Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
94. Kontraksi


__ADS_3

Happy reading...


* * *


Hari ini Yasika sudah bisa pulang ke rumahnya setelah dua hari kemarin di rawat di rumah sakit.


"Kak.."


"Ada apa.?"


"Sampai kapan kamu cuti?"


Kai menoleh, menatap sang istri dengan dahi terlipat dalam. "Sampai kamu benar-benar sembuh."


"Aku udah sembuh kok, aku juga udah gak apa-apa." Yasika menatap suaminya itu. "Jadi, kalo kamu mau kerja lagi juga gak papa."


"Gak, aku akan temani kamu dulu di rumah." Kai berujar seraya meletakkan tasnya Yasika di atas meja.


"Aku gak apa-apa Kak.."


"Yakin.?"


Yasika mengangguk, kemudian ia tersenyum. "Yakin, lagian disini kan ada mama sama papa aku yang ngejagain."


"Ya udah, kalau gitu besok aku kerja. Tapi ingat kata-kataku ya, kamu harus baik-baik di rumah gak boleh apa-apa. Jangan kecapean.?"


"Nah gitu dong." Yasika menarik tengkuknya dan mencium bibir Kai sekilas. "Ya aku ingat Kak. Aku makin sayang sama kamu."


"Aku juga sayang sama kamu dan calon anak kita."


Mereka berdua tersenyum bahagia, mereka saling menatap dalam penuh kehangatan. Kaisar segera merengkuh tubuh wanita yang kini tengah mengandung itu ke dalam dekapannya. Ia memeluknya dengan sangat erat.


Tanpa terasa kini usia kandungan Yasika sudah memasuki bulan ke sembilan. Perutnya yang membuncit tidak membuat dirinya merasa terganggu sebagai seorang istri, Yasika selalu menjalankan tugasnya dengan baik untuk bisa melayani semua kebutuhan suaminya. Kai sangat kagum dengan istrinya itu, ia melihat bahwa Yasika adalah perempuan yang penuh dengan tanggung jawab untuk keluarga kecilnya, ia melihat Yasika tidak pernah mengeluh, atau mengucapkan kata lelah selama dalam kehamilannya.


Kemarin Kaisar juga menemani sang istri untuk memeriksa kandungannya. Dokter pun bilang kalau bayi mereka sangat sehat dan baik-baik saja. Kai sangat senang saat mendengar hal itu, kejadian saat Yasika terjatuh pun membuat Kai semakin menjadi posesif. Sama seperti halnya sekarang, saat Yasika akan mandi, Kai tidak akan membiarkan istrinya itu untuk mandi sendirian.


"Kenapa masih berdiri di situ, Kak?" Yasika bingung saat melihat Kai masih berdiri di depan pintu kamar mandi sambil melipat tangannya di atas dada.


"Aku mau nungguin kamu mandi sayang...!"

__ADS_1


Yasika mengernyit, menatap aneh pada suaminya itu. "Aku mau mandi Kak, gak usah di tungguin."


"Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi."


Astaga ... Kenapa dengan suaminya ini?


"Ya udah sekarang kamu keluar, terus tutup pintunya. Aku bakalan baik-baik aja kok."


Kai tersenyum tipis. "Kenapa gak boleh lihat.?"


"Ish ... Aku malu." Yasika melotot tajam.


Kaisar tertawa saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir istrinya itu dengan mata melotot sempurna.


"Kenapa mesti malu, aku kan suamimu." Jawaban dari Kai benar-benar membuat Yasika merasa gemas.


Yasika mendesis. "Keluar gak, Kak.!" Yasika mulai kesal dengan sikap suaminya itu.


Kai tertawa, merasa gemas melihat istrinya itu. Lantas, yang Kai lakukan selanjutnya adalah menutup pintu kamar mandinya dan membiarkan sang istri untuk mandi sendirian.


