
Happy reading...
* * *
"Apa aku boleh lihat ayah sama bunda lagi bikin adik bayi?"
Saat bertanya wajah Kalan terlihat begitu polos, wajahnya yang imut serta bibirnya yang mungil semakin terlihat menggemaskan.
Kaisar dan Yasika saling melempar tatapan, mereka hanya bisa tersenyum kikuk serta menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Mereka bingung dan hanya bisa diam ketika anak itu terus meminta jawaban.
Bukan seorang Yasika namanya kalau ia tidak bisa membuat anak itu berpaling dari pertanyaan yang sangat membuat mereka bingung setengah mati.
"Kalan sayang ... Katanya tadi mau tidur sama bunda?"
Kepala kecil itu mengangguk. "Ya bunda."
"Ya udah, sekarang kita tidur yu? ini udah malam, nanti bunda bacain cerita buat Kalan."
"Asik..." sorak anak itu girang.
Yasika menatap suaminya yang sedang menggendong anak laki-laki nya itu, ia tersenyum tipis dan hanya mengedikkan bahunya acuh. Sementara Kai ia malah memijit pelipisnya, merasa pusing karena ia harus bisa menahan hasratnya yang sudah sangat membuncang.
Kaisar merebahkan tubuh anaknya itu di ikuti oleh Yasika. Tubuh Yasika terhimpit di antara dua laki-laki beda usia itu. Kalan memeluk tubuhnya dari depan, dan Kai memeluk erat tubuhnya dari belakang.
"Bunda..." cicit anak itu.
"Ya sayang kenapa?"
"Bunda kenapa?" ia bertanya, mengangkat wajahnya menatap sang bunda.
"Bunda gak pa-pa." jawab Yasika bingung.
"Tapi kok dadanya bunda merah-merah?" cicit anak itu kembali.
Yasika terkejut dengan mulut menganga.
"Mana? Kalan salah lihat kali." dengan gugup ia menjawabnya.
"Aku gak salah lihat, ini banyak sekali bunda merah-merahnya."
Yasika bingung, sementara sosok laki-laki yang telah memberinya tanda kemerahan itu hanya terkekeh geli di balik punggungnya.
"Kak... " Yasika menyikut lengan suaminya.
"Bundanya di gigit nyamuk Kalan?" jawab Kai tiba-tiba.
"Mana nyamuknya bunda, biar aku tangkap biar gak gigit bunda lagi."
Yasika mulai kebingungan, ia tahu anaknya seperti apa, jika Kalan sudah bertanya maka ia harus mempersiapkan jawabannya.
"Mana bunda nyamuknya?"
"Tuh nyamuknya di belakang bunda." jawabnya spontan.
Kalandra menatap heran wajah sang bunda. Sementara Kaisar ia hanya bisa tertawa pelan.
"Nyamuknya besar, jadi Kalan gak bisa nangkap dia?" Kai berujar seraya terkekeh geli.
__ADS_1
"Emangnya ada nyamuk yang besar?"
"Ada"
"Kayak gimana ayah?"
"Kayak ayah.. " jawabnya santai.
"Kak ... Bisa diem gak? " Yasika melotot tajam.
Kaisar meringis, menatap takut pada istrinya yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.
Tanpa di sadari mereka berdua, bibir kecil mungil yang terus berceloteh itu akhirnya terdiam dengan sendirinya, matanya yang bulat dengan bulu mata lentik itu kini terpejam dengan begitu manisnya. Yasika masih mengelus dan menepuk-nepuk punggung anaknya itu dengan sangat lembut.
"Sayang ... Kalan sudah tidur?"
"Hmm ... Kamu dari mana Kak?"
"Nih.. " ucapnya dengan menunjukkan gelas yang berisi kopi panas.
"Kamu mau makan?"
"Gak.. "
"Kenapa?"
"Aku mau makan kamu ja."
Yasika terkekeh geli, bagaimanapun seorang Kaisar tidak akan pernah lupa kalau ia sudah meminta jatahnya.
