Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
93. Gak jelas


__ADS_3

Happy reading semua... ❤


* * *


Kaisar mondar mandir bersama dengan raut cemas dari wajahnya ketika berada di depan ruang UGD. Kedua orang tua dan kedua mertuanya juga sudah ada disana.


Sudah satu jam mereka menunggu Yasika di dalam sana, belum ada satu orang pun yang keluar dari ruangan itu. Kai panik, tidak tenang, bahkan rasa takut pun tiba-tiba datang menghampirinya.


Yang Kai inginkan saat ini hanyalah melihat istrinya Yasika, ia ingin berada di sampingnya saat ini, ia ingin melihat wajah dan memeluk tubuh istrinya itu. Kaisar mengguyar rambutnya kebelakang, ia mengusap wajahnya penuh frustrasi. Begitu pintu ruangan itu terbuka, Kai segera menghampiri di ikuti oleh yang lainnya.


"Dokter, bagaimana istris saya.?" Hal pertama yang ia tanyakan dengan sangat cemas.


"Ibu Yasika masih sangat lemah, hampir saja, tadi kehilangan kandungannya. Tetapi ... janin yang ada di perutnya bisa di selamatkan. Karena anda segera membawanya ke rumah sakit, Pak."


"Ya Tuhan ... " Ucap mama Wina lirih.


"Untuk sekarang, tolong anda jaga istri nya Pak, jangan sampai dia lelah atau stress."


Kepala itu mengangguk. "Baik, Dok."


"Apa kita sudah bisa menjenguknya?" Tanya Papa Andi dengan sedikit cemas.


Kaisar hanya bisa memejamkan matanya, ia tidak berdaya sekarang. Di dalam pikirannya saat ini, hanya menginginkan istri dan anaknya itu kembali sehat.


"Sudah, tapi yang boleh masuk cuma satu orang." Sang Dokter pun tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Setelah berucap Dokter itupun pergi meninggalkan mereka semua.


"Biar aku aja yang masuk ya.?" Pinta Kai pada mereka semua.


Kai segera masuk ke dalam ruangan itu, ia bisa melihat tubuh istrinya yang terbaring lemah dengan selang infus di pergelangan tangannya. Kai merasa tubuhnya semakin tak berdaya, ia menatap wajah pucat sang istri yang sedang terpejam. Betapa pilunya Kai saat ini, ia tidak bisa menahan lagi rasa sedihnya. Hingga ia tidak menyadari air matanya tumpah begitu saja dan itu untuk sang istri wanita yang benar-benar sangat ia cintai.


"Sayang." Ucapnya pelan. "Bangun, ini aku. Kamu pasti kuat, kamu dan anak kita akan baik-baik saja." Katanya kembali seraya mengelus lembut pipinya itu.


"Aku sayang kamu." Ucap Kai dengan sedikit isakan.


Yasika mulai tersadar, jari-jarinya bergerak. dan perlahan matanya mulai terbuka.


"Kak... " Ucap Yasika dengan sedikit tersenyum.


Kaisar tersenyum, ia segera mengusap air mata yang jatuh di pipi-nya itu. Ia menatap wajah sang istri, betapa bahagianya sekarang karena ia bisa melihat istrinya itu kembali membuka matanya dan tersenyum.



"Sayang ... syukurlah, kamu sudah sadar." Katanya pelan dengan sangat lembut dan tersenyum menatap wajah sang istri.

__ADS_1


"Kak, maafkan aku.?" Ucap Yasika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa minta maaf huh..?"


"Kerena aku tidak bisa menjaga diri dengan baik."


"Hei ... Sudah jangan bicara seperti itu, kamu tidak salah. Semua itu hanya kecelakaan sayang.!" Kata Kai kembali seraya mengusap air mata sang istri.


Yasika tersenyum, "Bagaimana dengan Kandungan ku Kak, bagaimana dengan anak kita.?"


"Syukurlah, kamu dan calon anak kita selamat. Kalian baik-baik saja." Tuturnya kembali.


"Terima kasih Tuhan... Engkau masih memberi kami kepercayaan." Ucap Yasika dengan sangat lirih.


