Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
108


__ADS_3

"Terimakasih untuk lelaki terhebatku." Belum apa-apa mata Hira sudah berkabut. "Terimakasih untuk kalian semua para donatur dan relawan Yayasan Kasih Erra."


"Ribuan kali saya mengucapkan terimakasih tidak akan mampu mengungkap rasa bahagia saya. Spesial thanks untuk Papa Hardiyata dan Mama Btari. Terimakasih sudah menghadirkan seorang lelaki yang berdiri di samping saya ini."


Erfan memberikan satu cek tangan istrinya, "terimakasih untuk keluarga besar Emeral Corporation atas donasi sebesar satu miliyar. Khususnya Bapak Emran Faizan dan Ibu Mira."


Hira menahan air matanya agar tidak terjatuh, ia tak pernah terbayang sampai bisa mengumpul uang sebanyak ini. Erfan menyeka air mata istrinya sebelum memberikan cek selanjutnya.


"Terimakasih untuk keluarga besar PT. Aydan Jaya Abadi. Jika kalian tidak memberikan cek inipun saya akan tetap berterimakasih." Hira menjeda ucapannya, ia terharu karena banyak orang-orang baik yang mengelilinginya.


"Terimakasih Abi Nazar, Ummi Ulfa. Ah sepertinya saya tidak bisa melanjutkannya. Menyebutkan nama kalian satu persatu saya tidak sanggup."


Erfan mengambil mix dari tangan Hira, lalu memberikannya pada pembawa acara. Ia memeluk istrinya di tengah panggung.


"Jangankan Ibu Hira, saya saja sangat terharu." Ujar pembawa acara melanjutkan kembali, "sebagai penghargaan saya akan menyebutkan cepat nama para donatur malam ini." Dengan penuh semangat pembawa acara itu menyebutkan nama-nama yang tertulis pada lembar cek.


"Yang saya pegang ini cek terakhir." Ucapnya dengan senyuman yang tak pernah berhenti, "dari EXTNET London dan EXTNET Indonesia senilai dua miliyar." Teriak pembawa acara sebagai penutup.


"Bee!" Ucap Hira dengan tercekat, Erfan mengangguk lalu tersenyum. Lelaki itu menuntun sang istri turun dari panggung. Hira tak berhenti menangis karena terharu.


"Bahagia juga nangis sampai sesenggukan gini ya." Ressa memeluk sahabatnya yang baru bergabung, disekitarnya sudah berdiri semua orang-orang penting.


"Aku berasa dalam dunia mimpi Sa."


"Mimpi kamu jadi nyata." Ressa mengusap lembut air mata Hira. Ia yang selama ini selalu tau penderitaan Hira. Sekarang Ressa sudah tenang, karena sahabatnya sudah menemukan kebahagiaannya dan memiliki orang yang tepat untuk selalu menjaga Hira.


"Makasih sudah selalu ada di samping aku," lirih Hira. Ressa mengangguk bahagia.


"Nangis-nangisnya udah ya, sekarang waktunya kita senang-senang." Ujar Ringgo, yang juga hadir di sana. "Selalu cengeng deh kalau lagi kaya gini. Ini lagi bahagia loh, bukan lagi nonton sinetron ikan terbang." Lanjutnya dengan cengiran khas, lalu beralih pada Erfan.

__ADS_1


"Selamat bro, semoga debay sehat sampai lahiran. Selamat untuk semuanya."


"Makasih Go." Ucap Erfan tulus kemudian merangkul lelaki itu.


"Ini nih yang bikin aku bangga, sama bikin Pak Rizal gak bisa move on dari dokter sekeren kamu." Erika memeluk Hira mengucapkan selamat.


"Kami siap mencarikan volunter untuk mental care." Ujar Rizal mendekati pasangan itu, selaku direktur utama Emeral Hospital dia bisa lebih mudah mengumpulkan para relawan kesehatan.


"Kami juga siap memberikan pembinaan untuk para penyandang depresi yang merasa tidak berarti karena tidak memiliki pekerjaan." Ucap Ghani, pemilik puluhan outlet King Burger dan restoran di Singapura dan Malaysia.


"Kalian jangan bikin aku nangis lagi." Hira menatap semua yang ada di ballroom hotel dengan berbinar-binar.


