Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
118


__ADS_3

"Beberapa perusahaan membatalkan kerjasama karena berita yang beredar di media." Tian menghempaskan berkas ke atas meja Erfan. "Kapan lo bertindak, bereskan ibu suri secepatnya."


Erfan meraup wajah gusar, kepalanya benar-benar pusing sekarang. Pagi-pagi sudah disuguhkan berita buruk seperti ini.


"Kita bisa hancur lebur dalam satu kali sentak, kalau lo masih menunda waktu," tekan Tian.


"Galih, laporan Yayasan sudah dikirim ulang ke para donator dan publik?" Tanya Erfan mengabaikan Tian yang mengoceh panjang lebar.


"Sudah, tapi tidak berguna apa-apa. Mereka anggap itu sebagai manipulasi saja."


Erfan mendesah berat, "lakukan audit ulang secepatnya, ajak perwakilan media dan juga donatur hadir di sana." Ujarnya, lalu menatap Tian, "gue akan selesaikan."


"Siap Pak," setelah mengucapkan kata itu Galih meninggalkan ruangan bosnya.


Erfan tau, dia terlihat egois karena mencampur baurkan urusan pekerjaan dan pribadi. Yayasan di luar dari pekerjaannya. Dan kali ini ia sudah melibatkan perusahaan dalam kehancuran.


"Sekarang serahkan semua bukti yang ada ke pihak berwajib. Kita selesaikan sama-sama." Tian bersuara, dia tidak sepenuhnya menyalahkan Erfan. Akhir-akhir ini sahabatnya itu memang terlihat lelah. Ditambah ia ikut-ikutan menambah beban lelaki itu.


Suami Hira itu hanya menganggukkan kepala, ia sudah melakukan apa yang Tian ucapkan sebelum disuruh.


"Kamu itu kalau ada masalah gak pernah mau cerita." Suara berat itu milik seorang pria paruh baya yang berdiri di depan pintu. "Kalau Papa gak dengar dari mulut orang lain tidak akan tau."


Erfan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan, lalu menyalami Hardiyata.


"Om sehat?" Sapa Tian, juga ikut menyalami ayah temannya itu.


"Alhamdulillah sehat, kamu tambah ganteng Tian." Hardiyata menepuk pundak pemuda itu.


"Ganteng lagi kalau dikarungin Pah." Tian mendelikkan mata pada sahabatnya itu. Sungguh, dia sebagai orang ganteng merasa ternistakan. "Kenapa? Gak terima?" Erfan tertawa kecil melihat respon lelaki bernama Tian itu.


"Jatuh harga diri." Tian berucap dengan penuh penghayatan. Hardiyata ikut terkekeh kecil.


"Menantu Papa mana?"


"Di dalam Pah, aku panggilin dulu." Erfan beranjak masuk ke kamar. Istrinya itu masih asik di depan laptop, tapi bukan sedang nonton drama korea.

__ADS_1


"Sayang, ada Papa di luar." Hira menoleh ke arah suaminya yang berjalan mendekat.


"Sama Mama juga?"


"Sendirian." Jawab Erfan kemudian teringat tujuan sang ayah datang berkunjung. Istrinya tidak boleh tau masalah itu. "Kamu selesain aja dulu, nanti biar papa aku suruh masuk aja. Lagi ngobrol sama Tian juga papanya." Lelaki itu berdalih agar Hira tidak mengetahui masalah perusahaannya.


"Ya udah, sana gih keluar lagi," usir Hira.


"Baiklah Nyonya." Erfan menyeringai lalu mencuri satu kecupan di pipi. Lelaki itu kabur sebelum istrinya menjerit karena kesal.


"Huft." Erfan menghela napas panjang, kembali duduk di sofa.


"Katanya mau manggil istrimu." Hardiyata tidak melihat menantunya ikut keluar kamar.


"Papa ke sini tujuannya apa?" Erfan memberikan tatapan penuh selidik pada sang papa. Hardiyata mendesah berat, baru mengerti pikiran putranya.


***


"Salwa bagaimana ini?" Panik Reny dari seberang telpon, wajah mereka muncul di layar televisi pagi ini. Sudah terkuak siapa yang berada dibalik fitnah yang menyerang Hira dan Erfan.


