Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
89


__ADS_3

"Kita akan cari Hira sampai ketemu, Nak." Bujuk Btari.


Malam ini Erfan memilih pulang ke rumah orang tuanya. Ia lelah sendirian memikirkan Hira yang tak kunjung ditemukan keberadaannya.


"Erfan salah Mah mendiamkannya, kemana Hira pergi Mah sudah seminggu dia gak pulang ke apartemen."


"Hira perempuan yang kuat, Nak. Dia pasti baik-baik saja." Hardiyata ikut menenangkan putranya. "Kamu beresin Wijaya ya. Kamu gak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini. Harus kuat agar bisa menemukan istrimu." Lelaki paruh baya itu menepuk pundak Erfan.


"Iya Pah, akan kucari Papi sampai ketemu."


Hardiyata tersenyum bangga, lihat Wijaya anak yang kamu besarkan yang akan menyerangmu balik, gumamnya dalam hati.


"Hira pasti tidak pergi jauh, dia tidak mengikuti penerbangan kemanapun. Selama seminggu ini tidak ada kabar dia bepergian. Guntur terus mengawasi setiap hari."


"Iya Pah, istriku memang pintar." Erfan akui itu, tidak hanya kali ini Hira mencoba pergi darinya. Dulupun sudah pernah tapi masih bisa terendus keberadaannya. Kali ini entahlah, istrinya sangat pintar, belajar dari pengalaman yang sudah berlalu.


"Kamu istirahat, kalau masih susah tidur kamu temui psikiater." Saran Hardiyata, saat Btari hampir gila kehilangan putra mereka. Ia sampai meminta bantuan psikiater untuk istrinya itu. Mungkin putranya sekarang juga butuh bantuan melihat kondisinya yang sudah tidak karuan.


Erfan mengangguk masuk ke kamar meninggalkan Hardiyata dan Btari di ruang keluarga. Ia bukan mengangguk untuk datang ke psikiater. Ia malu kebodohannya diketahui orang.


Lelaki itu membuka laptop, ia harus fokus bekerja sekarang. Sejak mendapat foto itu Erfan sudah tak pernah bisa fokus lagi. Pikirannya kacau, ditambah kabar kepergian Hira seminggu yang lalu membuatnya benar-benar hampir gila. Sebesar itu pengaruh bayi kanguru dalam hidupnya.


Pekerjaannya beberapa waktu terakhir diurus Tian. Temannya itu bukan iba dengan nasibnya malah tertawa gelak. Kata Tian, itulah sebabnya dia malas untuk berkomitmen dengan perempuan. Salah paham selalu membuat hubungan jadi semakin rumit.


Erfan menggeleng pelan, kalau belum merasakan berwarnanya hidup setelah berumah tangga pasti akan berpikiran seperti itu.


***

__ADS_1


Erfan berangkat lebih awal ke kantor. Gedung EXTNET itu sudah menjadi rumah utamanya. Ia enggan keluar dari sana, sudah terlalu nyaman menjadi penghuni gedung yang dianggap horor oleh istrinya itu.


Sebelum bekerja Erfan masuk ke ruang istirahatnya. Mengambil baju Hira di lemari, menghirup aroma tubuh istrinya yang masih tertinggal di sana. Aktivitas yang selama sendirian ini ia lakukan.


"Kangen Sayang, maaf sudah meninggalkanmu sendirian." Ia duduk di meja rias menatap peralatan make up yang masih tertinggal di sana. Erfan tersenyum ingat waktu mengoleskan benda-benda itu ke pipi mulus sang istri.


"Kalau aku gak bodoh mungkin kita masih sama-sama di sini Sayang. Kamu baik-baik ajakan di sana." Erfan menarik napas panjang ingat saat istrinya merengek-rengek manja minta di gendong. Hanya dengannya Hira melakukan itu. Lihatlah ketika sendirian wanitanya itu sangat tegar. Tapi ketika bersamanya, jalan sendiripun malas. Satu tetes air mata terjatuh karena sudah menjadi lelaki bodoh.


Istrinya tidak memiliki tempat untuk pulang. Hanya ia satu-satunya orang yang Hira punya. Erfan harus segera menemukan istrinya itu, mendekapnya erat. Kalau Hira meminta di gendong ke mall jalan kakipun ia akan dengan senang hati melakukannya.


Suara ketukan di pintu membuat Erfan beranjak membukanya.


