Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
50


__ADS_3

Erfan dan Hira tiba di rumah Abi Nazar saat hari sudah gelap. Hira mengernyit, saat melihat rumah mewah itu di dekorasi. Seperti akan ada hajatan besar. Hira mengabaikan jiwa keponya, ingin beristirahat secepatnya malam ini.


Baru seminggu pergi sekarang Hira sudah kembali ke rumah ini lagi. Di jemput pangeran tampan malahan, so sweet bangetkan kayak di sinetron.


Hira memejamkan netranya yang berat. Beberapa hari bersama Erfan dapat menghapus segala luka dan ketakutan yang ia rasakan.


Erfan begitu sempurna untuknya yang terlalu biasa. Mama Erfan benar, ia tidak pantas mendampingi anaknya. Tapi Hira bisa melihat Erfan juga bahagia saat bersamanya. Jadi mereka tidak saling merugikan 'kan? Apa Hira salah jika saat ini egois ingin mendampingi Erfan. Lelah berpikir akhirnya Hira tertidur.


Setelah sholat subuh pintu kamar Hira diketuk. Ada apa? Pagi begini terdengar suara orang yang sibuk berlalu lalang. Hira membuka pintu kamar, Elvina datang bersana dua orang perempuan masuk. Di belakangnya ada Attisya yang membawa sebuah gaun pengantin berwarna putih.


"Apa kalian mau menggunakan kamar ini?" Tanya Hira ramah, ia sadar cuma menumpang. "Saya bisa keluar sekarang." Sambungnya dengan senyuman, Elvina tersenyum geli.


"Jadi kamu belum tau?" Hira menggeleng, belum tau apa maksudnya membuat ia bingung saja.


"Ganti pakaiannya sekarang." Attisya memberikan gaun yang dipegangnya. "Aku?" Hira menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, lalu siapa lagi? Masa aku yang pake, bakal ngamuk Abang Ken." Goda Elvina.


"Tunggu, emang ada acara apa?" Hira masih gagal paham. Ia duduk di sisi ranjang.


"Erfan gak bilang mau menikahimu hari ini?" Attisya mulai gemas, gadis di depannya ini memang gak tau atau pura-pura gak tau.


"Apa? Hari ini." Mulut Hira mangap beberapa detik sebelum ia tersadar. Attisya mengangguk, "makanya cepat ganti. Make up pengantin gak bisa sebentar."


Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya, Hira mengambil gaun itu lalu menggunakannya.

__ADS_1


"Kenapa Erfan segila ini, gak pakai nanya pendapat aku!" Kesal Hira, badannya masih capek sekarang. Walau tidak bisa dipungkiri hatinya sangat bahagia saat ini.


"Erfan memang selalu bertindak gila untuk orang yang berarti baginya." Elvina berucap santai, membantu Hira merapikan gaun. "Akhirnya Erfan menemukan cinta sejatinya." Elvina bahagia melihat Erfan sebahagia ini saat menemukan orang yang tepat untuknya.


Wajah Hira dipoles dengan make up tipis, tapi hasilnya tetap memukau berkat kerja keras dua MUA. Erfan menyiapkan sedetail ini. Pesan Elvina, Hira tidak boleh keluar sebelum akad selesai dilakukan sesuai permintaan Erfan. Ia hanya menyaksikan dari layar datar yang terpasang di dinding kamar ditemani ummi, Elvina dan Attisya.


Secepat inikah statusnya berubah, hati Hira terenyuh saat melihat Erfan menjabat tangan sang ayah. Erfan benar-benar melakukannya dengan sempurna, Hira sampai tidak tau kalau ayah juga ada di sini. Hatinya tersentuh, ia menikah dengan pria yang sudah membelinya.


Setetes butiran bening meluncur di pipi Hira yang sudah dipoles make up. Erfan lelaki yang sempat ia benci sekarang sedang menjabat tangan ayah, mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Andai mama ada di sini pasti akan ikut bahagia melihat anaknya berbahagia. Ummi merengkuh bahu Hira sembari mengusap-usap punggung tangannya.


"Ummi...!" panggil Hira dengan suara bergetar, ummi menoleh.


"Ummi ingat aku pernah bilang kalau ayah menjodohkanku dengan duda." Ummi mengangguk, tanpa bersuara. "Ummi tau kenapa ayah membatalkannya?" Tanya Hira lagi, ummi menggeleng. Elvina dan Attisya yang menatap Hira sejak tadi juga ikut terharu, sekarang mereka hanya mendengarkan.


"Erfan yang membuatnya batal Ummi, Erfan yang memberikan uang dua kali lipat dari nilai yang duda itu janjikan." Hira tidak sanggup mengucapkannya, Erfan sudah menceritakan semua padanya. Ummi tersentak kaget begitu juga Attisya dan Elvina, tapi mereka dengan cepat mengembalikan ekspresinya.


