
Happy reading semua... ❤
* * *
Yasika tersenyum, saat ia pandangi wajah tampan yang sedang terlelap tidur dalam pelukannya. Mengelus rambut sang anak dengan penuh kasih sayang. Ia bangga karena telah melahirkan seorang malaikat kecil di tengah-tengah mereka berdua. Kalandra akan menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat Yasika dan Kaisar tersenyum bahagia.
Bibirnya tersenyum lebar, saat ingatannya kembali pada pertanyaan yang Kalan berikan sebelum ia tertidur, dengan begitu polosnya Kalan membicarakan tentang Raisa, wanita yang terus berusaha mendekati sang ayah.
Merasa heran saat ia melihat suaminya itu keluar dari dalam kamar mandi dan senyum-senyum sendiri.
"Kak ...!!"
"Hmm... "
"Kamu kenapa sih?"
Kai mengernyit, menatap bingung istrinya itu. "Aku gak papa."
"Yang bener.?" Tanya Yasika penuh selidik.
"Memangnya aku kenapa sayang.?" Ujar Kai seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kamu senyum-senyum sendiri, gak jelas kayak gitu.?"
Kai tergelak, memeluk tubuh istrinya semakin erat. "Memangnya kenapa kalau aku senyum-senyum sendiri.?"
"Ya aneh ja, Jangan-jangan kamu lagi mikirin perempuan itu kan.?"
"Untuk apa aku sibuk mikirin dia? mendingan aku sibuk mikirin kamu sayang."
Yasika berdecak, menggerlingkan kedua bola matanya jengah. "Awas aja kalau kamu sampai berani deketin itu wanita."
"Memangnya kenapa? apa kamu gak suka.?"
"Mana ada sih istri yang suka lihat suaminya deket-deket sama wanita lain." Ujar Yasika ketus.
"Kamu gak percaya sama aku.?"
"Bukannya aku gak percaya." Terdiam sesaat. "Aku cuma takut Kak."
"Takut kenapa?"
"Aku takut ___ takut kamu tergoda sama perempuan itu."
"Kenapa kamu jadi begini, huh? setau aku, kamu itu bukan orang yang mudah menyerah."
"Apa kamu gak suka sama dia? dia itu wanita muda, cantik, seksi dan ___ "
"Dan apa?"
Yasika mendongak menatap wajah sang suami yang begitu dekat.
"Apapun yang ada pada dirinya, sama sekali gak membuat aku tertarik sedikitpun. Aku juga senang dengan sikap kamu saat mengahadapi wanita seperti Raisa."
Yasika tersenyum, mengelus wajah suaminya dengan lembut. "Apa aku keliatan seperti wanita bar-bar.?"
Yasika menyikut perutnya, saat Kai tergelak dengan kerasnya.
"Kak ... Jangan berisik, nanti Kalan bangun."
"Iya ... iya ... Aku lupa kalau ada si bocil disini. Lagian kamu ada-ada saja, tapi aku suka kalau wanita bar-barnya kayak kamu."
__ADS_1
"Kak ... udah deh, bisa diem gak? nanti Kalan bangun.!"
"Si bocil udah tidur nyenyak kok."
"Itu anak kamu loh.!"
"Anak kita sayang? bikinnya ja berdua."
"Apaan sih.?"
"Kamu bilang tadi mau ngasih jatah buat aku?"
"Jatah apa? aku lupa tuh.?"
"Jangan pura-pura lupa, padahal kamu sendiri suka kan?" Bisiknya pelan seraya menggelitik perut istrinya yang rata.
Yasika tertawa geli. "Kak ... Jangan gini, geli ih.."
"Aku gak akan lepasin kamu malam ini."
"Giliran minta jatah aja kamu ingat, giliran aku minta yang lain kamu pura-pura lupa?"
"Masa sih? emang kamu minta apa sama aku?"
"Aku ingin beli tas keluaran terbaru, tapi kamu belum kasih ijin sama aku."
"Kenapa mesti ijin dulu? apapun yang kamu mau, kamu tinggal beli sayang?"
"Tapi aku gak mau beli, sebelum kamu ngasih ijin buat aku."
Kai tersenyum, menatap gemas wajah istrinya. "Kamu memang wanita sempurna buat aku dan Kalan."
"Jadi.?"
"Kak ... " Merasa gemas Yasika berbalik badan, kini keduanya saling beradu tatapan.
Kai tersenyum seraya membelai lembut wajah cantik istrinya itu. "Asal kamu tau, secantik apapun wanita yang ada di dunia ini." Ia pandangi wajah itu dengan lekat. "Hanya kamu, wanita satu-satunya yang membuat aku bertekuk lutut, di hati aku cuma ada satu wanita, dan itu kamu."
