Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
KHM 2 part 12


__ADS_3

Selamat membaca semuanya...


* * *


"Memalukan..!" Bentaknya membuat wanita itu berjengit kaget. "Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi wanita seperti itu." Dengan rahang yang mengeras ia tatap wajah anak gadisnya itu tajam.


"Maaf tuan." Sela Yasika cepat. "Mungkin, sebaiknya anda tenang dulu." Ucapnya dengan memberikan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibir ranumnya.


Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Maafkan saya nyonya Yasika, maafkan atas kelakuan putri saya terhadap anda dan juga tuan Kaisar." Saat berujar matanya itu melirik ke arah Kaisar.


Yasika tersenyum tipis, sedangkan Kaisar dan Bayu, mereka hanya saling menatap dan tidak banyak berkomentar. Meskipun awalnya menolak dengan rencana istrinya itu, akhirnya Kai mengalah karena menurut Yasika ia harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Yasika tidak ingin wanita itu terus menerus menggangu suaminya, yang ia inginkan sekarang adalah agar Raisa, wanita itu berhenti untuk tidak mengganggu suaminya lagi.


Setelah kejadian itu, saat Raisa datang ke perusahaan milik Kaisar, dan dengan secara terang-terangan mengatakan kalau ia benar-benar menyukai Kai suaminya itu, Yasika geram. Mungkin cara halus yang ia gunakan untuk membuat Raisa jera tidak membuatnya berhasil, sampai akhirnya ia mencari tahu sendiri kelemahan dari gadis itu.


Ya, sekarang Kaisar, Yasika dan Bayu sedang berada di perusahaan milik Adiwiguna. Mereka sengaja datang ke perusahaan itu untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Yasika sudah mengambil keputusan, ia akan menceritakan semuanya kepada ayah sekaligus rekan bisnis suaminya itu.


Raisa bungkam, kepalanya menunduk karena takut dengan kemarahan sang Ayah. Kalau Ayahnya sudah marah, maka Raisa yang kita kenal sebagai wanita angkuh dan sombong itu hilang begitu saja. Kini, di hadapan Ayahnya itu Raisa seperti anak kecil yang sedang ketakutan karena berbuat kesalahan.


"Lihat Ayah Raisa..!!" kembali suara bariton itu menggema. "Kamu ini __ bikin malu saja. Kamu tahu siapa Kaisar bukan?" Ia beranjak, menghampiri Raisa yang sedang terduduk di sofa panjang yang tergeletak di ruang kerjanya.


Raisa mengangkat wajahnya, menatap wajah sang ayah takut-takut.


"Ayah, aku bisa jelasin." Ucapnya terbata, ia tatap wajah ayahnya itu yang sudah memerah.


"Jelasin apa hah? apa pernah Ayah mengajarkanmu seperti itu? Ayah benar-benar kecewa sama kamu Raisa, Ayah didik kamu untuk menjadi wanita baik-baik, seperti apa yang di inginkan oleh mendiang ibumu." Sorot mata tajam itu akhirnya melemah.


"Jangan bilang kalau kamu mencintai laki-laki yang sudah beristri.?" Bentaknya lagi.


Menghela nafas kasar, Raisa berdecak.


"Aku memang menyukainya Ayah"


Ayah Adiwiguna langsung tersentak begitu mendengar apa yang di katakan oleh anak gadisnya itu.


"Apa kamu bilang?" Tanya sang ayah yang kini tubuhnya sudah berada di hadapan anak gadisnya itu. Wajahnya memerah dengan sorot mata tajam.


"Aku menyukai Kaisar." Tegasnya lagi. Kali ini, ia memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya, Raisa tahu akan kemurkaan sang ayah yang mungkin sebentar lagi akan segera meledak. "Apa aku salah kalau aku menginginkan nya?"


"Jelas saja kamu salah." Mengusap wajahnya kasar. "Ayah tidak mau tahu, pokoknya kamu segera selesaikan masalah ini secepatnya, dan jangan lupa kamu minta maaf sama mereka."

__ADS_1


"Apa ayah? aku minta maaf?"