"Karena kamu begitu berharga buat anak Ummi, Sayang. Jangan merasa tidak pantas, malahan kamu sangat pantas. Bahkan mungkin tidak akan ada perempuan yang lebih pantas lagi selain kamu untuk mendampingi Erfan." Ummi menghapus sisa air mata Hira yang sempat terjatuh dengan pelan menggunakan tisu agar tidak merusak make up.


"Ayo sekarang kita keluar, berbahagialah. Suamimu sudah menunggu." Kata ummi, Hira mengangguk. Attisya dan Elvina menggandeng Hira, ummi mengikuti dibelakang.


Ervan tersenyum lebar melihat gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Ia tidak menikahi Hira dengan diam-diam, Erfan malahan mengundang keluarganya namun tidak ada yang datang kecuali Papi. Malah keluarga Abi Nazar dan keluarga Pak Emran yang repot mengurusi semua persiapan pernikahan. Sedang calon pengantin malah asik berlibur. Dasar Erfan kurang ajar banget.


Senyuman yang tersungging di bibir Hira begitu manis. Tangan Hira terulur menyalami Erfan, pria itu dengan suka cita menyambutnya. Jantung mereka sekarang sedang tidak sehat, saling bersahutan. Erfan mengecup kening Hira, walau pernah beberapa kali melakukannya tapi kali ini sangat mendebarkan. Lalu Erfan meletakkan tangan kirinya di atas puncak kepala Hira dan mengangkat tangan kanannya untuk membacakan doa.


Setelah menandatangani buku nikah dan sungkeman. Sesi foto dilakukan. Jangan lupakan Ressa yang ikut berbinar-binar. Gadis yang hampir kehilangan sumber uang karena kaburnya Hira.

__ADS_1


Dengan senang hati Erfan dan Hira menyalami tamu yang hadir. Dalam waktu singkat Erfan bisa membuat acara seperti ini. Memang tidak mewah seperti di hotel, hanya memanfaatkan taman yang luas, terbentuklah garden weeding party yang menawan. Tamu undangan berasal dari rekan bisnis Erfan juga Abi Nazar. Jangan lupakan keluarga Emran yang katanya Erfan ingin diangkat anak, mereka juga ikut campur tangan. Para rekan Hira di rumah sakit juga di undang.


"Maaf cuma bisa membuat seperti ini." Ucap Erfan saat tamu mulai sibuk menikmati hidangan. Akhirnya Hira bisa mengucapkan selamat menikmati seperti yang dikatakan Mang Udin. Tangan Erfan menarik pinggang Hira lebih dekat.


"Semua lebih dari cukup, ini kejutan yang tidak akan pernah bisa dilupakan." Hira menarik kedua sudut bibirnya.


"Capek?"


"Banget, badan masih pegel nih, ditambah berdiri seharian." Keluh Hira dengan manja


"Nanti aku pijetin." Bisik Erfan dengan senyuman jahat.


Aku? Apa katanya aku. Tumben banget, suami Hira insaf.


"Asal jangan pijat plus-plus!" Sahut Hira judes.


"Awalnya gak niat gitu tapi karena udah diingatkan, ya sudah sekalian." Cengir Erfan, Hira mendengus kesal.


"Ekhem, jangan-jangan ada yang udah ngasih DP nih jadi pulang-pulang langsung dihalalin." Celetuk Guntur pelan agar tamu yang lain tidak mendengar, muka tanpa dosanya begitu menyebalkan bagi Hira.


Spontan Ghani mendorong kepala Guntur pelan. Empat jagoan itu tiba-tiba datang mengacaukan rencana Erfan menggoda Hira.


Tenang saja yang tiga belum datang menyerbu, siapa lagi kalau bukan Adnan, Ken dan Ilmi. Entah sejak kapan mereka jadi semakin akrab berdelapan. Lebih tepatnya saling menguntungkan satu sama lain.


"Jelas udah gue kasih DP kalau belum mana mungkin Hira mau." Jawab Erfan asal dengan senyuman miring.

__ADS_1


"GILA..!" Desis Hira, "kalian hidup modal tampang doang hah." Sarkas Hira, Erfan meringis. Istrinya sekarang dalam mode garang.


"Alhamdulillah masih ada tampang cakep yang bisa dijual Ra, coba kalau enggak, makin nelangsa." Guntur gak ngerti situasi, bikin mood Hira yang tadinya cakep jadi amburadul. Untung Hira tidak benar-benar menanggapi dengan mode garang. Ia hanya mengimbangi lawan bicaranya. Istri Erfan memang gilakan?


__ADS_2