
Happy reading semua.... ❤
* * *
Berengsek ... !!
Raisa langsung mengeluarkan umpatannya sesaat setelah melihat Yasika telah mencium Kaisar di depan matanya.
Raisa melihat dengan jelas kalau Yasika melakukan itu hanya untuk membuatnya merasa kesal dan cemburu. Dan apa? dan itu sangat berhasil.
Raisa menggerutu kesal, menatap sinis pada kedua pasangan suami istri itu.
Sorot mata tajam, dengan rahang yang mengeras membuat dirinya semakin terlihat sedang terbakar api cemburu. Mengepal tangannya kuat, seraya tersenyum sinis.
Silakan saja, nikmati dulu kebersamaan kalian berdua.
Dan tunggu, aku tidak akan tinggal diam.
Aku akan merebut Kaisar dari kamu ...
Raisa memang sudah di kenal banyak orang, ia adalah anak sulung dari salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Keras dan sangat arogan, itulah sifat buruk dari seorang Raisa. Dan __ Raisa adalah orang yang sangat menyukai sosok Kaisar. Tidak perduli, meski Kaisar sudah menikah dan mempunyai seorang anak, bagi Raisa, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan.
Berbeda dengan Raisa yang masih diam mematung dengan tampang membunuh, sementara di ujung sana, ada empat pasang mata yang sedang melohok dan melotot sempurna.
Bayu berdecak. "Emang gak tau tempat tuh orang."
"Mereka lagi ngapain om ...?" ujar Kalan menatap bengong pada ayah dan bundanya itu.
Seketika Bayu menoleh, menutup mata sang anak dengan telapak tangannya dengan segera.
Gawat...!!
"Kalan ... Kita pergi dari sini yu? tunggu ayah sama bundanya beres dulu." bujuk Bayu pada bos ciliknya itu.
"Lepas om ... Kenapa mata aku di tutup sih?" gerutu Kalan dengan begitu gemasnya.
Bayu segera melepaskan tangannya yang menutupi kedua mata anak itu, ia tersenyum kikuk seraya berkata.
"Maaf ya.?"
"Ayah sama bunda lagi apa? kenapa mereka berpelukan disitu?" bukannya menjawab Kalan malah balik bertanya.
"Kalan sayang, dengarkan om, kita pergi dari sini yu? kita tunggu di dalam aja gimana?"
"Gak mau."
Bayu bingung. "Terus Kalan mau apa?"
"Aku mau pergi lihat mereka, aku gak mau ayah peluk-peluk dan cium bunda."
"Kenapa gak mau?" tanya Bayu heran.
"Karena hanya aku yang boleh peluk sama cium bunda."
"Kenapa begitu?"
"Pokoknya aku gak mau."
"Apa Kalan mau kalo ayahnya nanti peluk wanita itu.?" Tunjuk Bayu pada sosok perempuan yang masih berdiri disana.
__ADS_1
Kalan menggeleng. "Gak mau."
"Kalan mau punya adik bayi kan.?"
Kepala kecil itu menganguk. "Mau."
"Kalau begitu, Kalan gak boleh larang ayah sama bunda pelukan." Ujar Bayu menjelaskan.
Kalan mendongak menatap bingung orang yang dia anggap sebagai om-nya itu.
"Kalau begitu, aku akan suruh ayah supaya peluk dan cium bunda terus."
"Nah gitu dong...!!"
Bayu tersenyum lebar, menatap gemas anak bosnya itu.
Merasa sudah tidak sanggup lagi melihat kemesraan mereka, akhirnya Raisa memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka yang masih setia beradu *******. Menggerutu kesal dan menatap sinis saat ia melihat sosok Bayu dan anak kecil berwajah tampan itu tersenyum seperti sedang meledek ke arahnya.
"Permisi..!!" ucapnya ketus.
"Silahkan nona Raisa." jawab Bayu datar.
Setelah kepergian Raisa, Bayu dan Kalan saling melempar tatapan dan tersenyum senang.
"Sepertinya tante itu marah ya om?" celetuk sang anak.
Bayu tersenyum dan mengusak lembut rambut sang bos cilik.
"Sepertinya begitu Kalan."
"Kenapa dia marah om?"
"Ya."
"Kalan seneng gak kalau om ganggu ayah sama bunda?"
"Maksud om.?" bertanya polos.
Sedikit menarik ujung bibirnya ke atas Bayu menyeringai.