Di sana ada Ilmi, Tomi, Zaky, Adnan, dan Ken. Semua sahabat suaminya ada di sana bersama istrinya. Hanya Guntur dan Tian yang betah menjomblo.


"Karena nama aku sudah disebutkan tadi, jadi aku kasih kamu bunga." Tian memberikan sebuket mawar putih pada Hira. "Boleh peluk gak?" Candanya dengan merentangkan tangan.


"Sebenarnya saya menyesal karena kamu bukan jadi istri Guntur." Emran mengelus puncak kepala Hira, "tapi kalau dipikir-pikir Papa akan lebih menyesal kalau kamu menjadi istri Guntur." Lanjutnya dengan tertawa kecil.


Guntur berdecak sinis. "Papa jangan jatuhin harga diri Guntur di sini dong."


"Kenyataan sih, Papa juga setuju." Sahut Rizal, ayah kandung Guntur ikut-ikutan.


"Sungguh kalian sangat suka menistakanku." Ujar Guntur penuh drama.


"Ulu-ulu ada yang merasa ternistakan nih." Ejek Khalisa, istri Ghani. "Gak bunuh diri aja sekalian, lumayan ngurangi jatah nasi di rumah," lanjutnya.


"Hm, kalian ya dimana-mana suka berantem." Tegur Mira.


"Guntur gak salah Mah, mereka yang menistakanku." Adunya dengan tampang memelas.

__ADS_1


"Jangan debat di sini, malu-maluin." Tegas Mira, Guntur langsung menciut.


"Ini putri Ummi yang nangis di atas panggung." Ulfa datang bersama Nazar, perempuan paruh baya itu langsung memeluk Hira dengan sayang. "Ummi kangen banget, kata Erfan kamu sibuk jadi gak bisa mampir ke rumah." Adunya, Hira jadi merasa bersalah.


"Maaf Ummi," cicit ibu hamil itu. "Abi, makasih ya." Hira menatap lekat Nazar, pria paruh baya itu tersenyum bangga lalu mengangguk.


"Lihat Kak Sya, kita beneran berasa menantu. Hira yang anak kandung Ummi." Ujar Elvina berbisik pada Attisya, tapi masih bisa di dengar semua orang.


"Kalau mau bisik-bisik sekalian pinjam mix mesjid Na." Ujar Ulfa dengan kekehan kecil.


"Red velvet spesial buat Bu Bos." Galih memberikan box kue pada Hira. Ia datang berbarengan dengan Yeni. "Ini bunganya untuk Bu Bos juga." Ujar Yeni memberikan sebuket bunga mawar merah.


"Dari Anincake?" Tanya Anindi melihat box cake yang sudah di tangan Hira. Perempuan itu setia berada di samping Tomi, suaminya.


"Hee, iya. Kalian tau juga ya." Galih menggaruk tengkuknya malu, bukan spesial lagi jadinya.


"Itu toko kue punya mbaknya Galih." Jelas Ressa, Galih jadi semakin malu. "Gak spesial lagi deh, ada yang punya toko di sini." Ucapnya lesu.


"Tetap spesial kok, karena kamu yang beli." Ujar Hira lalu tersenyum. "Makasih yah." Galih mengangguk, melirik sang bos yang menatapnya tajam.


"Kamu gak lagi godain berondong kan, Sweety." Erfan mengambil semua yang ada di tangan Hira lalu meletakkan di meja.


"Cemburu gak ingat tempat deh." Hira berdecak sebal pada suaminya.


"Tinggalin aja Ra kalo masih cemburuan gitu." Kompor Ilmi, Erfan melotot pada sahabatnya itu. Gak banyak ngomong, tapi sekali berucap bikin rumah tangga orang berantakan.


"Jangan kompor beleduk deh, ini kalau rewel susah. Kalau minta bikinin candi dalam semalam gimana." Ujar Erfan dramatis. Dia pikir ini masih jaman kerajaan majapahit.


Setelah lama berbincang Erfan membawa istrinya pulang. Hari sudah semakin malam, Hira tidak boleh kelelahan. Malam ini sudah cukup menguras energi kekasihnya itu. Tidak ada yang lebih membahagiakan, selain bisa melihat istrinya tak berhenti menangis bahagia.

__ADS_1


__ADS_2