Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
53


__ADS_3

Hira menyirami tanaman dengan riang. Walau sudah dilarang Mang Jani tukang kebun tetap saja ia melakukannya. Bukan pekerjaan berat, tidak akan langsung membuatnya sakit, Hira tidak semanja itu walau suaminya kaya raya. Ia sedang sendirian di rumah, Erfan sedang sibuk mengurus pembukaan kantor cabang EXTNET di Indonesia.


"Non Hira ada tamu di depan." Panggil Bi Atun, siapa yang datang ke rumah. Apa Ressa yang datang menjenguk, batinnya.


"Sebentar Bi." Hira mematikan keran air, "Mang Jani, saya tinggal ke dalam ya." Ucapnya pada tukang kebun yang sedang memotong rumput.


"Iya Non, nanti saya lanjutin." Hira mengangguk, langsung menuju ruang tamu. Bukan Ressa yang datang. Hira membeku tidak berani melanjutkan langkahnya. Reny yang datang, ibu mertua yang tidak pernah merestuinya.


Perempuan paruh baya itu mendekat, Hira mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi ditepis. Senyuman miring terukir dari bibir Reny.


"Enak-enakan ya kamu tinggal di rumah anak saya. Sudah berapa banyak uang anak saya yang kamu habiskan? Masih belum puas ya kalau belum menikahinya." Reny berucap sinis, meneliti tubuh Hira dari ujung kepala hingga kaki.


"Maaf Bu, aku gak pernah minta apapun dari Mas Erfan." Jawab Hira dengan tubuh yang bergetar.


"Jangan sok polos dihadapan saya, saya tidak sudi punya menantu seperti kamu. Sekarang kamu tinggalkan Erfan kalau ingin hidupmu tenang."


Hira tidak dapat menyembunyikan ketakutannya, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat yang sudah mengucur deras. "Saya tidak mungkin meninggalkan Erfan Bu, kami sudah menikah."


"Camkan perkataan saya kalau tidak ingin hidupmu menderita. Berapa kamu perlu uang, saya kasih sekarang."


Hira menggelengkan kepala, "saya tidak perlu uang Bu."


"Jadi pelacur jangan sok suci." Bentak Reny, Hira menundukkan kepala, wajahnya sudah memucat. "Perempuan gila seperti kamu tidak pantas untuk Erfan." Tambah perempuan paruh baya itu dengan tatapan berapi-api.


"Mami, cukuuup!" Teriak Erfan dari depan pintu, ia berlari mendekati tubuh istrinya yang gemetar membawanya dalam gendongan. Posisi ternyaman gadis kanggurunya saat seperti ini. Hira meringis, kakinya masih sakit kalau Erfan menggendongnya dengan posisi begini.


"Jangan pernah urusi kehidupan Erfan lagi."


"Mami melakukan semua ini buat kebaikan kamu, Erfan!" Tegas Reny, Erfan menggeleng lalu tersenyum sinis.


"Itu buat kebaikan Mami bukan Erfan, lebih baik Mami pulang sekarang!" Usir Erfan, lalu meminta security untuk membawa sang Mami keluar. Ia harus melakukannya agar istrinya tidak ketakutan lagi.


Tadi Erfan sedang mengurus perijinan kantor cabang EXTNET saat Bi Atun menelpon memberitahu ada perempuan yang memarahi Hira datang ke rumah. Ia langsung pulang takut istrinya kenapa-kenapa. Mami memang tau alamat rumahnya, karena itu rumah yang Mami pilih untuk Bilqis.


Terpaksa urusannya Erfan tinggalkan. Sudah lama EXTNET ingin dibuka di Indonesia, namun ia selalu menundanya. Karena Erfan harus mengurus perusahaan Papi. Baru sekarang ia merealisasikan keinginan dua temannya itu.

__ADS_1


"Sayang!" Erfan menaiki tangga membawa Hira ke kamar, suara sesenggukan masih terdengar jelas di telinganya. Ia tidak mengajak bicara lagi, membawa Hira ke balkon sambil mengelus punggung Hira dengan penuh cinta.


"Sayang, kalau sudah tenang bilang ya." Sekarang Hira sudah tidak histeris dan meronta-ronta lagi, hanya menangis kalau sedang ketakutan. Sedikit perubahan yang Erfan rasakan.


Ia tidak habis pikir kenapa Mami suka sekali menghina Hira. Erfan sudah memasang cctv dan penyadap suara di rumahnya. Ia sudah mendengar kalimat pedas yang diucapkan sang mami. Sekarang Hira sudah tertidur. Kebiasaan Hira setelah mengalami hal tak mengenakan akan menangis kemudian tertidur. Tidurnya tidak pulas, lebih sering mengalami mimpi buruk. Erfan sudah hapal semua itu.


Tak beranjak sedikitpun dari ranjang menunggu Hira bangun. Mata sembab itu membuat Erfan semakin membenci Reny yang sudah membuat istrinya menangis.


"Erfan!"


Hira mengerjapkan mata. Erfan meletakkan laptop ke atas nakas, lekas menyambut Hira dengan senyuman. "Yes, Sweety. Mau sesuatu?"