"Iya"


Kepala itu menggeleng samar. "Aku gak mau minta maaf." Ia menatap ke arah Kaisar dan Yasika yang sedang duduk berhadapan dengannya. Sementara pasangan suami istri itu, hanya mampu menatap saja tanpa mau tersenyum sedikitpun.


"Kalau kamu gak mau melakukan itu." Di tariknya nafas dalam-dalam. "Ayah akan mengirim kamu kembali ke Belanda, ingat itu."


"Tapi Ay - "


"Lakukan perintah Ayah."


"Aku gak mau kesana lagi ayah." Dengan wajah memelas ia berujar.


"Kalau begitu turuti perintah ayah." Setelah mengatakan itu, Ayah Adiwiguna kembali lagi duduk di kursi kebesarannya. Ia tatap wajah anak gadisnya itu lamat-lamat.


Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat seperti itu.


Gadis itu menunduk, air mata yang sempat ia tahan akhirnya tumpah juga.


"Raisa ... Besok __ " Menghela nafas panjang. "Ayah akan mengirim kamu ke Belanda."


* * *


Merasakan sinar matahari yang mulai masuk ke dalam ruang kamar, Yasika merentangkan tangannya lebar. Yasika mengerjap perlahan, berusaha membuka matanya, sudah lama ia tidak merasa senyenyak ini saat tidur. Beranjak turun dari kasurnya, sesaat ia terdiam mendengar sekilas orang yang sedang berada di dalam kamar mandi seperti sedang muntah-muntah.


Yasika berjalan mendekat, berdiri di depan pintu kamar mandi sebelum kemudian ia buka pintu itu lebar-lebar.


"Ya Tuhan Kak, kamu kenapa?"


"Kenapa bisa muntah-muntah kayak gitu?"


"Kamu sakit?"


"Aku panggilkan Dokter sekarang ya?"


Kai yang mendengar hanya bisa tersenyum seraya menggeleng pelan. Di saat sedang khawatir seperti itu membuat Yasika semakin lucu di matanya. "Di saat seperti itu kenapa selalu bikin aku gemas sih? jangan cemas seperti itu, aku baik-baik saja kok."


Yasika menghela lega. "Tapi kamu baik-baik saja kan Kak?"

__ADS_1


"Iya, aku baik sayang."


"Lalu, kenapa sampai muntah-muntah kayak gitu?"


"Gak tahu, mungkin masuk angin."


"Ya udah akun panggil Dokter kesini ya?"


"Gak usah, entar juga baikan. O iya sayang, aku boleh minta sesuatu gak?


Yasika mengernyit, menatap suaminya itu dengan tatapan menyipit.


"Minta apa?"


"Aku ingin makan bubur ayam buatan kamu."


Yasika tersenyum, lalu, mengangguk. "Kamu ingin makan bubur ayam? Ya udah aku buatin dulu ya?"


Sudah ketiga kalinya Kai bolak-balik masuk ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan semua isi perutnya, bahkan bubur ayam yang ia makan baru saja semuanya keluar kembali. Sejak tadi saat ia bangun pagi, Kai merasakan mual yang sangat luar biasa serta denyutan di kepalanya semakin terasa. Tubuhnya kini terasa lemas, bahkan selera makannya-pun berkurang.


"Kamu yakin gak mau periksa ke Dokter?" Yasika kembali bertanya sembari meletakkan segelas teh hangat di atas meja. "Di minum dulu Kak, siapa tahu setelah minum teh itu mual kamu sedikit berkurang.


Kai merasa mual saat aroma teh itu menyeruak masuk ke indera penciumannya.


"Kamu ini kenapa sih Kak? kok kayak orang hamil aja?"


Seketika mata yang terlihat sayu itu melebar dengan sempurna. "Apa kamu hamil?"


What??



Hamil....???


* * *


**jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ..


Makasih buat semua yang sudah setia menunggu ceritanya..

__ADS_1


Mohon maaf up nya agak telat... harap maklum ya🙏🏻


Salam saya untuk kalian semua.. ❤**


__ADS_2