
Haii.... hai.... Aku balik lagi nih!!!
Semoga kalian masih suka ya??
Oke kalau begitu...
Happy reading... ❤
* * *
"Bagaimana Kai, apa kalian sudah menentukan rencana kalian selanjutnya.? " Tanya Papa Andi dengan nada serius.
"Sudah Pa ... "
"Apa keputusan kamu? "
"Aku ingin kita datang untuk melamar Yasika minggu depan, dan aku berniat jika tidak ada halangan nantinya aku ingin menikahinya bulan depan. "
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu.? "
"Sudah Pa, aku sudah yakin dan menetapkan hatiku. "
"Apa keluarganya sudah menerima kamu,? "
Kaisar tersenyum ia menatap wajah Papanya itu, "Sudah Pa, mereka menerima aku sebagai calon menantunya. "
Papa Andi menarik napas dalam, "Baiklah, kalau begitu kita akan datang untuk melamar kekasihmu itu minggu depan. "
"Terima kasih Pa.. " Kaisar tersenyum seraya memeluk tubuh papa-nya itu.
"Hmm... lagipula Papa ingin kalian untuk segera menikah. Papa tidak ingin jika kalian berbuat tidak senonoh lagi..? "
Kaisar mengernyit heran. "Maksud Papa.? "
Papa Andi melengos dan ia berdecak, "Kamu kira papa tidak tau kelakuan kalian setiap hari di kantor. " ia jeda kalimatnya, "Jaga sikap kamu itu Kai, jika sampai orang lain mengetahuinya bisa hancur reputasi kamu sebagai seorang Direktur perusahaan. "
Sialan..... kenapa Papa bisa tahu semuanya??
"Lagian, Papa heran sama kamu? kayak tidak ada tempat lain aja untuk kalian bermesraan. "
Kaisar hanya menyengir kaku, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Namanya juga anak muda Pa ..., kayak Papa gak pernah gitu aja ma Mama.? "
"Ya, tapi kamu harus tau tempat Kai.? "
__ADS_1
"Ya ... Ya Pa. Pasti Bayu yang laporin ini semua sama Papa kan? itu anak memang minta di pecat kali ya? "
"Heh, jangan main pecat sembarangan. Sebelum Bayu di pecat kamu duluan yang Papa pecat..!! "
Kaisar mendengkus tidak suka, dasar Bayu sialan, kampret, awas lo nanti..!!!
* * *
"Apa kamu suka sayang.?" Tanya mama Wina penasaran.
Yasika tersenyum, "Ini sangat bagus Tante, aku sangat menyukainya. "
"Jangan panggil tante lagi dong sayang, panggil mama ja biar lebih enak, sebentar lagi kamu akan jadi anak mama juga? "
"Baik Tan ... Eh Mama.. "
Mama Wina terkekeh, "Nah gitu dong, biasain ya?"
Yasika menganggukkan kepalanya pelan, ia menatap wajah cantik wanita paruh baya itu. Yasika benar-benar sangat bahagia sekarang, ternyata keluarga Kaisar sudah bisa menerima dirinya sebagai calon istri untuk putra bungsunya itu.
"Wihh ... lagi pada ngapain kalian? " Tanya Kaisar.
Mama Wina dan Yasika menoleh secara bersamaan, "Kamu ini ya, bikin kaget saja. "
"Itu kalung punya siapa ma.?" Tanya Kaisar dengan wajah penasaran.
Kaisar manggut-manggut mengerti, "Hadiah buat aku mana.?"
"Gak ada ya, kalau kamu mau,beli ja sendiri. Mama-kan belinya cuma buat menantu mama. "
Kaisar melengos dan berdecak, "Gini nih kalau ada orang baru, sebenarnya yang anak mama itu siapa sih?"
Mama Wina hanya terkekeh mendengar ocehan sang putra, ia merasa senang sekali karena sebentar lagi putra bungsunya itu akan segera melepaskan masa lajangnya. Mama Wina sangat berharap sekali jika Kaisar menikah, ia sangat menginginkan Kaisar hidup bahagia bersama dengan keluarga kecilnya kelak. Ia juga berharap jika anak laki-lakinya itu menikah Kaisar akan segera memberikan keturunan untuk keluarga mereka.