Kenapa juga Reny harus mengikuti rencana receh Salwa yang berujung seperti ini. Anaknya itu tidak akan main-main kalau sudah bertindak. Buktinya saja suami dan anak-anaknya tidak mendapat pengampunan dari Erfan.


"Kamu tidak kenal Erfan, Salwa. Dia bahkan berani membunuh untuk melindungi istrinya." Ucap Reny yang dibenarkan Salwa. Ia juga takut berhadapan dengan Erfan. Tapi dia tidak akan berhenti sebelum istri Erfan itu benar-benar sekarat.


"Mami tinggal bayar pengacara." Salwa berucap tenang lalu mematikan sambungan telpon sepihak. Gadis itu menyeringai licik seperti sedang merencanakan sesuatu. Bukan Salwa namanya jika harus menyerah sebelum menang, gumamnya.


***


Ressa masih merasa canggung saat hanya berduaan dengan Tian. Hari ini bosnya sedang menemani sang istri cek kandungan dan sekalian mampir ke yayasan. Dengan berat hati ia menemui klien di sebuah hotel dengan lelaki yang berjalan di samping kanannya.


"Mau makan siang sekalian?" Tawar Tian.


"Boleh."


Tian bingung sendiri mau memulai pembicaraan bagaimana. Kalau di depannya sekarang Ressa jadi pendiam, tidak banyak berceloteh seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Lo masih marah sama gue, Sa?"


"Hah?" Ressa yang tadi asyik menatap jalanan menoleh pada Tian yang sedang menyetir mobil. "Lo nanya apa tadi, maaf gue gak fokus."


"Lo emang selalu gak fokus kalo lagi sama gue." Tian menghela napas panjang, Ressa mengernyit bingung. Bosnya itu sedang kenapa, pikirnya. Lelaki itu memarkirkan mobil disebuah restoran tanpa banyak bicara.


"Pesan aja apa yang lo mau." Ujar Tian mengambil posisi duduk berhadapan dengan Ressa. Gadis itu menganggukkan kepala membolak-balik buku menu.


"Tian!" Panggil seorang perempuan yang memiliki paras menawan, kalau Ressa lihat seperti model. "I miss you." Katanya lalu memeluk Tian.


"I miss you too," Tian mengusap kepala perempuan itu lalu mengecup di kening. "Sudah makan?" Tanyanya.


"Sudah, kamu ngapain di sini?"


"Habis ketemu klien," jawabnya lembut.


Ressa menoleh malas pada dua orang yang sedang bermesraan di depannya itu. Ia memanggil pramusaji, lalu fokus pada ponsel di depannya setelah selesai memesan makan. Kenapa juga harus merasa sakit melihat Tian bersama perempuan lain. Dia kan bukan siapa-siapa lelaki itu.


"Kamu lanjut ya, aku sudah ada janji." Ujarnya seraya mengusap rambut Tian lalu mengecup singkat di pipi.


Sungguh Ressa merasakan sangat panas di cuaca yang panas ini. Tapi tetap berusaha biasa untuk terlihat dingin.


Tian ingin melihat reaksi Ressa tapi ternyata gadis itu tak acuh. Mereka makan dalam diam. Orang yang di depannya ini bukan gadis yang biasanya bertingkah bar-bar.


"Gue aneh liat lo banyak diam Sa."


Ressa hanya berdehem menanggapi ucapan Tian. Lelaki itu meletakkan sendok dan garpu di tangan, menatap lekat gadis di depannya.


"Gue salah, gue minta maaf. Gak tau lagi gimana caranya supaya lo bisa bersikap biasa lagi sama gue." Ressa melirik sekilas lalu melanjutkan makan.


"Ressa!"


"Iya, Tian. Lo udah gue maafin." Jawab Ressa, lelah mendengarkan ocehan lelaki itu.


"Senyum dulu, jangan jutek lagi." Pinta Tian, Ressa menarik kedua sudut bibirnya paksa. Kalau gak diturutin itu orang tidak akan berhenti mengganggu ketenangan makannya.

__ADS_1


"Nah gitu dong, jadi makin cantik." Pujinya seraya mengacak puncak kepala Ressa. Gadis itu terpaku sejenak, hatinya menghangat. Ada debar-debar yang tidak ia mengerti penyebabnya apa. Namun Ressa segera mengembalikan kesadarannya. Dia tidak boleh tergoda dengan Tian.


__ADS_2