Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
55. Teman lama


__ADS_3

Hualla aku ngebut nih..


Semoga Kalian suka ya??


Happy reading guys... ❤


* * *


Aaarrgghh ....... Tidak.!!!! " Teriak Anne yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Gak... Kai, aku gak akan biarkan ini terjadi. Aku mencintaimu, kamu harus menikah sama aku..!! " Anne dengan lirihnya mengatakan itu, ia tidak berhenti menangis, mungkin jika di lihat matanya sekarang sudah sangat sembab.


" Kamu gak boleh tinggalin aku. "


" Aku mencintaimu Kai, kamu adalah segalanya buat aku, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi milik aku. "


Anne merasa kini dunianya hancur, Ketika Kaisar memutuskan hubungannya begitu saja. Ia tidak tahu harus pada siapa lagi dirinya menumpahkan kesedihannya. Karena ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, setelah kematian ayahnya Anne tinggal sendiri, dan hanya di temani oleh para asisten rumah tangganya saja.


Anne berjalan ke suatu tempat, dan ini adalah tujuan utamanya sekarang ia biasanya akan menghabiskan waktunya disini setiap kali ada masalah atau sedang merasa rindu pada seseorang. Ia duduk menatap gundukkan tanah yang masih penuh dengan taburan bunga dan sebuah pusaran nama, ia menatap lekat kedua pusaran nama tersebut. Kemudian ia tersenyum dan kembali meneteskan air matanya, ketika ia mengingat kembali kepada kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkannya.


Anne merasa kini dirinya hidup sendirian, ia mencurahkan segala isi hatinya sekarang. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh begitu saja, ia menangis tersedu-sedu.


Ayah ... Ibu kenapa kalian begitu cepat meninggalkan aku sendirian disini.


Aku sangat merindukan Kalian.


Aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup, tetapi aku akan bertahan demi kalian.


Aku sangat mencintai kalian berdua.


" Anne....! "


Sapa seseorang yang kini berdiri tepat di belakang dirinya. Anne segera menoleh ketika mendengar suara itu, ia sedikit mengkerutkan dahinya, ia merasa bingung dengan orang tersebut, tetapi kemudian kebingungan itu terjawab sudah ketika laki-laki itu menyebutkan siapa dirinya.


" Apa kabar Ann ... kamu tidak ingat siapa aku? aku Davin Ann teman masa kecilmu sekaligus tetangga kamu waktu tinggal di Bandung. "


Anne tersenyum ia baru mengingatnya. " Davin.??"


Davin pun tersenyum kembali. " Kamu apa kabar Ann,? "

__ADS_1


" Maaf aku tadi tidak mengingatnya, aku baik Vin. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu sendiri gimana kabar nya?? "


Davin dan Anne kini mereka sedang duduk di sebuah cafe. Mereka adalah teman masa kecil sekaligus tetangga waktu masih tinggal di Bandung. Mereka menghabiskan waktu untuk sekedar ngobrol dan cerita masa lalu mereka.


" Maaf Ann ... aku tidak tahu kalau kedua orang tuamu sudah meninggal.! "


" Gak, pa-pa Vin ... lagipula kita juga baru ketemu kan? " Jawab Anne sambil tersenyum.


" Kamu sendiri ngapain di tempat pemakaman Vin.? "


Davin menatap Anne, ia tersenyum. " Aku lagi mengunjungi makam-nya calon istriku Ann..!! "


" Calon istri.? maksud kamu.? "


Davin terdiam, " Ya dia Nadine, teman SMP kita.. "


Anne terkejut saat mendengar itu, ia mengingat yang di maksud calon istri Davin itu adalah teman sekolahnya.


" Maaf Vin, kalau boleh tau kenapa Nadine meninggal.? "


Davin menutup matanya sekilas, kemudian ia kembali bersuara. " Dia mengidap leukemia Ann ... dan nyawanya sudah tidak bisa di selamatkan lagi.. "


" Ya Tuhan ... Maaf Vin aku gak tau. "


Davin lebih memilih untuk kembali kepada Nadine karena ia mengetahui jika waktu itu Nadine sedang mengidap penyakit.


