
Selepas tiga hari pemulihan Hira sudah boleh pulang, bayi kecil yang memiliki berat satu kilo lebih itu masih berada di ruang NICU. Setiap hari Erfan mengunjungi putrinya ke rumah sakit. Ia belum mengizinkan istrinya terlalu banyak beraktivitas.
"Assalamualaikum, daddy datang Sayang. Kamu cepat gede ya biar bisa selalu dekat sama mommy." Erfan menyapa putrinya yang baru berusia tujuh hari. Hanya itu kalimat yang selalu ia ucapkan selain mendoakan putrinya agar tidak betah berada di rumah kaca itu.
"Dari rumah sakit lagi?" Tanya Tian. Erfan mengangguk melanjutkan langkah menuju mejanya.
"Hira gak di ajak?" Tian menarik kursi di depan meja Erfan.
"Kemaren sudah, dia perlu banyak istirahat masih pemulihan." Ucapnya sambil fokus pada berkas yang ada di tangannya.
"Hari ini kita akan melakukan penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama dengan PT Jayindo Infrastruktur Tbk." Ujar Erfan dengan tersenyum sumringah, benar kata orang setelah hujan akan terbit pelangi.
PT Jayindo Infrastruktur Tbk merupakan pengembang kota mandiri terkemuka di Indonesia. Perusahaan yang memiliki inti bisnis mengembangkan kawasan industri yang didukung dan ditingkatkan dengan infrastruktur dan jasa manajemen kota.
"Yeach, kolaborasi ini bisa memberikan peluang strategis untuk kita menyasar pasar domestik dan mancanegara." Lanjut Tian dengan bernapas lega, mati satu tumbuh seribu. Karena PT Jayindo memiliki banyak anak perusahaan, itu akan memudahkan mereka mengenalkan ERP dari EXTNET.
***
"Assalamualaikum Sweety," sapa Erfan pada istrinya yang duduk di kursi taman. Hira menjawab salam lalu menoleh pada sang suami.
"Cerah banget, sudah nengokin adek tadi?"
"Sudah, mommy ngapain aja seharian?" Erfan memeluk istrinya dari belakang, "tadi Mas sibuk gak sempat ngabarin kamu." Ujarnya sembari menciumi puncak kepala sang istri.
"Aku ngintip-ngintip yayasan sama project di Lembang itu, sekarang baru jalan lima belas persen pembangunannya." Erfan memutari kursi lalu duduk di samping sang istri.
"Alhamdulillah," ucap Erfan lalu membawa istrinya dalam pelukan, "perkiraan dananya cukup?"
"InsyaAllah untuk pembangunan cukup, Bee. Kamu gak jadi cabut gugatan Mami?" Hira menatap wajah suaminya ada gurat lelah di sana.
"Mas belum sempat nengokin lagi, Sweety. Nanti sekalian kita ke sana."
"Adek kapan boleh pulang, Bee. Kangen mau gendong." Ucap Hira sendu, sejak pertama putri mereka lahir belum sempat menggendongnya.
"Sabar ya, Sayang. Kalau adek sudah lebih kuat kita bisa bawa dia pulang." Lelaki itu menguatkan pelukannya, paham akan kesedihan sang istri.
"Squishy-nya sakit gak, kalau sakit Mas bantu." Sekarang Erfan ketagihan bermain squishy, Hira memutar bola mata malas. Ia beranjak dari kursi meninggalkan suami mesumnya.
Suami Hira itu tertawa geli, menyusul sang istri. Mereka berasa penganten baru lagi. Erfan sangat suka menggoda istrinya itu.
"Sweety!" Erfan menubruk istrinya dari belakang, lalu menutup pintu kamar sampai berdentum nyaring.
"Bee, bau ih." Kesal Hira, ia sudah tau niat busuk suami mesumnya ini. Lelaki itu tertawa di ceruk leher istrinya sambil mendusel-dusel di sana tidak mempedulikan kekesalan istrinya.
__ADS_1
"Bee, lepasin. Mandi gih sana, bau asem tau." Perempuan itu semakin kesal dengan kelakuan suaminya.
"Enggak mau," ujar Erfan dimanja-manjakan.
"Tadi dikasih makan Ressa racun apa kamu di kantor, Bee."
"Kangen Sweety," Erfan memutar tubuh istrinya, menatap dengan tampang memelas minta dikasihani.
"Kangen apa, hm?"
"Squishy," cicitnya.
"Jangan macam-macam," Hira mengoyangkan jari telunjuknya di depan sang suami. Lalu melenggang pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"Sweety, bentar aja!" Rengek Erfan.
"Mandi, Bee." Tegas Hira, mengabaikan bayi besarnya yang merengek-rengek.
"Mandiin."
Hira menarik napas panjang, lalu mengusap dadanya sembari beristighfar. Perasaan dia melahirkan bayi perempuan bukan bayi besar ini.
"Habis dimandiin, mimi'in." Lanjut Erfan, Hira melengos keluar kamar meninggalkan suaminya yang banyak tingkah itu.
"Bee," pekik Hira saat kembali ke kamar. Ia baru keluar sebentar kamarnya sudah berantakan. Habis ngapain suaminya itu sampai bantal guling berserakan di lantai.
