
"Kalau waktu bisa diulang kembali aku tidak akan menyia-nyiakan waktu enam bulan ini untuk mendampingimu Sayang. Katakan aku harus apa biar bisa mendapatkan maafmu." Lirih Erfan, mengecup lama kening Hira. Menyalurkan rasa rindu yang terbendung berbulan-bulan ini.
"Diam Mas, aku ngantuk." Hira berujar dingin mengabaikan ocehan sang suami. Hati yang terlanjur terluka sulit untuk diobati. Bukannya marah menanggapi istrinya yang ketus, Erfan malah mengusap lembut bibir Hira dengan jempolnya.
"Mas!" Hira menjauhkan tangan Erfan dari bibirnya lalu membalikkan badan. Tak kehabisan akal lelaki itu memeluk sang istri dengan erat.
"Aku capek Mas, jangan ganggu. Ajak pacarmu aja sana." Bentak Hira menjauhkan tangan Erfan yang melingkar di pinggangnya.
Tak mempedulikan istrinya yang marah-marah Erfan semakin mendekat. Mengikis jarak antara keduanya. Ia sudah tidak tahan untuk melepas rindu.
Hira menghempas tangan Erfan yang semakin menggerayanginya. Ia bangkit dari kasur, kepalanya semakin pusing sekarang. Lelaki itu menatap tajam sang istri yang menjauh.
Hira tidak bisa diajak bermain lembut. Baiklah, Erfan akan mengeluarkan sisi gelapnya. Ia tak terima penolakan saat seperti ini.
"Kamu bisa menghargai suami gak, hah." Bentak Erfan, menarik tangan Hira membantingnya di tempat tidur. Hira menutup matanya menarik napas untuk menenangkan diri. Berusaha agar tidak menangis sekarang. Sakit diperlakukan seperti ini.
"Inikan yang kamu mau." Lelaki itu melepaskan kemejanya, mengungkung tubuh Hira paksa. "Cara seperti inikan yang kamu mau?" Hira diam, masih dengan mata yang tertutup. Berusaha untuk tetap tenang, dari suaranya Erfan dipenuhi amarah.
Hira tak merespon Erfan yang menangkup bibirnya. Setetes butiran bening akhirnya terjatuh juga. Ia tidak tahan dengan perlakuan suaminya. Hira lebih baik dicerai daripada diperlakukan seperti wanita murahan.
Perempuan itu terbaring lemah masih terbungkus selimut. Setelah Erfan menuntaskan keinginannya dengan kasar. Hira pura-pura tidur, kepalanya berat tapi matanya tak bisa tidur.
Erfan mengusap wajah gusar melihat bekas jahitan di perut sang istri. "Nurut Sayang, jangan bikin Mas marah gini." Ia membawa Hira dalam pelukan. "Mandi dulu yuk Sayang, baru lanjut tidur." Erfan menggendong istrinya ke kamar mandi.
"Maaf, maaf." Hanya maaf yang bisa Erfan ucapkan setelah menjadi lelaki bej*t tadi. Ia tak bisa menahan diri. Hira masih setia membisu, mandipun dalam diam.
Erfan membantu Hira berpakaian lalu mengeringkan rambut. Tak ada meja rias di sana, lelaki itu masih menyisiri sang istri yang tak mau bicara. Setelah selesai baru Erfan beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Hira membaringkan tubuhnya kembali. "Huhh." Berulang kali ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Namun hatinya tak kunjung lega. Sesak masih berkumpul di paru-paru, mendemonya bersamaan.
Tangis tak bisa ditahannya lagi, air mata mengalir begitu saja tanpa dikomando. Hira tidak ingin jadi perempuan lemah, tapi sakit ini tak bisa di elakkan.
Suara isakan tangis itu sampai ke telinga Erfan. Lelaki itu jadi merasa tambah bersalah. Ia datang bukannya mengobati luka malah membuat luka baru untuk istrinya.
"Sweety, ada yang sakit?" Tanya Erfan lembut, walau tau yang sakit itu hati Hira.
"Enggak Mas." Jawab Hira pelan, menyeka air matanya. "Kamu mau minum?" Hira bangkit dari tidurnya beranjak ke dapur.
"Minum dulu." Segelas teh Hira letakkan di atas nakas.
"Makasih Sayang." Erfan menyeduh tehnya sambil tersenyum. Hira duduk di sisi tempat tidur samping suaminya. Tangan lelaki itu mengusap lembut surai hitam sang istri. "Maaf untuk yang tadi, Mas kelepasan. Kangen banget." Erfan membawa tubuh Hira dalam pelukan. "Maaf Sweety."
"Jangan gini Sayang, Mas bisa gila kalau kamu gak mau bicara." Erfan mengecup puncak kepala Hira berkali-kali lalu membaringkan kembali di tempat tidur. "Mas salah, Mas minta maaf, Sayang. Tolong maafin Mas."
