Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
90. Ngidam


__ADS_3

Aku balik lagi..


Semoga kalian masih suka..


Jangan lupa untuk tetap mendukung aku ya.?


Dengan tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga..


Jangan sampai lupa oke...!!!


Aku cuma mau bilang sekali lagi, mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan atau kata-katanya yang salah dan berantakan..


Harap di maklum ya...


Oke kita lanjut...


Happy reading... ❤


* * *


"Kamu hamil...!!!"


"Apa kak, aku hamil.?" Ucap Yasika masih tidak percaya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kaisar mengangguk dan tersenyum senang, dan dengan segera pula ia menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Kaisar memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. Kaisar begitu senang saat dirinya mengetahui jika sang istri tengah mengandung anaknya. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya selain rasa syukur yang ia ucapkan sedari tadi.


Berbeda dengan Yasika, ia masih tidak percaya bahwa dirinya akan secepat ini mengandung anak mereka berdua. Rasa senang dan bahagia kini telah menyelimuti keduanya, Yasika benar-benar terharu sampai dirinya tidak sadar bahwa air matanya ikut menetes di pipinya itu.


"Ingat kamu harus jaga kesehatan, jaga kandunganmu mengerti.?" Ucap Kai pelan dengan membelai lembut rambutnya. "Gak boleh terlalu capek dan gak boleh pergi kemana-mana.?" Tambahnya kembali.


Yasika mengurai pelukannya, ia menatap wajah sang suami dengan tatapan bingung. Sebenarnya bukan masalah besar bagi dirinya untuk menuruti semua perintah suaminya itu, tapi yang menjadi masalahnya sekarang adalah bahwa suaminya itu akan lebih bersikap posesif apalagi dalam keadaan sedang hamil muda seperti ini.


"Kenapa menatapku seperti itu.?" Tanya Kai dengan menatap balik Yasika seraya menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajahnya ke belakang telinga.


"Kak... aku __ " Belum juga menyelesaikan kata-katanya Kai sudah lebih dulu memotongnya.


"Apa.?"


"Ish ... Kamu itu.?" Yasika menggerlingkan kedua bola matanya jengah, ia menatap wajah suaminya dengan sedikit cemberut.


Kaisar tersenyum saat melihat istrinya berubah seperti itu. "Maafkan aku, kamu mau apa huh.?" Tanya Kai lembut.


Yasika masih menatapnya dengan tatapan kesal. "Gak jadi.." Ucap Yasika dengan melengos begitu saja.


Kaisar kembali tertawa. "Jangan buat aku untuk memakanmu disini." Bisiknya pelan.


"Apaan sih..?" Dengan nada masih sedikit malas.

__ADS_1


Kaisar kembali mendekat, ia mengelus lembut wajah istrinya itu. Kaisar mengecup kening sang istri dengan sangat lama. "Kamu mau apa.?"


Yasika merasa luluh hatinya dengan perbuatan Kaisar baru saja. Entah kenapa Yasika juga sangat suka sekali dengan aroma tubuh suaminya itu, ia sangat senang jika Kai memeluknya seperti ini, ia mencium wangi tubuh itu. Ia tidak mau jika Kaisar melepaskan pelukannya.


"Kak, kamu wangi sekali. Aku menyukainya." Ucap Yasika pelan.


Kaisar mengernyit heran, ia merasa ada yang salah dengan istrinya itu. Bagaimana bisa Yasika menyukai bau tubuhnya yang belum mandi serta berkeringat seperti ini.


Kenapa dengan dia? Apa ini bawaan bayi yang ada dalam perutnya.??


"Padahal aku belum mandi loh..!" Ucap Kai dengan sedikit tersenyum.


"Gak pa-pa, aku suka kamu seperti ini." Kata Yasika sambil mengeratkan pelukannya itu.


Kai tersenyum tipis, biasanya Yasika-lah yang selalu protes jika Kai belum mandi atau mengganti bajunya. Tetapi kali ini terlihat jelas perubahannya, justru sekarang istrinya itu lebih menyukai bau tubuhnya yang berkeringat seperti ini.


"Kak..?"


"Hmm.. "


"Aku mau makan rujak yang pedas dan asam."


