
Hira merasakan hidupnya tidak bebas lagi selain selalu ditemani Ressa, juga ada dua pengawal yang mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Erfan sampai sebegitunya lebay sekali, ia tak suka.
Seperti hari ini mau ke minimarket aja Ressa selalu menempel. Bahkan sekarang anak itu tidak pulang-pulang dari apartemennya. Apasih sebenarnya yang Erfan takutkan, tidak ada yang mau menculik Hira. Orang tuanya tidak punya uang untuk memberikan tebusan.
"Ra, beli banyak sekalian biar gak bolak-balik!" Kok berasa Hira yang jadi pembantu sih.
"Lo udah berasa jadi majikan ya Sa, pulang sana males gue liat muka lo tiap hari. Eneg banget!"
"Gue dibayar mahal cuma buat cereweten lo Ra, ngingetin lo minum obat, ngingetin lo makan, ngingetin lo terapi. Berasa jadi alarm hidup gue. Kalau gak mahal bayarannya mana mungkin gue mau."
"Lo bisa cari kerjaan yang halal kali Sa, kalau lo bikin majikan jengah nggak halal jadinya tuh gaji." Seloroh Hira, sambil memasukkan minyak goreng ke troli.
"Ngomong sembarangan, jagain lo itu lebih pusing daripada jagain bayi." Kesal Ressa, di minimarket pun mereka masih sempat buat adu mulut.
"Makanya bilangin bos lo, biar gak ngintilin hidup gue terus. Berasa jadi borunan gue."
"Lo ya dikasih perlakuan istimewa malah ngelunjak. Nggak ada bersyukurnya hidup."
"Ressa yang baik dan budiman. Gue gak perlu laporan sama lo 'kan kalau sedang bersyukur." Ressa asal comot cemilan memasukkan ke troli. Sambil mendengarkan ocehan Hira yang seperti kaleng rombeng.
"Kalau udah bosan ngoceh bilang ya Ra, biar gue punya waktu untuk persiapan servis nih kuping. Kasian kuping gue budek dengerin suara lo mulu."
"Bodo amat." Hira meninggalkan Ressa ke kasir, belanjaannya sudah lengkap. Banyakan cemilan Ressa yang memenuhi troli.
"Ra, lo gak mau nikah sama bos Erfan, kurang baik apa dia sama lo." Tanya Ressa saat mereka sudah dalam mobil, ia duduk dibalik kemudi. "Gue nanya sebagai sahabat lo yang pengen lihat lo bahagia. Bukan sebagai karyawan yang selalu tunduk pada atasan," lanjut Ressa.
"Bohong kalau gue gak mau sama Erfan Sa. Keadaan tidak mengizinkan kami bersatu. Biarlah kami seperti ini, agar tidak ada yang tersakiti."
"Lebih sakit saling mencinta tapi tidak bisa bersama Ra. Dibanding berjuang bersama orang yang dicintai untuk melawan segala rintangan yang ada. Tidak ada yang menjanjikan semuanya mudah. Tapi bisa terlewati dengan indah kalau bersama."
__ADS_1
Hira termenung menyimak ucapan Ressa, harusnya ia memberikan Erfan kesempatan. Mereka bisa berjuang bersama melewati rintangan yang ada. Begitukan inginnya Ressa.
"Restu lebih penting dari apapun Sa, tidak bisa ditoleransi."
"Jika saat ini kalian tidak direstui, belum tentu orang yang dicintai Erfan selanjutnya akan mendapatkan restu. Apa tidak sebaiknya lo aja yang menemani Erfan. Daripada nanti dia harus berjuang dengan orang lain. Lebih baik kalian berjuang sekarang." Ressa tau sisi terlemah Hira, tidak bisa melihat orang lain menderita.
"Bisakah gue melakukannya Sa?" Tanya Hira ragu, ia ragu dengan dirinya sendiri. Ragu kalau ia bisa bertahan nanti.
"Lo bisa Ra, apalagi lo sekarang butuh dia untuk sembuh. Lo butuh Erfan untuk kuat. Jangan biarkan Erfan pergi begitu saja membawa lukanya. Jika dia memilih berhenti sekarang lo juga akan terluka."
"Mahal banget pasti ya Sa bayaran lo sampai rela bujuk gue begini." Hira tersenyum kecut.
"Fakhira Shakira yang cantik, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan otaknya agak sedikit geser. Gue sudah bilang diawal kalau gue ngomong sebagai sahabat lo. Tapi kalau sebab perkataan gue bisa dapat bonus, kenapa tidak. Itu rezeki Ressa Azkia namanya."