"Kak ..."
"Jangan khawatir, aku gak akan mencintai wanita lain selain dirimu."
"Kak ... "
"Berapa banyak seorang wanita seperti Raisa, tetap tidak akan membuatku berpaling sedikitpun darimu."
Yasika begitu terharu, tanpa terasa air bening itu keluar dari matanya yang redup dan indah. Lantas, tanpa pikir panjang ia menghambur memeluk tubuh suaminya itu dengan segera.
"Kak ... Aku mencintaimu." ujarnya pelan seraya lebih mengeratkan pelukannya.
"Aku lebih mencintai kamu, dan Kalan anak kita."
"Makasih Kak, kamu udah yakinin aku."
"Aku mau kamu percaya sama aku, jangan pernah terpengaruh oleh siapapun."
Yasika mengangguk, dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.
"Jangan menangis."
Mengurai pelukannya, Yasika menatap dalam pahatan indah yang terlihat begitu sempurna itu.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kalau sampai Kalan tau, aku yang di marahin habis-habisan sama dia."
Yasika terkekeh, mengusap air bening di pipinya itu dengan segera. Sekarang yang ia lakukan hanyalah membelai lembut dan menatap dalam wajah suaminya.
"Aku mencintaimu ayahnya Kalandra." Satu kecupan berhasil mendarat di bibirnya Kaisar.
"Kamu segalanya buat aku dan Kalan." Mengecup kembali bibir itu.
"Aku ___ "
Tanpa menunggu lagi kata-kata yang keluar dari bibir istrinya, Kai segera menarik tengkuknya menempelkan bibirnya di atas bibir Yasika.
Kai menarik pinggang Yasika untuk memperdalam ciuman itu, tangannya mulai merambat menyentuh setiap lekuk tubuhnya.
"Kak ..." Yasika melenguh, saat dengan begitu lihainya Kai menggerayangi seluruh tubuhnya.
"Aku mau Kalan segera punya adik." Bisikan itu kembali ia lontarkan. Dengan nafas tersengal dan memburu.
Yasika tersenyum dan mengangguk. Lantas, ciuman yang sempat tertunda akhirnya mereka lanjutkan kembali. Dengan penuh kelembutan, itulah yang selalu Kai lakukan setiap kali ia mencium istrinya. Menelusupkan lidah dan bermain di rongga mulutnya, saling membelit, *******, menghisap dan menggigit kecil.
Yasika mengerang, meremas dada Kai untuk melampiaskan rasa membuncang yang ada di dalam dadanya. Tidak hanya diam, Yasika juga ikut membalas ******* yang Kai berikan. Mereka berdua hanyut dalam pangutan mesra untuk beberapa saat. Deru nafas keduanya terdengar nyaring saat mereka melepas pangutannya.
Yasika mendesah, merasakan tangan Kai yang mulai mengelus paha bagian dalamnya.
"Kak ..." lenguhan Yasika terdengar begitu menggoda saat Kai menggigit kecil lehernya.
Dan Teriak keduanya terdengar begitu nyaring saat pelepasan itu tiba pada puncaknya. Nafasnya terengah-engah saat merasakan ledakan panas menjalar dari pusat tubuhnya.
"Makasih ya sayang.?" ujar Kai dengan nafas yang masih berantakan.
Kedua mata Yasika masih terpejam, saat lelaki itu mengecup keningnya lama. Kebiasaan yang selalu Kai lakukan setelah mereka selesai bercinta.
"Kamu suka?" Tanya Kai kembali, dengan nada yang menggoda.
Tanpa sadar Yasika mengangguk, membuat Kai terkekeh geli.
"Berarti, malam ini kita begadang ya?"
Kedua matanya yang terpejam, kini terbuka lebar menatap suaminya itu. "Apa? Gak mau.!"
"Harus mau." Balas Kai tidak mau kalah.
"Gak, aku capek."
"Biasanya sampe tiga kali kamu kuat."
Yasika mendelik.
"Itu dulu, sekarang enggak ah."
"Kenapa? padahal baru satu kali?"
"Satu kali ja kamu udah bikin aku capek kayak gini."
Kai tertawa, merasa gemas ketika melihat Yasika kesal seperti itu. Lantas, dengan gemasnya ia menggigit kecil telinga sang istri, membuat Yasika menjerit kenikmatan.
"Ayah sama bunda lagi ngapain? kenapa kalian gak pakai baju.?"
Ya Tuhan...!!
__ADS_1
Ucap keduanya bersamaan.
* * *