Dan tidak terasa, mereka sudah menghabiskan banyak waktu disana. Mereka sudah saling melepas rindu dan saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.


Kini baik Davin atau Anne mereka sudah pergi meninggalkan tempat itu. Dan mereka akan sering bertemu dan saling memberi kabar. Karena itulah yang di sepakati keduanya. Bagaimanapun mereka adalah teman masa kecil. Dan sekarang mereka sudah tinggal di kota yang sama.


* * *


Di tempat yang berbeda kini ada seseorang yang sedang menahan amarahnya, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran putra bungsunya itu, dengan tiba-tiba saja Kaisar membuat kedua orang tuanya merasa terkejut. Kalau bukan karena dia adalah anaknya, mungkin saja saat ini papa Andi sudah melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya.


" Apa maksud kamu Kai..? " sentak papa Andi sekarang bertanya pada putra bungsunya itu.


" Pah ... Maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak mencintainya Pa, aku mencintai orang lain..! " Tegas Kaisar yang memberanikan diri berbicara kepada kedua orang tuanya.


" Itu tidak boleh terjadi, kamu tau kan alasan Papa sebenarnya apa? "

__ADS_1


" Tapi Pah ... Aku juga sudah bicara pada Anne. "


Papa Andi terkejut. " Apa kamu bilang? "


Kaisar menundukkan wajahnya, kemudian ia menganggukkan kepalanya.


" Ya Pah, aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Anne. "


" Kaisar ... !! " Teriak papa Andi, ia sangat terkejut sekali dengan perkataan anaknya itu.


" Pah ... maafkan aku.!! "


" Pah ... sudah pa, papa tenang dulu ya? " kini mama Wina yang bicara dengan mengelus lembut lengan suaminya itu.


Papa Andi menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan anaknya itu. bagaimana bisa Kaisar akan membuatnya kecewa seperti ini. Ia bukan anak penurut lagi seperti dulu, baginya Kaisar sekarang sudah berubah. Meskipun dalam hati papa Andi sangat bangga kepada anaknya itu. Karena Kaisar sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab. Mengingat bagaimana sekarang ia menjadi pemimpin perusahaan yang sukses.


" Papa kecewa sama kamu Kai.? "


Kaisar bisa melihat bagaimana sekarang raut wajahnya Papa Andi yang berubah menjadi sendu, ia bisa melihat kalau dalam wajah Papanya itu terlihat jelas ada kekecewaan yang menyelimutinya. Sebenarnya Kaisar tidak tega melihat kedua orang tuannya merasa sedih, karena bagaimana pun Kaisar sangat menyayangi mereka berdua. Tapi untuk kali ini Kaisar tidak bisa lagi menuruti perintah dari kedua orang tuanya. Ia akan memperjuangkan cintanya untuk Yasika.


" Maafkan aku Pa.. "


Papa Andi tidak bicara lagi, ia segera pergi meninggalkan Kaisar dan istrinya yang masih duduk disana.


" Kamu itu Kai ... kamu bisa melihat sendiri sekarang kan bagaimana papa sangat kecewa padamu. "


" Maafkan aku mah.. "


" Mama sudah bisa menebak bahwa ini akan terjadi. Tapi mama mohon Kai kamu jangan mengambil keputusan sebelum kamu benar-benar memikirkan apa akibatnya.! "


" Aku tau Ma, tapi itu sudah aku pikirkan baik-baik."


" Mama tidak bisa berbuat apa-apa untuk kamu Kai, kamu berdoa saja semoga papamu bisa menerima keputusan yang kamu buat. ! "


Kaisar menganggukkan kepalanya dan menatap sendu.


Semoga saja, itu adalah keputusanku.


Maafkan aku Pah.. mah.. untuk kali ini aku bukan lagi anak yang penurut.

__ADS_1



* * *


__ADS_2