Pagi itu, Yasika di selalu di sibukan dengan pekerjaan dapur dan rumahnya. Menjadi seorang istri dan ibu untuk anaknya memang bukanlah hal yang mudah, ia sudah terbiasa untuk membagi waktunya antara mengurus anak dan suaminya. Meski ia di bantu oleh asisten rumah tangga tetapi untuk memasak Yasika-lah yang mengerjakannya.
"Ya bu... " ucap sang bibi lembut.
Yasika berjalan menuju ke kamar dimana ayah dan anak itu masih tertidur dengan pulasnya.
"Kak... "
"Hmm... "
"Ayo bangun dah siang."
"Ya, sebentar lagi ya?"
Sebenarnya bukan hal yang susah untuk membangunkan suaminya itu, cukup hanya dengan memberinya kecupan saja Kaisar akan langsung terbangun.
"Hei kesayangan bunda, ayo bangun sayang." bisiknya lembut di telinga sang anak.
Tubuhnya menggeliat pelan, dan matanya mulai mengerjap kecil. Kalan tersenyum begitu ia melihat sosok perempuan cantik dan lembut yang begitu ia sayang.
"Bunda... "
Yasika tersenyum. "Ayo bangun. Bunda udah bikin sesuatu buat kamu."
"Bunda bikin apa?"
"Makanan kesukaan Kalan."
__ADS_1
Bibir mungil itu tersenyum dengan lebar, menghambur memeluk tubuh erat bundanya.
"Kok yang di peluk cuma bunda aja, ayah gak dapat peluk nih?"
Kalan menoleh menatap wajah tampan ayahnya itu. Ia tersenyum dengan begitu manis, membuat Yasika semakin memeluknya dengan sangat erat.
"Kenapa kamu bisa setampan dan ngegemesin kayak gini sih?"
"Dia sama kayak aku sayang ... Aku juga tampan dan selalu bikin kamu gemas kan?"
Yasika terkekeh, sementara Kalan ia hanya menatap keduanya secara bergantian. Kalan adalah orang yang sangat beruntung, ia di lahirkan oleh wanita yang sangat cantik dan juga ayah yang sangat tampan. Keduanya sangat menyayangi anak semata wayangnya itu, dan bagi mereka berdua tidak ada kebahagiaan lain selain bisa melihat anak itu selalu tersenyum.
"Ayah.. " cicit bibir mungil itu.
"Ya sayang ... Kenapa?"
"Aku mau kita pergi liburan."
Kaisar langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang menyala. "Kamu mau liburan?"
Kepala kecil itu mengangguk. "Ya."
"Kamu mau liburan kemana gitu?"
"Aku mau ke Bali aja." ujarnya dengan mata yang berbinar.
Kai mengernyit, menatap anaknya itu dengan tatapan menyipit. "Kenapa mau ke Bali?"
"Kata temen-temen aku Bali itu indah."
Kaisar tersenyum. "Baiklah kalau kamu mau kesana, kita nanti liburan bersama ya?"
"Horee.... Aku mau liburan ke Bali." teriak anak itu kegirangan. "Aku juga mau liat cewek bule disana, kata temen aku cewek-ceweknya gak pada pake baju."
"Hah ... APA???"
Kaisar terkejut bukan main, mulutnya sedikit terbuka, dan matanya membulat sempurna. "Apa kamu bilang Kalan?"
"Aku mau lihat cewek bule yang gak pake baju."
"Tau dari mana kamu?"
"Kan temen aku yang bilang." jawabnya polos. "Aku mau kesana ayah?" rengek anak itu manja.
Menarik nafas dalam dan mengusap wajahnya gusar.
Ya Tuhan... Apa dia sama kayak aku.?
Apa aku juga sama selalu ngegemesin kayak dia?
Kenapa sifat bundanya tidak ada pada diri anak itu sedikitpun ya?
Mengehela nafas berat.
Kamu memang ayah banget nak...!!!!
__ADS_1
* * *