"Ngapain lo ngetuk ruang rahasia gue." Desis Erfan, Tian hanya tersenyum miring. Nyelonong masuk ke ruangan.


"Jadi di sini lo bertapa selama ini. Well, pasti kasur ini sudah gak suci lagi." Tian duduk di sisi tempat tidur sambil menepuk-nepuknya. Sekarang ia beranjak ke meja rias duduk di sana mengambil baju yang sedari tadi Erfan pegang lalu menciumnya.


"Jangan bajing*n, Tian." Bentak Erfan, ia sudah kepanasan melihat wajah Tian seperti sedang menikmati desiran yang muncul di dada.


"Pantas kalau Guntur bisa terpesona. Gue juga hampir hilang kewarasan." Pancing Tian membuat Erfan tambah murka.


"Lo jangan berani-berani menghanyalkan istri gue, bangs*t." Erfan menonjok perut temannya itu, sampai si empunya meringis kesakitan.


"Gue cuma bercanda lo sampai kebakaran gini."  Ucap Tian memaksa Erfan duduk di sisi ranjang. "Lo tau berapa banyak bajing*n di luar sana yang menginginkannya, hah. Jangan jadi bodoh bisanya cuma cemburu tapi gak bisa ngejaga."


Tian menampar keras pipi Erfan satu kali, "SADAR." Desisnya lalu meninggalkan Erfan sendirian.


Erfan bangkit dari duduk lalu mencuci wajahnya ke kamar mandi. Tamparan Tian memang tidak meninggalkan bekas, tapi cukup untuk membuat rahangnya sakit.

__ADS_1


Kenapa mereka baru datang saat ia sudah menjadi bodoh begini. Mengapa teman-temannya baru datang mengingatkan saat Erfan sudah kehilangan.


Lelaki itu keluar dari ruangannya dengan wajah yang lebih segar. Ia duduk di kursi kebesaran memeriksa-berkas yang menumpuk di meja.


"Fresh banget bos hari ini, Hira sudah ada kabarnya?" Ressa menarik kursi lalu duduk di sana seraya menyerahkan berkas yang harus segera Erfan tandatangani.


"Belum Sa, gue harus bangkitkan biar bisa nemuin Hira." Ucap Erfan sambil tersenyum, tapi penuh kepiluan.


***


Seminggu sudah Hira tinggal sendirian di desa ini. Desa yang sering dijadikan sebagai alternatif liburan edukatif.


Ia tinggal di daerah dataran tinggi yang berhawa dingin. Tempat itu merupakan salah satu tempat wisata favorit di Bandung.


Keberadaan Kebun Strawberry di sana merupakan salah satu tempat wisata favorit yang biasa wisatawan kunjungi selama berlibur di kawasan wisata Bandung selatan.


Hira menikmati keindahan lahan hijau yang terbentang luas dengan buah merah bergelantungan menyegarkan mata.


Baru hari ini Hira berkunjung ke kebun stawberry setelah seminggu berada di sini. Ia sudah mendapatkan rumah untuk tempat tinggal sementara dan berkenalan dengan ibu-ibu di sekitar rumahnya.


Di tempat ini pikirannya jadi lebih tenang. Erfan tidak akan mencarinya, melihat wajahnya pun suaminya itu tak mau. Wanita itu tersenyum, diabaikan Erfan selama dua bulan tidak akan membuatnya mati di tempat.


Terlihat para keluarga yang berkunjung ke kebun strawberry saat weekend seperti ini. Hira menyaksikan interaksi antara ibu dan anak yang asyik memetik buah strawberry.


Ah Hira jadi iri, ingin jadi seorang ibu juga. Kata Erfan, anak bisa dibikin lagi. Wanita itu tersenyum getir, jangankan untuk bikin lagi. Melihat wajah suaminya tersenyum saja tak bisa lagi.


Suaminya sudah bertemu orang baru yang mungkin lebih setara. Membayangkan itu ada seonggok daging yang bernama hati berdenyut nyeri. Ia takkan menangis meratapi takdir ini. Hira akan bangkit dan melupakan semua sakit yang terlanjur terpatri di hati.

__ADS_1


Setiap kali rindu Hira hanya bisa memandangi foto sang suami. Beberapa bulan bersama banyak kenangan bahagia yang tercipta. Setiap rasa sakit itu datang, Hira cepat mengendalikan pikirannya dengan kenangan-kenangan yang membahagiakan. Cara itu mampu menenggelamkan kesakitan yang ia rasakan.


__ADS_2