Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
83


__ADS_3

"Pagi Mang Udin, bubur ayam dua ya." Sapa Hira pada penjual bubur yang lama tidak dikunjunginya.


"Pagi Neng, lama gak ke sini. Sama suaminya?" Mang Udin balas menyapa pasangan suami istri yang berdiri di depan gerobaknya.


"Iya Mang." Jawab Hira sembari tersenyum, "minumnya teh hangat aja ya Mang."


"Iya Neng, ditunggu ya." Hira mengangguk, lalu mengajak Erfan menunggu di meja.


"Bee, kamu ngerasa aneh gak?" Bisik Hira, sejak masuk mobil seperti ada yang mengikuti mereka.


"Aneh kenapa Sayang?"


"Motor itu dari tadi ngikutin kita loh." Dagu Hira menunjuk pada motor yang baru saja parkir dan memesan bubur.


"Itu karena tujuan kita sama, Sweety." Jelas Erfan, wajarkan terlihat mengikuti kalau tujuan mereka sama. Istrinya jadi parnoan sekarang.


Dahlah Hira mengangguk saja, mungkin Erfan benar. Pikirannya saja yang terlalu jauh kemana-mana.


"Ini capek banget ya, dari tadi malam ngomongnya aneh. Ini bukan film horor, Sayang." Erfan mengusap lembut kepala Hira yang terlapis pashmina. "Mau liburan dulu?"


"Kamu sibukkan, Bee."


"Nanti kalau Tian pulang kita liburan. Sejak nikah kita belum ada liburan."


"Ini Neng, Mas, buburnya." Mang Udin membawakan dua mangkok bubur lalu disusul dua gelas teh.


"Makasih Mang."


"Selamat menikmati Neng, Mas." Hira dan Erfan mengangguk bersamaan.


Sembari menunggu bubur dingin pasangan suami istri itu mengobrol ngarol ngidul. Kadang cekikikan bersama.


Selesai makan Hira membayar bubur, sedang Erfan setia berdiri di sampingnya. Sambil menunggu kembalian Hira membuka ponsel. Memeriksa jadwal hari ini yang sudah dikirim asistennya.


Tidak ada jadwal opersi hari ini. Hira memasukkan ponselnya dalam tas kembali setelah selesai.

__ADS_1


"Ini Neng kembaliannya."


"Makasih Mang." Hira mengambil uang kembalian. "Ayo, Bee." Ajaknya, Erfan mengangguk berjalan lebih dulu membukakan mobil.


Brukk


Seseorang menabrak tubuh Hira, "maaf mbak." Ujar orang itu lalu cepat pergi menggunakan motornya. Erfan spontan membalikkan badan mendengar orang minta maaf.


"Sweety!" Pekik Erfan, istrinya sudah bersimbah darah. Pisau lipat tertancap di sana. "Tolong, kejar motor itu." Teriak Erfan pada orang-orang yang ada di sana. Ada dua orang yang segera mengejar.


"Neng Hira, Ya Allah. Neng." Pekik Mang Udin melihat darah yang menetes di tanah. Ia membantu membawa Hira ke mobil.


"Makasih Mang, nanti saya ke sini lagi. Kalau bapak-bapak yang ngejar motor tadi datang tolong kasih ini." Erfan memberikan kartu namanya lalu masuk ke mobil. Rumah sakit ada di seberang jalan. Ia segera melajukan mobilnya. Baru lengah dua menit istrinya sudah seperti ini.


"Bertahan, Sweety." Erfan menepuk-nepuk pipi Hira.


"Iya, Bee." Sahut Hira, agar suaminya tidak khawatir. Kejadian tadi begitu cepat saat orang itu menambraknya. Ia tak sadar pisau itu sudah tertancap.


"Benarkan Bee, kita sudah diikuti." Ucap Hira sambil menyunggingkan senyuman. Tanpa mempedulikan rasa sakit di perutnya. Juga tak ada kalimat yang keluar keluhan di bibir manis itu.


Erfan saja meringis melihat darah yang terus keluar itu. Bagaimana keadaan kandungan istrinya. Ia tak bisa berpikir sekarang.


Erfan segera menggendong tubuh Hira menuju IGD. Tubuh mungil itu bermandikan darah segar.


"Kamu kuat ya Sayang." Ucap Erfan saat meletakkan Hira ke brankar, lalu mengecup di kening.


