Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
74


__ADS_3

Hira berada di salah satu kamar tamu rumah mewah Hardiyata sekarang. Ibu hamil itu beranjak menuju balkon.


"Kalian menginap kan?" Hardiyata melirik Erfan yang meletakkan ranselnya di sofa.


"Lihat situasinya nanti, Pak," jawab Erfan. Tidak berapa lama pelayan datang membawakan jamuan untuk mereka.


"Kenapa ramai sekali Pak, susah untuk membedakan mana yang ada di pihak Bapak dan mana yang dipihak musuh." Protes Hira, baru menginjakkan kaki ke rumah ini ia sudah berani protes.


"Sayang, Pak Hardiyata pasti sudah memikirkannya." Tegur Erfan lembut, pria itu beranjak menuju balkon. Berdiri di samping istrinya. Hira menggeleng pelan.


"Kamu tau arti surat itu?" Matanya tak beralih dari menatap langit. "Inilah yang mereka maksud, Bee. Kita terjebak di sini."


"Kalian dapat surat lagi?" Hardiyata ikut mendekat. Erfan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Hanya Ikbal yang tau kalau kita bertemu tadi siang Pak, orang yang mengirim surat itu pasti tau kalau kita akan bertemu lagi. Siapa yang bisa menjamin kalau para polisi itu benar-benar bersih."


"Jadi kamu mencurigai Ikbal membelot?" tanya Hardiyata. Hira mengangguk tanpa rasa takut.


"Kamu bertemu Pak Hardiyata tadi siang?" Erfan ikut bertanya, sepertinya Hira keceplosan bicara, duh.


"Iya Bee. Aku juga sudah melakukan test DNA kalian." Cicit Hira, tak berani menatap mata suaminya yang menajam.


"Sweety, kenapa kamu bertindak sendirian. Kamu tau itu bahaya." Hira mengangguk lemah, Erfan memeluk istrinya erat. Entah Hira itu tak mengerti bahaya yang ia maksud atau apa. "Kalau mereka lebih dulu menculikmu tadi siang, bagaimana?" Lirihnya.


"Maaf Bee, kita harus kerjasamakan? Aku tau kamu sibuk, makanya aku yang mengambil bagian ini. Maaf."


"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kamu kenapa-kenapa, Sweety. Jangan diulangi lagi." Hira mengangguk setelah Erfan mengurai pelukannya. Pria itu membawa istrinya duduk di sofa diikuti Hardiyata.


Hardiyata hanya mengamati interaksi pasangan suami istri itu.


"Kenapa kamu mencurigai Ikbal, Sayang?" tanya Erfan lembut.

__ADS_1


"Dia kepo, Bee. Aku gak suka." Sang suami terkekeh kecil, tuduhan sebesar itu Hira anggap main-main. "Aku yakin apa yang mereka rencanakan malam ini sudah bocor." Lirih Hira.


"Sayang, kita gak bisa cuma mengandalkan perasaan. Harus realistis, Sweety." Erfan mencoba memberikan pemahaman pada istrinya.


"Bee..." kesal Hira, suaminya itu tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.


Tak ingin berdebat, Erfan mengeluarkan laptop dari ransel. Ia juga sudah meminta Guntur untuk membantu.


Hardiyata masih setia mendengarkan perdebatan suami istri itu. Dering ponselnya memecah ketegangan. Lelaki paruh baya itu menjawab telepon, sedetik kemudian muncul senyuman lega dari bibir renta itu.


"Ikbal, sudah menemukan lokasi istri saya. Saya akan ke sana sekarang, kalian tunggu di sini ya." Erfan dan Hira saling pandang lalu mengangguk bersamaan.


Hardiyata meninggalkan kamar tamu, ia menemui Ikbal di ruang kerjanya. Lalu mereka pergi bersama beberapa polisi dan pengawal. Sebagian berjaga-jaga di rumah. Pria paruh baya itu mengabaikan pemikiran ibu hamil yang menganggap Ikbal membelot. Asistennya ini terbukti cerdas dapat menemukan istrinya dengan cepat.


Ikbal melajukan mobilnya menjauh dari daerah perkotaan bersama satu mobil patroli dan satu mobil pengawal. Malam belum larut tapi jalanan yang mereka lewati sudah sepi.


"Berapa jauh jaraknya, Ikbal?"


"Kurang lebih satu jam perjalanan Pak." Hardiyata mengangguk, tidak banyak bertanya lagi. Pikirannya sibuk menerawang jauh, semoga istrinya baik-baik saja.