"Kak, "
Kaisar menoleh, ia tersenyum ketika melihat sosok perempuan cantik sudah berdiri di sampingnya. Dengan segera Kaisar mematikan puntung rokok yang sedang ia hisap ke bawah, lalu mengoyaknya pelan.
"Kamu ngerokok ya.? "
Kaisar tersenyum, "Cuma lagi pengen ja. Ada apa? kamu belum tidur? "
Yasika menggelengkan kepalanya pelan, "Aku belum ngantuk. "
__ADS_1
Kaisar menarik tubuh itu ke dalam dekapannya, "Kenapa, apa kamu tidak betah berada disini? "
Yasika mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah Kaisar. "Bukan, aku betah kok ada disini. Lagian aku juga harus biasa kan berada dirumah mertua. " Dengan kekehan kecil dari bibirnya itu.
"Lalu.? " Tanya Kaisar yang masih menatap balik mata sayu itu.
"Aku ... Aku ... " Yasika jeda kalimatnya, kemudian ia merogoh ponsel yang berada di kantung saku bajunya. "Ini." Yasika menyodorkan ponselnya itu.
"Apa.? " Tanya Kaisar seraya mengambil ponsel itu, kemudian ia melihat dan membuka ponsel milik kekasihnya itu.
Kaisar melotot sempurna ketika dirinya membaca salah satu pesan yang masuk di ponsel milik Yasika. "Apa ini.?" Tanyanya dengan mata menyorot tajam.
"Apa aku boleh menemuinya.? "
"Untuk apa? " bentak Kaisar.
"Kak, aku mohon kamu percaya sama aku. Aku hanya ingin membereskan masalah ini sendiri, agar dia tidak menggangu aku dan kamu lagi. "
Kaisar mengusap wajahnya kasar, ia mengguyar rambutnya ke belakang. "Gak, kamu gak boleh ketemu sama dia. "
"Tapi K___? "
"Aku bilang enggak... "
Kaisar menatapnya dengan sangat tajam, ia tidak akan membiarkan Yasika pergi begitu saja, apalagi untuk menemui laki-laki brengsek yang terus saja mengganggunya. Ia benar-benar marah saat ini, entah kenapa emosinya selalu saja meningkat jika itu berhubungan dengan laki-laki yang pernah beberapa kali mengirim bunga untuk kekasihnya itu. Siapa lagi kalau bukan Davin sang mantan tunangan Yasika.
Kaisar membaca isi pesan itu, dimana Davin ingin bertemu secara langsung dengan Yasika. Ia mengajak Yasika untuk bertemu di sebuah restoran ternama yang berada di kota itu. Kaisar begitu marah dan kesal saat Yasika meminta ijin untuk menemuinya. Bukan karena apa-apa, Kaisar hanya merasa takut jika Davin akan berbuat macam-macam kepada kekasihnya itu.
"Kak."
"Kenapa begitu ngotot ingin ketemu sama dia? "
"Aku hanya ingin kamu percaya sama aku, gak akan terjadi apa-apa, aku hanya ingin bicara sama dia dan menjelaskan semuanya agar dia tidak mengganggu kita lagi. "
Yasika menatap dalam wajah Kaisar, ia begitu berharap jika Kaisar akan memberinya ijin untuk menemui laki-laki itu. Yang Yasika inginkan sekarang adalah supaya Davin berhenti agar dia tidak lagi masuk dalam kehidupannya. Apalagi sekarang dimana sebentar lagi dia akan memulai kehidupan yang baru bersama dengan Kaisar.
"Aku mohon kak? Kamu bilangkan sama aku kalau kamu juga ingin mengakhiri hubungan baik dengan Anne.? sekarang aku juga sama kak, aku ingin mengakhiri dan menjalin hubungan baik bersama Davin tanpa ada rasa dendam dan kebencian dalam hidup kita, aku ingin semuanya berakhir dengan baik. Aku ingin pernikahan kita berjalan dengan lancar tanpa ada orang lain nantinya. "
"Baiklah aku memberimu ijin untuk bertemu dengan dia, tapi ingat aku yang akan mengantar dan menunggumu sampai kalian selesai. "
Yasika tersenyum lebar, ia sangat senang sekali.
"Terima Kasih kak, aku mencintaimu.. "
__ADS_1
* * *