"Coba Kalan teriak panggil bunda sama ayah."
Anak berwajah tampan itu mendongak, menatap wajah Bayu om-nya itu dengan mata menyipit. Ia tersenyum lebar, kepalanya mengangguk pelan.
"Ayaaahhh ... Bundaaaa ...!!!" Suara familiar itu terdengar begitu nyaring di telinga, membuat mereka berdua terkejut dan langsung melepaskan pangutan tersebut dengan segera.
"KALAN ... !!" Ucap keduanya secara bersamaan.
Lantas, mereka segera menoleh ke arah dimana sang anak berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
"Ya ampun ... sejak kapan mereka ada disitu?" ucap Yasika gugup.
Kai hanya menyengir kaku, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Bayu berdecak. "Sudah berapa lama ya gue baru liat lagi siaran langsung kayak gini.?" Berujar seraya tersenyum meledek ke arah dimana bosnya itu sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
"Diem lo.!" Bisik Kai seraya menatap tajam asistennya itu.
Bayu tergelak, membuat Kai semakin kesal.
__ADS_1
"Bisa diem gak."
Seketika mulutnya langsung terdiam, seolah tidak terjadi apa-apa lantas dengan segera ia langsung membuang muka.
"Ayah sama bunda ngapain disana?"
Bukannya menjawab Kai malah balik bertanya.
"Kalan ngapain ada disini?"
"Tadi aku sama om Bayu nyariin ayah sama bunda. Terus aku liat kalian ada disini. Ayah sama bunda lagi ngapain kenapa kalian pelukan disitu?"
"Ayah sama bun ___ "
"Sayang ..." Suara itu sengaja ia alihkan.
"Bunda ..." Kalan tersenyum lebar seraya menghambur memeluk tubuh Yasika.
"Aku nyariin bunda dari tadi."
"Kalan nyari bunda.?"
Kepala kecil itu mengangguk. "Ya."
"Sekarang bunda udah disini, Kalan mau apa sama bunda?"
"Aku mau kita pulang bunda, aku ngantuk mau di peluk sama bunda."
Yasika tersenyum lebar, menatap gemas anak laki-lakinya itu. "Oke, sekarang kita pulang ya?"
Dengan gerakan cepat kepala kecil itu kembali mengangguk dengan penuh semangat.
Saat mereka akan melewati pintu utama gedung itu, Tiba-tiba saja langkah kaki mereka berhenti saat terdengar suara seseorang memanggil nama Kaisar.
"Kai ... "
Kaisar menoleh, begitupun dengan Yasika, Kalan dan Bayu.
Kai berdecak. "Kenapa?"
Wanita itu kembali tersenyum dengan lebarnya, menampilkan bibirnya yang seksi serta deretan giginya yang putih.
"Aku cuma mau bilang sama kamu." di jedanya kalimat itu. "Jangan lupa besok kita masih ada pertemuan loh."
Kai tersenyum. "Ya nona Raisa, tidak perlu anda ingatkan, karena saya punya asisten sekaligus sekretaris yang selalu mengingatkan saya." Kai berujar seraya menoleh ke arah dimana saat ini Bayu sedang menggulum senyum.
Meski sedikit tersinggung dengan ucapan Kai barusan, tetapi wanita itu masih tetap tersenyum. Ia tidak akan menyerah begitu saja, apapun akan ia lakukan agar bisa merebut perhatian dari seorang Kaisar, lelaki tampan dengan pesona luar biasa.
"Oh iya tuan Kaisar, besok kita akan melakukan pemotretan bersama untuk salah satu majalah ternama, dan kita akan menjadi salah satu pasangan pengusaha yang paling serasi." Raisa berujar kembali, matanya melirik sinis kepada perempuan yang kini sedang menatapnya malas.
"Hanya majalah kan? tidak masalah __ selagi itu baik, kenapa tidak?" ujar Yasika dengan santai.
"Sayang ... Ayo kita kembali ke hotel? aku akan ngasih jatah buat kamu malam ini." Yasika berbisik pelan tetapi masih dapat di dengar oleh perempuan itu.
"Permisi nona Raisa, maaf kita buru-buru." Yasika tersenyum tipis. "Soalnya aku dan dan suamiku __ kamu mengertikan kita berdua mau ngapain?"
Raisa geram, menatap sinis pada perempuan cantik berwajah polos itu.
Sialan... berengsek...!!
__ADS_1