Hira berdecak, menyesal sudah banyak bicara sama Ressa kalau akhirnya otaknya juga yang disalahkan.
"Mungkin nanti gue coba, tapi bukan sekarang." Hira menjawab santai.
Mobil yang dikendarai Ressa mendapat hantaman keras dari samping saat dijalanan sepi. Mobil sempat oleng, tapi bisa dikendalikan Ressa. Ia membawa mobil menepi khawatir Hira syok berat. Tak lupa ia mengabari bosnya. Mobil pengawal sudah mensejajarinya.
"Hira lo masih bisa kendaliin diri?" Tanya Ressa pelan, wajah Hira sudah memucat. Ressa mencari-cari air mineral di mobil tapi tidak ada. Miskin sekali Hira ini, ingin Ressa memakinya.
"Gue gak papa Sa, cuma kaget aja." Hira mengusap dadanya, jantungnya sudah hampir copot.
"Bang, tolong beliin air mineral dong." Pinta Ressa pada salah satu pengawal, ia akan menunggu Erfan sampai. Resiko besar melanjutkan perjalanan, hantaman di mobil tadi disengaja. Tidak mungkin jalanan lenggang sampai keserempet kecuali sedang belajar mengemudi. Beberapa menit kemudian pengawal datang membawakan dua botol air mineral.
"Minum dulu Ra, biar lebih tenang." Ressa membukakan tutup botol lalu memberikannya pada Hira. Sekarang Hira mengerti kenapa Erfan memaksanya agar mau diikuti pengawal.
Tok tok tok
__ADS_1
Kaca mobil di samping Hira diketuk, Erfan sudah berdiri di luar membukakan pintu.
"Kalian pindah ke mobil gue, biar mereka yang bawa mobil ini ke bengkel. Kita gak pulang ke apartemen lo. Mereka pasti masih mengintai." Jelas Erfan pelan, Hira dan Ressa tak membantah memindahkan barang belanjanya ke mobil Erfan.
"Alhamdulillah lo bisa ngendaliin mobil Sa, lengah sedikit kalian dalam bahaya." Sangat jelas kalau Erfan sangat khawatir, Ressa tidak menjawab. Ia duduk di belakang, mengamati kecanggungan dua orang berbeda jenis di kursi depan.
"Kenapa harus rumah Abi Nazar bos, apa alasannya?" Sudah lama Ressa penasaran setiap ada masalah pasti Erfan membawa Hira ke rumah Abi Nazar, begitu juga Hira.
"Karena rumah itu pengamanannya ketat Sa, setiap kaca dipasang anti peluru. Abi Nazar tidak kalah kaya dengan Pak Emran, beliau cuma lebih sederhana."
"Sederhananya orang kaya begitu ya bos, tidak heran kalau beliau jadi panutan."
"Ya begitulah. Dunia bisnis itu kejam, kelemahan lawan akan menjadi kemenangan. Bagi orang gila kekuasaan, mereka tidak segan menyakiti, membunuh lawan. Kelemahan lawan tidak jauh dari keluarga." Hira meneguk ludak kasar, mulutnya tercekat. Pantas saja Erfan sekarang sangat protektif padanya. "Kalau bisa kalian jangan tinggal di apartemen dulu, keamanannya mudah dibobol."
"Bos bikin takut euy," Ressa begidik ngeri.
"Gue akan berusaha jaga kalian, jangan khawatir. Asal jangan membantah kalau dibilangin." Tegas Erfan, matanya melirik Hira.
"Boskan udah gak punya hak atas perusahaan. Emang masih punya duit buat bayar pengawal." Emang ya mulut Ressa minta dijahit, lalu dikasih lakban biar diam. Anak buah gak tau diri.
"Ressa! Lo ngeraguin gue hah, bosen kerja makan gaji buta! Buat beli tuh perusahaan Mami juga gue bisa Sa, dasar gak bersyukur banget disuruh kerja ongkang-ongkang kaki."
"Maaf bos berjanda, eh bercanda, hehe."
"Rasain lo." Hira tertawa geli
"Sekali-sekali gaji digunakan untuk hal yang bermanfaat Sa, beli saringan contohnya. Biar mulut lo kalau ngomong gak asal jeplak disaring dulu."
"Pedas amat bos mulutnya, kayak bon cabe."
__ADS_1
Ketakutan Hira menguap setelah mendengar percakapan absurd anak buah dan majikan. Hanya karena ucapan konyol mereka Hira bisa tersenyum dan tertawa. Tidak salah Allah memilihkan dua orang itu untuk membantunya menjadi kuat.