"Sakit Mas, kamu mendiamkanku bahkan aku tidak tau salah apa. Kamu mengabaikanku sendirian di rumah sakit. Aku kesepian, aku takut. Sakit, hati aku sakit Mas. Badan aku juga sakit. Kamu lebih memilih keluar sama perempuan lain." Hira mengeluarkan isi hatinya yang tak kalah menyakitkan terdengar di telinga Erfan. Tak ada isak tangis lagi yang perempuan itu keluarkan.
Erfan memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukan. "Aku harus apa agar bisa mendapatkan maafmu, Sweety."
"Tinggalin aku Mas." Pinta Hira lirih, ia juga tak sanggup melakukannya. Hanya itu yang ada dipikirannya sekarang. Ia takut dengan sikap Erfan yang mengerikan saat marah. Tak sadarkah Erfan kalau Hira memiliki trauma saat disentuh dengan kasar. Tapi perempuan itu diam saja takut suaminya semakin marah.
"Aku gak bisa Ra, kamu minta apapun aku turuti tapi jangan minta aku ninggalin kamu. Aku gak bisa jauh dari kau Ra. Please."
Hira tak menggubris, membenamkan wajah di dada bidang sang suami sampai tertidur. Sudah lama ia tak tidur dalam dekapan hangat Erfan. Pelukan itu selalu membuatnya nyaman.
"Sayang." Panggil Erfan karena cukup lama saling diam. Lelaki itu menatap lekat wajah istrinya yang terlelap dengan damai. Erfan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah ayu sang istri.
__ADS_1
"Maaf, sudah menyakitimu Sayang." Kecupan sayang mendarat diseluruh wajah Hira. Berakhir di bibir, lelaki itu tersenyum. Kesayangannya ini bisa membuat Erfan terbakar amarah.
"Maaf sudah memperlakukanmu dengan kasar, Sweety." Sesalnya, sungguh tadi ia hilang kendali karena Hira yang terus memberontak. Erfan tidak bisa diperlakukan kasar seperti itu. Selama jadi istrinya Hira selalu penurut. Lelah berpikir Erfan ikut terlelap dengan tenang.
Hira terbangun masih dalam dekapan sang suami. Sudut bibirnya melengkung ke atas, tangan perempuan itu mengabsen lembut wajah Erfan.
Kebimbangan memenuhi relung hati Hira. Ia sungguh sangat mencintai suaminya. Namun ada bisikan yang memintanya untuk menjauh dari kekasih halalnya ini.
Masih ada ketakutan yang bersarang di hati Hira. Ia hanya perempuan biasa yang ingin dimengerti. Banyak luka yang terpatri di hati ini.
"Sweety, sudah bangun Sayang?" Erfan memberikan satu kecupan di kening.
"Aku lapar Mas." Ujar Hira dengan suara manja, suaminya itu hanya tersenyum. Erfan sangat senang, Hira sudah mau berbicara dengan manja padanya. Kelangsungan hidupnya akan jadi tambah panjang.
"Mas juga lapar, tapi mau makan kamu Sayang." Goda Erfan, menciumi kepala istrinya dari samping. Ia belum puas melepaskan rindu, apalagi tadi hanya Erfan sendiri yang bekerja.
"Nanti aja kalo itu." Sahut Hira acuh, lalu bangkit dari duduk. Ia akan memasak, bahan makanan masih banyak.
"Beneran boleh minta jatah?" Erfan mengintili sang istri ke dapur. Hira hanya berdehem, ditolak juga bakalan maksa, hatinya bergumam. Dahlah Hira pasrah saja, setelah Erfan pulang baru ia pikirkan langkah selanjutnya.
"Kamu kalo jadi pendiam gini, nyeremin Sweety." Erfan melingkarkan tangannya di pinggang Hira. Membenamkan wajah di ceruk leher dan menghidu aroma sampo yang dapat membangkitkan hasratnya kembali.
"Mas lepas dulu, aku mau masak nih." Ucap Hira kesal, tangan Erfan semakin merengkuh kuat setiap kali disingkirkan.
"Aku gak kuat Sayang, kita kembali ke kamar yuk." Mohon Erfan dengan memelas.
"Enggak, aku lapar!" Tolak Hira, sekuat tenaga untuk berusaha tetap waras karena tubuhnya sudah meremang. Ah tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama. Masa ia kalah lagi.
__ADS_1
"Kita pesan aja ya, Sayang. Aku gak rela kamu bau bawang." Erfan melepaskan pisau yang berada dalam genggaman istrinya. Memberikan ponselnya pada Hira. "Nih pesan pake ini."
Iyain ajalah daripada suaminya gak pulang-pulang. Hira harus menyiapkan hati yang lapang setelah ini.