Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
KHM 2 part 11


__ADS_3

Happy reading semua... ❤


* * *


Siang itu, dengan penampilannya yang anggun, cantik dan seksi, Raisa benar-benar menepati ucapannya untuk datang ke perusahaan dimana Kai suami Yasika bekerja. Mengendarai mobilnya seorang diri, ia datang tanpa di temani oleh siapapun. Berbekal tas dan sebuah paper bag berisi makanan sudah ia persiapkan khusus hanya untuk Kai. Ya, Raisa memang sengaja membawa makanan yang ia buat dengan tangannya sendiri. Ia ingin membuktikan pada Kaisar bahwa dirinya adalah wanita yang sempurna, selain cantik, seksi, pintar, dan seorang pembisnis, ia juga merupakan wanita idaman untuk di jadikan sebagai istri.


Ck, istri? istri dari laki-laki yang sudah beristri?ingin menjadi madu maksudnya gitu? miris sekali bukan?


Berjalan dengan begitu anggun, serta wajah yang terlihat sedikit angkuh, Raisa masuk ke dalam gedung pencakar langit itu. Sepanjang perjalanannya menuju ke ruangan Kai, bibir merah yang terlihat seksi itu tidak berhenti untuk tersenyum. Raisa begitu senang, bahkan rasa senangnya itu melebihi saat ia berhasil mendapatkan tender dari kliennya.


Akhirnya Kai ... aku bisa makan bareng berdua sama kamu...!


Semua karyawan yang melihat, memandang Raisa tanpa berkedip. Bagaimana tidak? wanita itu mengenakan pakaian yang menurut mereka seperti kekurangan bahan.


"Siang bu Raisa." sapa salah satu karyawan yang sudah mengenalinya.


Raisa hanya memberikan senyuman tipisnya, setelah itu, ia berlalu begitu saja.


Semua karyawan yang melihat hanya bisa menggeleng seraya tersenyum meledek.


"Selamat siang, ibu Raisa ya?" Sapa Wilda ramah.


Raisa mengernyit, menatap heran pada sosok perempuan yang perutnya terlihat sedikit membuncit.


"Saya baru lihat kamu?" matanya beralih menatap ke bawah. "Kamu sedang hamil?"


Wilda, sekretaris baru yang membantu Bayu itu tersenyum. "Saya baru di pindahkan ke perusahaan ini, untuk membantu Pak Bayu." Wilda kembali tersenyum seraya mengelus perutnya yang membuncit. "Saya sedang hamil anak pertama Bu."


Sedikit menarik ujung bibirnya ke atas, itulah yang Raisa lakukan saat ini.


"Pak Kaisar nya ada kan?"


"O iya, ibu sudah di tunggu Bapak di ruangannya."


Raisa tersenyum tipis. Kini, wanita itu tengah berdiri tepat di depan pintu masuk ruangan sang Direktur utama perusahaan itu. Sebelum tangannya terangkat untuk mengetuk, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan lebar.


Sesaat mata mereka bertubrukan.


"Selamat siang nona Raisa." sapa Bayu hangat dengan menorehkan sedikit senyuman di bibirnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Raisa berujar. "Pak Kaisar-nya ada?"


Bayu mengangguk. "Silahkan, anda tunggu di dalam nona Raisa, kerena atasan saya sedang keluar sebentar." Ujar Bayu kembali.


Raisa mengangguk. "Oh, oke."


Setelah Bayu mempersilahkannya untuk masuk, Raisa langsung duduk di sofa yang berada di ruangan besar milik Kai. Ia duduk begitu anggun dengan posisi menggoda. Belahan dada serta paha mulus yang sedikit terbuka itu sengaja ia pertontonkan untuk menggoda sang pujaan hatinya.


Ah... aku udah gak sabar Kai,


pengen makan bareng sama kamu.


Aku sengaja loh masak semua ini hanya untuk kamu..


Raisa tersenyum, meletakkan semua makanan itu di atas meja.


Pasti kamu senang deh Kai...


"Hai." Suara lembut itu terdengar begitu familiar di telinganya.


Raisa mengangkat wajahnya, melihat sosok perempuan yang sedang berdiri seraya tersenyum tipis ke arahnya. Raisa menatap Yasika, wanita yang baru saja menyapanya itu. Sedikit terkejut, lantas, ia tersenyum untuk menutupi keterkejutannya itu.