"Ingat mulai sekarang kamu jaga diri kamu baik-baik ya? jangan sampai kamu capek atau merasa stress. Dan aku gak akan biarin itu terjadi."


Yasika mengangguk kemudian dengan segera ia menghambur memeluk tubuh suaminya itu.


"Kak, kenapa kamu sampai berkeringat kayak gini.?"


"Apa aku bau.?"


Yasika menggeleng. "Gak kok, aku suka sama bau tubuh kamu meskipun berkeringat." Dengan terkekeh ia bicara.


Kaisar merasa kini dirinya sudah merasa sedikit tenang, ia benar-benar bersyukur karena istri dan anaknya itu dalam keadaan baik-baik saja. Kai tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia kehilangan salah satu dari mereka berdua, Kai memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, dan tanpa terasa kini air matanya kembali menetes.


Kaisar buru-buru menghapus air matanya, ia segera mengurai pelukannya. Dan kini ia menoleh ke arah sang Dokter muda itu yang sudah berada di hadapan nya saat ini. Kaisar menatapnya dengan lekat dan Dokter itu'pun seolah mengetahui maksud dari tatapan mata suami pasien-nya itu.


"Saya Dokter Reza, saya menggantikan dokter Lena karena beliau hari ini sedang libur tugas." Dengan tersenyum tipis Dokter itu bicara.


Kaisar mengangguk, "Silahkan Dok."


"Baiklah saya periksa sekarang."


Yasika mengangguk setuju dan tersenyum, sehingga membuat Dokter muda itu terpana melihat senyumannya.


Ya Tuhan ... Cantik sekali perempuan ini.


"Ekhemm ... " Kaisar sudah merasa geram, berani-beraninya Dokter itu menatap wajah istrinya.


Dokter Reza-pun segera mengalihkan pandangan matanya itu, dan dengan segera ia langsung memeriksa Yasika. Selama Dokter itu memeriksa istrinya, selama itu pula Kai merasakan kesal dalam hatinya. Apalagi saat melihat Dokter itu tersenyum ramah ke arah Yasika.


"Masih harus banyak istirahat ya, jangan sampai kelelahan."

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kandungan saya Dok, apakah baik-baik saja.?"


"Kandungan ibu masih lemah, jadi saya sarankan ibu harus banyak istirahat ya.?" Ucap Dokter itu ramah.


Yasika tersenyum. "Baik Dok, terima kasih."


Kaisar sangat kesal ketika dia melihat istrinya itu tersenyum kepada sang Dokter.


"Ya sudah, semoga lekas sembuh ya bu Yasika."


Dokter Reza-pun pergi meninggalkan ruangan itu.


"Bahagia banget di periksa sama Dokter yang ganteng.?" sindir Kai pada istrinya itu.


Yasika terkekeh geli, ia tahu kalau suaminya itu tidak suka. "Gimana gak bahagia sih kak, Dokter nya ganteng gitu, masih muda lagi."


"Apaan?" Kai mendengus tidak suka. "Tetep aja, gantengan aku."


Yasika tertawa pelan. "Iya ... iya deh. Kamu memang paling ganteng kok."


"Untung cuma hari ini doang dia meriksa kamu."


"Emangnya Kenapa.?"


"Aku gak suka liat dia."


"Kenapa?" Tanya Yasika kembali.


"Pokoknya aku gak suka."


"Kamu ini, Memangnya kenapa.?"


"Pokoknya aku gak suka lihat cara dia menatap kamu."


"Ya ampun Kak, cuma liat doang."


"Apalagi lihat kamu senyum-senyum gak jelas kayak gitu."


"Kamu yang marah-marah gak jelas, kak...!!!"


Entah sampai kapan mereka akan berdebat jika di antara salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Yasika hanya bisa pasrah, suaminya itu memang sedikit keras kepala. Jadi lebih baik Yasika diam daripada terus berdebat hal yang menurutnya tidak penting sama sekali.


* * *

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote buat aku ya..


Terima kasih buat semuanya... ❤


__ADS_2