Itulah cara yang selalu di tunjukan oleh seorang Kaisar, ia bahkan selalu bersikap berlebihan terhadap istrinya, dan itu membuat Yasika selalu merasa gemas dengan sang suami. Kaisar mungkin bukan lelaki sempurna sebagai suami, tetapi ia akan terus berusaha menjadi sempurna untuk keluarganya dan untuk anak-anaknya kelak.


****



"Cantik.."


"Aku tau kok.." dengan terkekeh kecil Yasika menjawabnya.


Kaisar menjawil hidung Yasika dengan sangat gemas, kemudian ia mencium bibir istrinya itu dengan sangat lembut. Dan tanpa mereka sadari kini keduanya tengah sama-sama memburu dengan penuh gairah. Tidak butuh waktu lama bagi Kai untuk membuat istrinya itu melenguh merasakan nikmat saat keduanya kembali menyatukan tubuhnya. Kai melakukannya dengan hati-hati, karena ia tahu kalau istrinya itu sedang dalam keadaan hamil besar.


Saat keduanya sudah merasakan kenikmatan itu, mereka saling beradu nafas yang memburu. Dengan peluh yang masih membasahi tubuh mereka.


"Kamu baik-baik saja kan.?"


Yasika menoleh ke samping, kemudian tersenyum. "Aku baik kok."


Mereka berdua kembali tersenyum dan dengan segera Kai menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Dan tanpa terasa keduanya kini tengah terlelap kembali dalam tidurnya. Sudah pukul sepuluh pagi dan Yasika terbangun dari tidurnya, karena ia merasakan mulas pada perutnya seperti ingin buang air besar. Tapi ... kenapa mulas itu pergi lagi? Yasika meringis kecil saat mulas itu datang lagi.

__ADS_1


"Duh ... Kenapa mulas banget ya?" Yasika bangun lalu bersandar pada punggung ranjangnya.


"Kak," Suara Yasika dengan sangat pelan dan sesekali meringis.


"Kak, perut aku kok mulas kayak gini ya? " Kembali ia bersuara untuk membangun kan suaminya itu.


Rasa mulas itu kembali datang. "Duh ... " Gadis itu kembali meringis.


Mendengar suara istrinya, Kai langsung terbangun. Menatap Yasika dengan mata yang menyipit. "Kamu kenapa.?"


"Perut aku mulas banget."


"Apa? kenapa bisa.?" Tanya Kai dengan begitu panik, dan langsung beranjak duduk.


"Apa jangan-jangan kamu mau lahiran.?"


"Aku gak tau, tapi kayaknya iya deh Kak."


Kaisar begitu panik sekarang, ia merasakan takut dan itu semua terlihat jelas di raut wajahnya.


"Kalau gitu kita pergi ke rumah sakit sekarang ya.?"


Yasika kembali meringis dengan memegang kembali perutnya. Ia tidak pernah mengira bahwa rasa sakit dan mulas seperti ini yang di alami oleh orang yang akan melahirkan. Yasika mencoba untuk duduk di sofa, rasa sakit pada perut Yasika kini semakin sering terasa, membuat Kai semakin gelisah dan panik.


"Ya ampun kamu kenapa Nak.?" Sewot mama Yessi pada putrinya itu.


"Perut aku sakit ma."


"Ya udah kita ke rumah sakit sekarang, kayaknya kamu mau lahiran." Ujar mama-nya kembali.


Tanpa menunggu lama lagi, Kai dan semua yang ada di rumah itu langsung pergi membawa Yasika ke rumah sakit. Yasika sudah di bawa masuk ke ruang bersalin.


Kaisar mencoba untuk tersenyum, mengusap rambut Yasika dan menyeka keringat di keningnya.


Ia tidak ingin menunjukkan rasa gelisah di depan istrinya itu, Kai berusaha untuk menguatkan Yasika yang sedang menahan rasa sakitnya.


"Aku bakalan terus ada disini." Kai tersenyum. "Kamu pasti bisa, sayang." Lalu ia kecup kening istrinya itu. "Sebentar lagi, kita bakalan ketemu sama dia."


Kepala itu mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, dan anak kita."


* * *


__ADS_2