"Apa kabar nona Raisa?" tanya Yasika basa-basi.


Raisa berdecak malas. "Baik."


"Kebetulan sekali ya kamu ada disini? senang bisa bertemu dengan anda nona Raisa." Yasika kembali berujar dengan santainya.


Raisa hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan Yasika yang menurutnya penuh basa basi itu.


"Apa anda sedang menunggu suami saya?" Satu pertanyaan yang berhasil membuat wanita itu tercengang.


Raisa terpaksa tersenyum. "Ya, saya sedang menunggu Kaisar."


"Oh ... " Ucap Yasika Seraya mengangguk pelan. "Tapi sayang suami saya tidak mau menerima tamu, makanya saya yang datang kesini untuk menemui anda."


"Maksud kamu apa?" Raisa mulai menyolot.


Yasika tertawa pelan. "Suami saya lebih memilih untuk bermain dengan jagoan kecilnya, ketimbang dia harus menemui kamu disini."

__ADS_1


Raisa menggeram, dengan rahang yang mulai mengeras.


"Saya tahu, semalam kamu ngajak suami saya untuk makan siang bersama bukan?"


Raisa tertawa, dengan penuh ledek. "Rupanya kamu tahu?"


Yasika mengangguk.


"Oh ya sudah, sekarang sudah tidak ada yang perlu aku tutupin lagi dari kamu." Raisa berucap dengan santainya. "Maaf ya kalo aku sama suami kamu sering berhubungan lewat pesan."


"Tapi sayang-nya suami saya tidak pernah menanggapi nya kan?"


Raisa kembali tertawa. "Jangan sok tahu kamu, jadi wanita itu jangan polos-polos amat." Ia tersenyum sinis dan kembali berujar. "Kamu tahukan kalau Kaisar itu lelaki tampan, dan kaya raya? apa kamu percaya kalau dia setia.?"


Yasika berdecak, "Saya tahu suami saya seperti apa. Bukankah saya pernah bilang sama kamu, kalau suami saya bukan orang yang seperti kamu kira, sekalipun kamu menggodanya dengan paha dan dada kamu yang terbuka, suami saya tidak akan tertarik, karena dia tahu wanita penggoda itu seperti apa?" balasnya telak.


Raisa mengepal kuat, menatap Yasika dengan tajam. "Ck, Yakin sekali kamu?"


"Baiklah nona Raisa, saya tidak ingin bicara basa-basi lagi. Saya hanya ingin mengatakan sama kamu, untuk stop, berhenti dan jangan ganggu suami saya lagi."


"Gimana kalau aku gak mau."


"Saya gak ngerti sama jalan pikiran anda, anda ini wanita baik-baik bukan? anda cantik, lulusan dari luar negeri, dan anda dari keluarga terhormat. Apa anda gak malu nona Raisa? bagaimana mungkin, wanita seperti anda rela mengorbankan harga dirinya hanya untuk mengejar cinta laki-laki yang sudah beristri?"


Raisa kembali berdecak. "Semua itu gak masalah buat aku, asalkan __ Kaisar Pratama menjadi milik aku." dengan penuh penekanan ia mengucapkan nama Kaisar di hadapan istrinya itu.


Yasika mendesis. "Terserah, kalau begitu jangan salahkan saya jika sampai ayah anda tahu."


"Apa maksud kamu dengan bawa-bawa nama ayah aku hah.?"


"Jika saya tidak bisa membuat anda sadar." ada jeda di sela kalimatnya. "Baiklah, saya akan beritahu tuan Adiwiguna bagaimana kelakuan anda yang sangat tidak pantas sebagai putri yang selalu yang ia banggakan."


Matanya membelalak tidak percaya.


Sial...


Raisa tahu kelemahannya itu adalah Ayah-nya sendiri. Ia merasa takut jika nama sang Ayah sudah di sangkut pautkan dalam segala hal. Dan, yang membuat dirinya bingung adalah kenapa Yasika bisa berpikiran sampai sejauh itu. Padahal ia sendiri tidak pernah berpikir untuk sampai kesana.


Sialan .... Mendengar nama sang Ayah kenapa membuat nya merasa kalah seperti ini.

__ADS_1


* * *


__ADS_2