Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
123


__ADS_3

"Kamu itu susah banget kalau dibilangin. Kamu suka liat aku terbakar cemburu gitu. Aku sudah bilang, berhenti temui Erfan. Itu bahaya buat kamu." Malam ini Galih mengomeli pacarnya sampai puas.


"Kalau tau gini, dari awal aku gak mau nurutin kemauan kamu."


"Sayang, Tian gak ngapa-ngapain aku," rengek Salwa.


"Gak ngapa-ngapain? Dia megang-megang kamu." Geram Galih, ia tidak suka melihat Salwa seperti terbakar gairah dalam pelukan Tian siang tadi. Kalau tidak ingat sedang dalam misinya, Galih akan menghajar Tian saat itu juga.


"Ya udah sini hapusin," ujarnya bergelayut manja di leher sang pacar. Galih mana bisa tahan kalau sudah begini, ingin marah pun tak bisa.


"Jangan bertemu Erfan lagi." Bisiknya sebelum mencumbui gadis itu, Salwa mengangguk patuh. Menikmati setiap sentuhan Galih yang membuatnya candu.


Tanpa mereka sadari, kamar itu sudah terpasang kamera tersembunyi dan penyadap suara.


Di tempat lain Erfan memaki Guntur yang tidak mau berhenti menonton adegan live itu. Seru katanya tanpa sensor.


"Lo cukup ambil rekaman itu buat barang bukti, bukan dikonsumsi untuk diri sendiri." Berang Erfan, berapa banyak dosa yang sudah ia perbuat. Tadi siang membiarkan Tian mencumbui gadis itu. Malam ini ia membuat Guntur menonton adegan 21+.


"Bentar ih, lo gak nonton juga kenapa ribet sih." Kesal Guntur karena ketenangannya terusik.


"Gue yang ikutan nanggung dosanya, dah lah gue ke rumah sakit aja." Setelah dari hotel tadi mereka kembali ke kantor Emeral Corp.


"Eh, tunggu gue ikut. Lo sendirian kan, gue temenin jaga Hira."


"Serah lo, rumah sakit juga punya lo." Jawab Erfan acuh, meninggalkan lelaki itu. Guntur bisa menyusul, mereka membawa mobil masing-masing.


"Dasar gak tau terimakasih." Omel Guntur kesal karena ditinggalkan Erfan sendirian. Terpaksa ia menghentikan totonan livenya, lalu menyusul temannya itu ke rumah sakit.


Setelah membersihkan diri Erfan menemui putri kecilnya.


"Assalamualaikum kesayangan daddy, maaf baru datang sekarang. Kamu sehat-sehat ya, Sayang. Daddy tunggu kamu keluar dari rumah kaca ini." Ucapnya seraya tersenyum manis.


Selepas menemui putrinya Erfan menemui sang istri, ia hanya bisa sebentar menjenguk si kecil itu.


"Assalamualaikum Sweety, cepat bangun. Mas kangen. Sebentar lagi Mas akan buktikan sama kamu, kalau Mas gak pernah menyentuh perempuan itu, Sayang." Lelaki itu mengecup singkat kening Hira, ia sudah meminta orang tuanya untuk istirahat di rumah malam ini, biar dia yang menjaga istrinya.


"Terimakasih sudah berjuang melahirkan putri kita. Mau dikasih nama apa, Sayang. Aku panggil dia Erra, ya." Erfan mengusap lengan istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Gadis kita sangat lucu, badannya mungil. Aku gemas sekali ingin bisa memeluk dan menciumnya." Curhat Erfan, berharap istrinya mendengar semua itu dan bisa segera bangun. Ia beranjak dari ruangan sebentar, Guntur menunggunya di luar.

__ADS_1


"Ngapain lo di sini, bukan nemenin. Malah ngajak gue ribut yang ada," desis Erfan.


"Lo gak tau terimakasih banget deh." Guntur berdecak kesal, "sudah baik gue mau nemenin lo di sini."


"Gue mau nemenin Hira di dalam, lo mau sendirian di luar? Gak kan. Dah lo pulang aja istirahat sana."


"Nanti kalau ada yang nukar bayi lo dengan mayat bayi gimana?" Tanya Guntur polos. Erfan memutar bola mata jengah.


"Ini bukan sinetron, lagian kamar bayi juga di jaga. Siapa yang mau nyulik bayi."


"Siapa tau ada yang iseng." Ujar Guntur asal, "lo aja hasi culikan." Lanjutnya setelah mengingat bagian itu, Erfan hanya bisa mendesah berat. Benar juga, dia dulu hilang waktu di rumah sakit.


