanfaat juga." Sahut Erfan dengan gelak tawa diikuti Tian. Xeon? Pria bule itu sibuk dengan EXTNET di London.


"Bodo amat, yang penting jadi dolar." Tian berujar di tengah tawanya.


"Anak sultan kalah bro sama anak gelandangan seperti kita." Kekeh Erfan


"Coba aja anak Indonesia sekarang pikirannya seperti kita Fan, gak hanya main game. Tapi bikin game sendiri. Makmur jaya Indonesia. Gak akan ada emak-emak yang ngomel lagi gara-gara anaknya cuma bisa ngabisin kouta."


"Kalau semua anak muda pikirannya begitu, kita akan tersisih dan jatuh miskin, Tian." Sarkas Erfan, Tian tertawa geli.


"Ah, lo mau kaya sendiri doang Fan."


"Kalau ngajakin seluruh rakyat Indonesia jadi kaya, gue kebagian apa dong? Pemerintah jadi gak ada kerjaan entar, haha."


"Bener juga, kasiankan kalau mereka pada nganggur, mending anak muda aja yang nganggur. Biar mereka puas main game, ngalirin cuan buat kita."


Otak Tian ternyata tidak kalah picik.

__ADS_1


__ADS_2