Kaisar mengurai pelukannya, ia menatap wajah sang istri seperti sedang memelas. "Gak, kamu gak boleh makan kayak gituan. Apalagi pedas seperti itu, gak baik buat kamu dan kandunganmu."


"Kakkk...!!!" Teriak Yasika dengan wajah masih memelas.


"Kamu minta yang lain ja ya? Aku beliin sekarang juga, kamu mau apa.?"


"Gak boleh.."


"Ish... ngeselin..!!" Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Yasika bicara.


"Kamu kenapa sayang...?" Ucap mama Wina yang masuk begitu saja. "Kamu kenapa menangis seperti ini, kamu gak apa-apa kan.? Kai ... kamu apain menantu mama.?" Sewot mama Wina yang tidak berhenti bicara.


"Mah... " Yasika menggeleng. "Aku gak papa kok."


"Kamu yakin? tapi kenapa kamu nangis kayak gitu.?"


"Aku melarangnya makan rujak Ma.. " Sergah Kai pada mama-nya itu.


"Ya ampun Kai ... Kamu itu kenapa sih kasian istri kamu itu lagi ngidam, apa salahnya kamu beliin dia rujak. !!! " Sewot mama Wina kembali.


"Tapi mah... "


"Kai ... Apa kamu gak kasian sama dia, lagipula gak bakalan apa-apa kok jika istrimu makan rujak."


"Gak bisa Ma,... Nanti gimana kalau dia sakit perut terus terjadi apa-apa sama kandungannya."

__ADS_1


Mama Wina menatap wajah anaknya yang keras kepala itu, ia menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana bisa Kaisar punya pikiran seperti itu.


"Kai, dengerin mama kamu percaya sama mama ya? Apa kamu mau nanti anak kamu itu ileran huh.?"


"Apaan sih ma jangan ngaco deh..?"


"Maka dari itu, dengerin mama. Istri kamu itu lagi hamil muda, dia itu ngidam pengen makan rujak, sebagai suami harusnya kamu ngerti dia dong. Kamu kasih dia. Apa susahnya sih.?"


Kaisar menatap balik mamanya itu, sebenarnya bukan masalah untuk dirinya membelikan apa yang istrinya itu inginkan. Tetapi yang membuat dirinya khawatir adalah ia takut terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya itu.


"Sudahlah Kai, benar apa kata mama kamu. Kasian menantu dan cucu Papa lagi pengen makan rujak." Ucap papa Andi yang merasa pusing karena sedari tadi mereka berdua hanya berdebat.


Kaisar menoleh ia menatap istrinya itu, dan benar saja sekarang Yasika sedang menangis.


"Baiklah, aku akan membelikanmu rujak sekarang."


Yasika tersenyum senang, ia menatap Kaisar dengan binar. Dan dengan segera pula Yasika menghapus air matanya yang jatuh begitu saja.


"Apa kamu senang.?" Tanya Kai pada istrinya itu.


Yasika mengangguk dan tersenyum. "Ini anak kamu yang mau kok."


Kaisar berdecak, "Kalau bukan karena kamu lagi hamil, aku gak bakalan ngijinin kamu untuk makan kayak gituan."


"Kai....!!!"


"Ya, Ma... Jangan cerewet deh.."


Mama Wina terkekeh geli. "Nah gitu dong, jangan mau enaknya saja."


"Mah... " Ucap Papa Andi.


Mama Wina segera menutup mulutnya itu, bagaimana-pun ia merasakan gimana rasanya menjadi wanita yang sedang hamil. Apalagi yang tengah hamil itu adalah menantunya yang akan memberikannya cucu untuk mereka berdua.


Yasika kembali tersenyum lebar, saat ia melihat bahwa suaminya itu sudah kembali dengan membawa bungkus rujak di tangannya. Ingin sekali rasanya ia segera memakan rujak itu. Makanan yang ia inginkan sejak tadi.


"Kenapa gak di makan? dari tadi cuma di liatin terus.?"


Yasika menatap wajah suaminya itu, kemudian ia menyengir kaku.


"Kenapa?" Tanya Kai kembali. "Ayo makan, bukannya kamu mau itu.?"


"Aku maunya kamu yang makan Kak."


"APA...??"


__ADS_1


Ya Tuhan... Sabar Kaisar sabar...!!!


* * *


__ADS_2