
Aku balik lagi...
Semoga kalian masih suka dan gak bosen ya..??
Jangan lupa untuk tetap dukung aku, dengan tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya??
Itu sangat berarti banget buat aku..
Oke kita lanjut lagi yu...
Happy reading... ❤
* * *
Yasika saat ini tengah berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada bentuk tubuhnya, meski kini usia kandungannya baru menginjak dua belas minggu tetapi perubahan pada bentuk tubuhnya sudah terlihat, dan benar saja apa yang di katakan oleh teman-temannya dan semua orang yang mengenalnya bahwa sekarang dirinya terlihat sedikit berisi.
"Sayang ... Kamu sedang apa? kenapa dari tadi terus berdiri di depan cermin.?" Tanya Kaisar sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kak.. "
"Hmm... "
"Apa aku gendutan ya.?"
Sontak pertanyaan itu membuat Kaisar langsung mengangkat wajahnya seketika, ia menatap sang istri dari cermin itu. Kaisar tersenyum lebar saat menatap wajah istrinya dari cermin.
"Kenapa diam.? Aku gendut ya.?"
Kaisar kembali memeluk tubuh Yasika dengan erat. "Kamu gak gendut kok, cuma sedikit berisi ja."
"Tuh kan ... Bilang ja kalau aku gendut.?" Dengan cemberut Yasika mengatakan itu.
Kaisar terkekeh geli. "Kamu mau gendut atau enggak, buat aku sama saja kok, kamu tetep cantik dan aku lebih suka kamu kayak gini, jadi kelihatan makin seksi."
"Jangan bohong kamu, bilang ja kamu takut aku nangis kan? kalau kamu bilang aku gendut."
"Itu kamu tau..!!" Dengan tertawa Kaisar bicara seperti itu.
__ADS_1
"Tuh kan ... Kamu bohong sama aku.?" Rengek Yasika kembali.
"Aku gak bohong sayang ... Aku suka lihat kamu kayak gini kok.." Ucap Kai lembut seraya mengecup tengkuk leher istrinya itu.
"Aku tau kamu bilang gini pasti ada maunya kan.?"
Kaisar kembali tersenyum, ia semakin gemas ketika melihat sang istri selalu merengek seperti ini. Di saat sedang hamil Yasika memang terlihat banyak berubah, termasuk dengan sikapnya yang berubah menjadi manja kepada suaminya itu. Bahkan Yasika yang dulu sangat pemalu kini telah berubah, Yasika tidak merasa malu lagi jika dirinya bersikap manja kepada Kai di hadapan semua orang.
"Ah... Kak..!!" Yasika mendesah saat tangan Kai mulai tidak diam, ia merasakan bahwa Kaisar sudah menyentuh dan mengelus perutnya yang sedikit terlihat buncit.
"Kak.. Jangan gini.."
"Aku kangen sama kamu, udah lama kamu gak ngasih aku jatah." Bisiknya lembut di telinga sang istri.
Yasika hanya bisa menutup mata dan menggigit bibir bawahnya saat tangan Kai mulai bergerilya masuk ke dalam baju yang ia kenakan. Seperti biasa Kai selalu memberikan sentuhan lembut sehingga berhasil membuat Yasika melenguh, dan lenguhan itupun selalu terdengar menggoda bagi Kaisar. Seketika tubuhnya menegang saat Kai mulai melancarkan aksinya kembali.
Entah kenapa Yasika selalu tidak bisa menolak meski dalam keadaan lelah sekalipun. Dirinya selalu menikmati ketika sedang bercumbu dengan suaminya itu. Kaisar menyentuh istrinya dengan sangat hati-hati dan lembut, karena ia tahu keadaan istrinya sekarang yang sedang hamil itu.
Mereka berdua kini terlihat sangat lelah, dengan nafas yang terengah-engah. Entah berapa lama mereka menghabiskan banyak waktu untuk bergulat di atas ranjang, dan sekarang benar-benar sudah membuat mereka menyerah.
Yasika hanya bisa tersenyum saat mendengar ocehan suaminya itu, ia mengelus rambut Kai dengan sangat lembut. Mereka masih dalam keadaan tanpa busana, hanya sebuah selimut saja yang menutupi tubuh polos mereka berdua.
"Sayang...?"
"Apa.?"
"Kamu harus jaga dia dengan baik ya.?"
"Tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik tanpa kamu minta Kak. "
"Aku tidak ingin jika sampai terjadi apa-apa sama kalian berdua."
Yasika tersenyum lebar. "Tenang saja Kak, kita berdua akan baik-baik saja kok. Ya kan nak..?" Ucap Yasika dengan mengelus perutnya itu.
Mereka berdua-pun saling tersenyum, dan tanpa terasa kantuk-pun datang menyerang. Mereka berdua terlelap begitu saja karena mereka merasa kelelahan malam ini. Saat pagi datang, Kaisar sudah rapih dengan pakaian kerjanya, ia sudah bersiap akan pergi ke kantor pagi ini. Kaisar sedang membereskan semua dokumen yang akan ia bawa pagi ini, dan betapa terkejut nya saat ia mendengar teriakan Yasika yang saat itu berada di kamar mandi.
Kai melangkah kan kakinya lebar-lebar agar segera sampai ke kamar mandi. Begitu kamar mandi itu terbuka, Kai sangat terkejut saat melihat Yasika duduk di lantai sedang meringis kesakitan.
__ADS_1
Matanya membelalak. "Ya Tuhan, Sayang.!" Kai berlari masuk ke dalam kamar mandi itu. "Kamu kenapa.?"
Yasika meringis kesakitan. "Aku jatuh kak, saat mau mengambil handuk itu."
"Ya Tuhan ... Sayang." Kai panik, bahkan tangannya sampai bergetar saat melihat ada darah dari balik handuk istrinya itu.
"Kak, kenapa ada darah?"
Kaisar menarik nafas dalam.
"Kamu tenang sayang, aku yakin gak akan terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Kita ke rumah sakit sekarang ya?"
Entah kenapa perjalanan dari rumah menuju ke rumah sakit terasa begitu lama. Kaisar tidak berhenti berdoa, sepanjang perjalanan sesekali matanya menoleh ke arah Yasika yang sedang kesakitan. Kai menyesal karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, Kaisar benar-benar merasa ketakutan sekarang, tetapi dengan segala kesadarannya ia tetap melajukan mobil itu dengan tenang, karena ia tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka.
Yasika memegang perutnya, dan ia masih meringis kesakitan, dan itu berhasil membuat Kai merasa khawatir di buatnya.
"Sayang bersabarlah, sebentar lagi kita sampai.!"
Yasika tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dengan mata yang terpejam menahan rasa sakit.
"Tenanglah, kalian pasti baik-baik saja." Ucap Kai kembali dengan sangat khawatir.
"Kak, aku takut..!"
"Kamu yang kuat ya.?" Ucapnya kembali dengan penuh semangat kali ini.
Kaisar sungguh cemas dan khawatir, kalau sampai terjadi apa-apa pada mereka berdua, entah apa yang akan terjadi padanya. Kaisar tidak tega melihat sang istri yang menangis dan menahan rasa sakitnya, perasaannya tidak tenang, pikirannya kalut saat ini. Baru saja tadi malam mereka bercanda dan tertawa bersama tapi sekarang semua itu hilang, seiring dengan rasa sedih yang menimpanya.
Ya Tuhan... Tolonglah, jaga mereka untukku..
Selamatkan istri dan anakku..
Lindungi mereka berdua, kuatkan mereka..
Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka berdua..
* * *
__ADS_1