"Kalo sampai terjadi, rumah sakit ini gue laporin karena pelayanannya gak bagus."


Guntur memelototkan mata, ia salah bicara. Kalau terjadi apa-apa, sudah tentu rumah sakit ini kena imbasnya.


"Dah lo balik sana, jangan cerewet. Lanjutin aktivitas nonton lo yang terjeda sambil nyari pelampiasan sana." Ujar Erfan tersenyum mengejek.


"Sial," desis Guntur lalu meninggalkan Erfan dengan tampang kesal.


"Untung berguna," gumam Erfan lalu kembali ke ruangan. Lelaki itu memejamkan mata dengan menggenggam tangan Hira. Menghilangkan segala rasa lelahnya.


"Sweety sudah bangun?" Tanya Erfan sambil tersenyum manis.


"Mana anak kita Mas?" Tanyanya masih dengan suara yang sangat pelan.


"Ada Sayang, masih dalam inkubator. Gadis kecil kita cantik seperti kamu." Ucap Erfan, setelahnya ia mundur karena dokter datang memeriksa kondisi istrinya.


Lelaki itu bisa bernapas lega, karena dokter mengatakan kondisi Hira sudah stabil. Ia kembali mendekat ke sisi istrinya setelah dokter selesai memeriksa.


"Maafin Mas, Sweety." Erfan mengecup tangan Hira, "terimakasih sudah bangun dan berjuang untuk melahirkan putri kita."


"Kamu masih marah sama, Mas?" Tanya Erfan Kala istrinya hanya diam tak merespon.


"Aku pengen marah!"


"Jangan, mending pengen dipeluk aja. Satu malam gak ngelonin kamu kangen banget. Adek sampai ngambek pengen cepat keluar gitu, baru satu hari jauh dari daddy."


Hira terkekeh kecil, absurd sekali pikiran suaminya itu. "Gimana, Galih sudah beres?"

__ADS_1


Erfan mengernyit, dari mana Hira tau tentang Galih. "Kamu tau?"


"Tau," jawab Hira sambil tersenyum.


"Kamu gak beneran marah?" Selidik Erfan, istrinya malah tertawa kecil. "Ih, kenapa ngerjain Mas sampai hampir gila gini sih." Kesal Erfan, ia sudah seperti orang bodoh saat Hira marah dengannya.


"Kapan kamu taunya?" Tanya Erfan kesal.


"Dari awal, sebodoh apa sih aku sampai gak tau kalau itu bekas kissmark yang baru dibuat atau udah lama."


"Terus, ngapain kamu sampai marah gitu, badan aku sakit tau tidur di lantai." Adu Erfan dengan wajah masam.


"Gak ada yang minta kamu tidur di lantai, Bee." Katanya dengan bibir tak berhenti tersenyum. Ingin tertawa tapi badannya masih lemas.


"Sella ngasih tau kamu?" Istrinya itu mengangguk. "Kalau aku gak keyayasan hari itu kamu gak bakalan ngasih tau aku."


"Gak gitu juga, aku mau ngasih tau kamu. Tapi kamu keburu tau sendiri, ya gak jadi."


"Nakal, aku gak suka kamu akting marah gitu. Gak lucu!" Erfan bersungut kesal.


"Tapi aku suka," jawabnya tanpa dosa.


"Terserah mommy ajalah," pasrah Erfan membaringkan kepalanya di samping sang istri, "asal kamu bisa bangun aku sudah senang."


"Kamu bahagia?"


"Tak terhingga seperti bilangan matematika. Hampir aku bunuh orang yang udah bikin kamu gini." Adunya dengan suara sendu, Erfan benar-benar sangat menyayangi istrinya ini.


"Siapa?"


"Salwa."


"Kenapa Salwa?"


"Karena dia yang udah bikin kamu banyak pikiran dan stress. Jadi adek cepat keluar," geramnya.


"Kalau adek cepat keluar itu emang sudah ketentuan Allah, bukan salah Salwa." Jelas Hira pelan, "kamu bukan Tuhan yang bisa mengatur nyawa seseorang, Bee. Setelah membunuh orang lain, kamu akan hidup dalam penyesalan. Aku gak mau itu terjadi sama kamu, sama keluarga kecil kita. Serahkan semuanya sama yang berwajib. Dosa mereka biar jadi urusan mereka dengan Allah. Kita bukan panitia amal yang bisa menghakimi dosa orang lain." Hira membelai lembut rambut suaminya lalu memberikan satu kecupan di sana.


"Makasih, Sweety." Hira adalah orang yang bisa membuat Erfan marah dan juga lemah dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2