Hira memberikan gelengan lalu duduk di sisi Erfan memeluk lengan kekar suaminya. "Lagi sibuk apa?" tanyanya melirik ke arah laptop yang masih terbuka.


"Sibuk nungguin kamu bangun, lama banget tidurnya bikin kangen." Erfan merangkul Hira sambil mengusap-usap lengannya.


"Aku tidur juga bikin kangen ya?" Goda Hira, ia sengaja menyembunyikan ketakutannya dari Erfan.


"Banget, kangen itu." Hira mencubit lengan Erfan dengan sepuasnya, "auww, sakit Ra. Ampun." Hira tidak berhenti melanjutkan aksinya.


"Hm."


"Gak suka dipanggil Bee?" Hira menatap Erfan kesal. Si empunya malah tersenyum geli. Menangkup pipi Hira gemas.


"Suka Sayang, apalagi kalau ini." Erfan sudah ******* lapar bagian wajah yang paling menggoda itu tanpa aba-aba. Tidak mempedulikan Hira yang terengah hampir kehabisan napas. "Sangat suka." Katanya setelah menjauhkan bibir.


"Huhh, main nyosor aja." Hira memukul bahu Erfan keras.


"Tadi Mami apain kamu Ra, mau cerita?" Erfan sudah tau apa yang terjadi, ia ingin Hira meluapkan perasaannya agar lega.


"Aku takut, Bee. Mami mau misahin kita, aku takut jauh dari kamu. Aku takut Mami benar-benar ngambil kamu dari aku. Aku hanya punya kamu, Bee." Erfan setia mendengarkan, mengelus rambut Hira berulang kali.


"Tidak ada yang misahin kira Ra, cuma Allah yang bisa melakukannya Sayang. Jangan takut ya, aku akan selalu menemani kamu di sini."


"Kalau Mami datang lagi gimana?"

__ADS_1


"Gak akan, Mami gak ada datang lagi Sayang." Erfan meyakinkan Hira. Ia sudah bilang pada security agar tidak ada yang boleh bertamu tanpa ijinnya. "Sekarang taukan apa alasannya aku gak bolehin kamu kerja. Sekarang terserah kamu maunya gimana." Ucap Erfan pelan, berharap istrinya melakukan sesuai yang ia mau.


"Kalau aku masih mau kerja dibolehin gak?"


"Pasti Sayang, asal hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."


"Pasti Bee, siapa lagi tempatku mengadu kalau bukan kamu." Hira tersenyum menoel hidung Erfan.


"Cuma itu yang di toel, ini juga mau dimanja sama kamu Sweety." Erfan menunjuk juniornya yang sudah bangun, Hira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu.


"Bee kamu mesum." Erfan tergelak menyembunyikan kepala Hira di keteknya. "Mesumnya bikin pahala Sayang." Hira bikin Erfan gemas sampai ke ubun-ubun aja nih. Ia melepaskan kepala Hira kala suara pintu di ketuk.


"Maaf Den, ada paketan buat Non Hira." Erfan beranjak dari ranjang membuka pintu, lalu mengambil paketan dari Bi Atun.


"Makasih Bi." Ucap Erfan kemudian menutup pintu memberikan paketan pada istrinya. "Pesan apa Sayang?"


"Gak ada Bee, aku juga belum hapal alamat rumah ini." Kening Erfan mengkerut, Hira membuka paketan tanpa nama. Satu plastik hitam bungkus paling luar terbuka, masih ada lagi lapisan kertas selanjutnya Hira sobek.


"Aaaaaa...!!" Pekik Hira nyaring melempar kotak yang dipegangnya, menutup telinga dengan kedua tangannya sambil menangis histeris.


"Sayang, kenapa?" Erfan yang baru keluar dari kamar mandi terkejut mendengar teriakan Hira. Tadi ia meninggalkan Hira sebentar, tidak menemaninya membuka bingkisan itu.


Erfan berjongkok mengambil kotak yang terjatuh di lantai. Astaghfirullah, ulah siapa ini. Paket itu berisi tiga bangkai tikus putih yang dipenuhi darah. Juga sebuah kertas bertulisan 'Kamu Harus Mati'. Ia sangat kenal siapa pemilik tulisan itu.


"Sweety!"


Panggil Erfan, ia sudah membawa Hira dalam gendongan. Mengajaknya berkeliling di taman agar lebih rileks. Kedua tangannya menahan bokong Hira, kaki jenjang itu melingkar di pinggangnya. Posisi ternyaman si gadis kanguru. "Menangislah Sayang kalau itu membuat takutmu berkurang." Ia tau Hira tidak tidur, suara tangis masih bisa di dengarnya.


"Bee!"


"Yes Sweety!"


"Takut!" Hira mendongakkan kepala, melingkarkan tangan di leher Erfan.


"Apa yang bisa membuat takutmu hilang Ra." Erfan membawa Hira yang masih dalam gendongan duduk di kursi taman. Jari-jarinya menyapu lembut pipi Hira, menghilangkan bekas air mata yang menempel di sana. Ia tak tega melihat istrinya mendapat tekanan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2