"Dokter Hira!" Pekik perawat yang ada di sana, kemudian membawa cepat brankar itu. "Pak Erfan tunggu di luar dulu ya." Ujar perawat yang lain. Pria itu hanya mengangguk mengikuti sampai pintu di depannya tertutup.


Erfan menghubungi Ressa untuk membatalkan semua jadwalnya. Ia juga menghubungi Hardiyata dan Btari.


Semua terjadi begitu cepat, Erfan sampai syok. Semua terasa seperti mimpi di siang bolong.


"Erfan...!" Zaky datang bersama dokter Rizal, "jadi Hira yang ditusuk orang tak dikenal?" tanyanya untuk memastikan. Ia langsung ke sini setelah mendapat kabar salah satu dokter masuk IGD dengan luka tusuk.


Erfan mengangguk, menunjukkan pakaiannya yang sudah bersimbah darah.

__ADS_1


"Di mana?" tanya dokter Rizal.


"Bubur ayam di depan sana." Sahut Erfan lemas, Zaky mendesah berat, di sana sudah pasti tidak ada cctv.


"Semoga kandungannya baik-baik aja." Harap Zaky, dokter Rizal menggeleng lemah. Usia kandungannya masih muda. Kemungkinan besar tidak bisa di selamatkan.


Erfan tidak apa kalau anaknya tidak bisa di selamatkan. Asal istrinya baik-baik saja. Setelah satu jam ditangani. Hira dipindahkan ke ruang rawat. Perempuan itu tersenyum menyambut suaminya datang.


"Belum ganti baju, Bee?" Erfan menggeleng, ia merasa gagal menjaga istrinya dengan baik.


"Jangan sedih, akukan mau masuk surga pakai orang dalam. Sekarang Allah kabulkan, anak kita sudah menunggu di sana." Ucap Hira tenang, terlihat seperti tidak sedang sedih atau terluka. Bukan tidak sedih, jika ditanya Hira-lah orang yang paling terpukul sekarang. Tapi ia tau, beban Erfan sudah banyak, Hira tidak mau menambahnya lagi.


"Sekuat apasih istriku ini." Erfan tersenyum menciumi wajah istrinya, "sayang banget, tadi aku yang dandanin tapi aku juga yang menghapusnya." Pria itu mengusap wajah sang istri lembut, menyisiri setiap inci di sana.


"Bee ganti baju dulu ya, aku gak tahan bau amis darahnya pekat banget." Ujar Hira, bukan, bukan itu alasan sebenarnya. Melihat noda darah itu rasanya sangat menyakitkan.


Kejadian satu jam yang lalu bagai mimpi buruk untuknya. Saking syoknya Hira sampai tak merasakan sakit saat pisau itu tertancap di perut.


"Iya, aku pinjam baju Zaky dulu ya."


Hira mengangguk, menatap punggung suaminya yang menjauh.


"Kita belum Allah takdirkan bersama Sayang." Hira mengusap perutnya yang tidak terluka. Luka tusukan yang ia dapat sangat dalam. Janinnya tidak bisa diselamatkan. "Tunggu mama papa di sana ya." Satu tetes cairan bening terjatuh dari matanya.


"Tuhkan bisa nangis." Goda Erfan yang sudah kembali, "suka banget nangisnya kalau lagi sendirian. Gak mau ditemani."


"Kok cepat sih, Bee."


"Kan pakai ilmu kilat Sayang. Masih bau amis gak?"


"Udah wangi kok, sini peluk dulu." Pinta Hira, Erfan menurut, mendekati istrinya memberikan pelukan hangat. "Maaf, aku gak bisa mempertahankan anak kita, Bee." Bisik Hira pelan.


"Bukan salah kamu Sayang. Kita bisa bikin lagikan." Goda Erfan lalu memberikan kecupan di kening. "Setelah kamu sembuh kita liburan, Sayang."


"Kalau urusan bikin kamu mana pernah nolak, Bee." Erfan tertawa kecil, istrinya ini lagi sedih tapi masih bisa bikin orang tertawa.

__ADS_1


"Cinta banget sama istriku ini, gak mau jauh-jauh." Ujar Erfan, "nyaman banget ya di peluk jadi gak gerak," goda pria itu lagi.


"He'eh, tempat ternyaman yang aku suka, Bee. Di manapun tempatnya gak masalah asal dalam pelukan kamu." Ucap Hira penuh perasaan. Erfan sudah menjadi rumah untuk tempatnya pulang. Seberapa lelahpun tubuhnya, tempat itu selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman.


__ADS_2