Saat ini Hira ingin menangis menghadapi tingkah Erfan. Entah hormon tubuhnya mungkin yang membuatnya jadi lebih mudah baper.
Ia memunguti bantal guling dengan air mata yang menetes. Hira tidak sedang sakit hati tapi air mata itu jatuh begitu saja karena kesal dengan suaminya.
"Sweety," panggil Erfan lembut. Kamarnya sudah rapi kembali setelah ia salto di ranjang tadi. Tapi istrinya duduk di sofa sambil menangis, "kenapa?" Tanyanya membawa sang istri dalam pelukan.
"Aku capek, kamu berantakin kamar. Aku kesal sama kamu." Adunya, Erfan ingin tertawa tapi takut istrinya tambah marah.
"Mas minta maaf, Sayang." Erfan menyeka air mata di pipi sang istri. Cuma karena itu Hira sampai menangis sesenggukan. Ia jadi bingung, tobat deh menjahili istrinya, bikin susah sendiri.
Niatnya agar Hira tidak sedih, eh malah menangis karena hal lain. Erfan menggaruk tengkuknya yang tak gagal sambil mengulum senyum.
Setelah tinggal dalam rumah kaca selama tiga minggu, bayi kecil dan mungil itu sudah boleh dibawa pulang.
Hira menggendongnya dengan hati-hati. Malam ini acara aqiqah sekaligus penyambutan kedatangan Erra Tanisha di keluarga kecil Erfan. Lelaki itu bersyukur putri kecilnya kuat bertahan sampai sekarang.
"Alhamdulillah cucu Oma, sehat." Sapa Btari, tidak ada yang berani mencium dan mencubit si kecil itu. Karena emaknya galak, jangan disentuh masih rentan, tegur Hira saat ada yang ingin menjawil putrinya.
__ADS_1
"Sini Opa yang gendong." Pinta Hardiyata pada menantunya, "kamu sambut tamu dulu." Hira memberikan putrinya dengan hati-hati pada papa mertua.
Hira dan Erfan menyambut para tamu yang datang. Para sahabat dan kerabatnya hadir di sana. Tidak hanya itu para donatur dan volunter dari Yayasan Kasih Erra juga ikut hadir.
"Kamu apakabar?" Reny memeluk menantunya, seminggu yang lalu Erfan sudah menarik tuntutan pada ibu angkatnya itu.
"Alhamdulillah sehat, Mi. Mami temui Mama di sana ya, Hira sapa tamu dulu." Ujar Hira dengan tersenyum manis mengurai pelukan mami mertuanya.
"Iya, Mami ke Erra dulu. Kamu lanjut aja." Ujarnya lalu beranjak meninggalkan anak dan menantunya.
"Kamu cantik banget malam ini, Sweety." Ucap Erfan sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Telat mujinya, Bee. Aku udah dandan sejak dua jam yang lalu." Hira berdecak kesal, suaminya ini tidak tau waktu kalau memancing keributan.
"Dari tadi kamu sibuk sama yang lain lupa denganku." Ujar Erfan dengan cemberut, dia jadi tidak punya waktu menggoda istrinya gegara sang istri sibuk dengan banyak hal.
"Bee, masa gitu cemburu." Ujarnya, lalu bergelayut manja di lengan sang suami.
"Udah punya buntut, ingat anak. Jangan pacaran terooos," sindir Gundur. Saat Hira dan Erfan sampai di rombongan sahabatnya.
"Iri tanda tak mampu, bos." Seloroh Ressa yang juga ikut menyempil di sana, karena bingung mau ikut masuk dikubu mana.
"Situ berasa gak jomblo?"
"Enggak, ada malaikat nih nempelin gue." Jawab Ressa asal.
"Hm, kalian nikah aja deh dari pada ribut terus." Tegur Hira, dua orang itu saling pandang lalu bergidik ngeri. Ibu satu anak itu menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya.
Acara aqiqah Erra Tanisha segera dimulai. Buah hati atas bukti cinta suci mereka. Walau dulu pernah terbersit dipikiran Hira kalau Erfan membelinya hanya untuk keuntungan lelaki itu saja.
Ternyata tidak, Erfan mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati tanpa pernah mengungkit kalau dia istri yang dibeli.
"Terimakasih, Sayang. Sudah menghadirkan Erra ke dunia sebagai kebahagian kita." Erfan mengecup puncak kepala Hira yang sedang menggendong baby Erra, si baby billionaire. Acara malam ini berlangsung dengan lancar.
Dua orang inilah yang menjadi kebahagiaan dan kesayangan Erfan sekarang. Dia akan menjaga para kesayangannya dengan apapun. Tak ada yang boleh menyakiti anak dan istrinya lagi.
...THE END ...
Dengan berakhirnya cerita ini diucapkan terimakasih. Ambil baiknya buang buruknya. Jangan tiru hal yang tak pantas ditiru.
Mohon maaf jika banyak salah kata dan khilaf dalam tulisan ini. Maaf jika tidak dapat memenuhi ekspektasi kalian para pembaca. Terimakasih sudah support cerita ini.
Semoga Author bisa menulis lebih baik lagi, ini hanya proses pembelajaran 😊.
__ADS_1