"Siapa mereka?" tanya Hardiyata.


Para pengawal dan polisi sudah berada di luar, mereka membereskan tiga mobil yang menghadang.


"Sepertinya orang-orang suruhan mereka Pak. Bapak tidak kenapa-kenapa?" Ikbal melepas sabuk pengaman membantu Hardiyata keluar dari mobil. Dua pengawal yang duduk di kursi belakang juga mengikuti. Mereka khusus melindungi bosnya, apapun yang terjadi.


"Saya baik-baik saja."


"Kita harus pindah mobil, Pak. Biar mereka yang mengurus orang-orang itu." Ikbal akan mengambil alih mobil yang tadi di bawa pengawal. Ia sudah menghubungi anak buahnya yang lain untuk menyusul.


Tak bisa lolos begitu saja, mereka ikut di serang dari arah belakang saat ingin berpindah mobil. Baku hantam terjadi, untung dua pengawalnya gesit dalam melindungi.

__ADS_1


Sehinggal Ikbal tak perlu mengeluarkan banyak tenaga, perjalanan masih jauh. Mereka segera masuk ke mobil, setelah berhasil mengatasi orang-orang yang tadi menghalanginya.


"Bahaya kalau kita masuk ke sarang musuh hanya berempat." Ucap salah satu pengawal setelah mereka berhasil kabur. Orang-orang yang ingin mengejarnya berhasil dilumpuhkan polisi.


"Mereka akan segera menyusul." Ucap Ikbal tenang, sebuah rumah yang terpencil menjadi tujuan mereka. Rumah itu sudah terlihat dari jarak lima puluh meter, ada tujuh orang penjaga yang terlihat di sana. Tidak bisa gegabah karena mereka kalah jumlah. Sambil menunggu bantuan datang, mereka mengamati gerak-gerik para penjaga.


"Kita ketahuan," desis pengawal. Melihat tiga orang penjaga yang berjalan ke arah mobil mereka.


"Shitt..!" Umpat Ikbal, "kita harus keluar dari mobil. Kalian lindungi Bapak, saya akan mengalihkan perhatian mereka. Kalau sudah aman kalian langsung masuk, amankan Ibu." ujarnya memberikan pistol pada Hardiyata.


"Ikbal, hati-hati." Ucap Hardiyata sebelum Ikbal keluar dari mobil. Asistennya itu sudah seperti anaknya sendiri.


"Jangan khawatirkan saya Pak, saya akan baik-baik saja." Ujarnya tersenyum, "setelah saya melepaskan tembakan, baru kalian keluar." Pesannya pada pengawal, dua orang pengawal itu mengangguk bersamaan.


Kondisi di daerah itu lenggang, tidak terdapat pepohonan. Tidak ada tempat untuk Ikbal mengendap-endap dan bersembunyi. Di bawah penerangan cahaya rembulan, ia melepaskan satu tembakan untuk mengalihkan perhatian dari para penjaga yang berjalan ke arah mobil.


Saat itu juga Hardiyata keluar dari mobil, dipimpin oleh pengawal. Sudah tidak ada orang yang menjaga gerbang. Ikbal berhasil mengalihkan atensi mereka. Memudahkan Hardiyata masuk ke dalam rumah itu, tidak ada penjaga lagi di sana.


"Aneh." Guman Hardiyata, "tidak ada orang di sini."


"Kita dijebak." Ujar salah satu pengawal.


Suara tepuk tangan yang datang dari arah belakang mengalihkan perhatian tiga orang itu.


"Selamat datang Hardiyata, long time no see."


Hardiyata berdecak melihat orang yang ada dihadapannya sekarang. "Ternyata kamu masih belum bisa menerima kekalahan." Katanya tersenyum miring, "di mana istriku?"


Orang itu tertawa lalu menunjuk ke arah kamar. "Dia sudah menunggumu."


Hardiyata melewati orang itu lalu menuju kamar yang dimaksud.

__ADS_1


"Selamat bersenang-senang, Hardiyata." Teriaknya dengan suara tawa yang menggema.


"Kalian, ikut saya." Ucapnya lagi pada dua pengawal yang masih berdiri di depannya. Rencananya untuk menyiksa Hardiyata terlebih dulu gagal karena ulah istri Erfan itu. Terlalu cepat mereka memberikan dukungan untuk Hardiyata. Terpaksa ia mengubah rencana awal, jadi menyekap keduanya itu akan lebih menyenangkan.


__ADS_2