
"Kak... " pekik Yasika saat tiba-tiba saja Kaisar memeluknya dari belakang.
"Kamu wangi sekali sayang?" Kaisar berujar seraya mencium tengkuk lehernya.
"Udah makan?"
"Belum."
"Kamu mau makan apa? biar aku buatin dulu."
"Apa saja, yang penting kamu yang bikin."
Yasika tersenyum seraya mengelus rambut suaminya dengan sangat lembut.
"Ya udah kamu mandi dulu sana?"
"Bentar lagi." saut Kai dengan masih setia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Si bocil udah tidur?" pertanyaan itu kembali di lontarkannya.
"Kalan?"
"Ya, siapa lagi? di rumah ini kan cuma ada dia?"
"Dia udah tidur, makanya aku baru mandi."
"Dia itu nguasain kamu banget ya?"
Yasika terkekeh geli. "Kamu ini Kak ... sama anak sendiri."
"Aku kangen banget sama kamu."
"Aku juga." balas Yasika lembut.
"Sayang...?"
"Hmm... "
"Udah waktunya deh kita beri Kalan adik."
Yasika kembali terkekeh. "Aku tau apa maksud kamu?"
"Apa?"
"Kamu minta jatah kan?"
Kaisar tertawa kecil, memeluk tubuh istrinya semakin erat. Membenamkan wajah di ceruk leher sang istri sambil sesekali mengecupnya. Selalu menjadi kebiasaan baginya setelah ia pulang kerja yang pertama kali dicarinya adalah istri dan anaknya. Bagi Kai wangi tubuh istrinya itu sudah menjadi candu baginya. Bahkan di saat ia tertidur-pun Yasika harus berada di sampingnya, tapi sayang kebiasaan itu harus ia hilangkan semenjak hadirnya Kalandra, anak tampan itu selalu menjadi penghalang di antara mereka berdua.
Yasika selalu menjadi rebutan untuk kedua laki-laki itu. Mereka mempunyai kesamaan dan kebiasaan yang sama yaitu sama-sama harus memeluk tubuh Yasika saat tertidur.
"Udah lama kamu gak ngasih aku jatah?"
"Masa sih? perasaan baru kemarin?"
"Kemarin apanya? udah tiga hari yang lalu ya? itupun harus sembunyi-sembunyi dari si bocil."
Yasika tertawa begitu mendengar kekesalan suaminya itu. "Itu anak kamu loh Kak.? kamu yang bikin kan?"
__ADS_1
"Makanya sekarang kita bikin lagi ya?" ucapnya lembut dengan tangan yang menyusup masuk ke dalam baju sang istri.
Yasika terpejam, saat tangan laki-laki itu mulai menyentuh dan mengelus perutnya yang rata.
"Kak... " suara lembut itu terdengar seperti sebuah desahan.
Kaisar semakin gencar, tangan yang semula berada di perutnya kini beralih naik memegang dan meremas lembut dua gundukan sintal itu. Yasika hanya bisa menutup mata dan menggigit bibir bawahnya saat tangan laki-laki itu masih menyentuh dengan lembut semua bagian tubuhnya.
Yasika membalikan badan, menatap dalam wajah sang suami dengan tatapan yang menyendu. Ia pandangi wajah yang masih terlihat tampan itu, bagi Yasika seorang Kaisar akan tetap menjadi laki-laki yang paling sempurna di matanya. Yasika sangat mengagumi sosok Kaisar sebagai seorang suami dan ayah untuk anak laki-lakinya itu.
Kedua tangannya kini mengalung pada leher sang suami. Yasika berjinjit dan mengecup keningnya dengan sangat lama. Kecupan itu berkahir, ketika Kaisar tiba-tiba saja menggendongnya.
"Kak ... "
Kaisar tersenyum menatap gemas kepada istrinya itu. "Lanjutin disitu ya?" bisiknya pelan seraya merebahkan tubuh sang istri di kasur besar miliknya.
"Sekarang kamu sudah siap kan?" ia jeda kalimatnya. "Soalnya aku gak mau pakai pengaman lagi, kamu udah siap kan kasih Kalan adik?" pintanya dengan seringai di wajahnya.
Yasika tersenyum dan mengangguk malu.
"Aku siap kok ... Mudah-mudahan ja bisa di kasih secepatnya."
Seringai itu semakin melebar hingga terbentuk seperti sebuah senyuman yang sangat manis.
"I love you.."
"Love you too my hubby." balas Yasika dengan sangat lembut.
Kaisar senang, merasa dirinya sudah mendapat persetujuan ia langsung menyerang istrinya habis-habisan. Baru kali ini ia bisa mendapatkan waktu yang cukup luang, karena biasanya sangat susah bahkan selalu sembunyi jika ingin melakukan hubungan suami istri. Kaisar sering merasa kesal saat sang anak selalu saja mengganggunya, ia tidak pernah punya waktu untuk bisa berdekatan dengan sang istri. Kalan selalu menguasai sang bunda.
Kaisar dan Yasika sudah siap, mereka sudah bertelanjang dada, saat Kai akan memulai aksinya tiba-tiba terdengar suara teriakan yang tidak asing di telinga dan memanggil nama sang bunda.
Yasika dan Kaisar terperangah, mereka berdua kaget bukan main saat tiba-tiba saja suara yang tidak asing itu terdengar begitu jelas di telinga.
"Kalan?" ucap Kai heran.
"Ya ampun ... Kalan?" ucap Yasika seraya mengenakan kembali pakaian yang sudah terlepas sebagian.
"Tuh anak ngapain bangun sih?"
"Kak ... Jangan gitu? cepetan kamu pakai lagi bajunya?
Menghela nafas berat, dan mengusap wajahnya gusar. " Sayang ... Udah jangan di buka dulu ya?"
Yasika mengernyitkan dahinya, menatap dengan mata menyalang. "Kak ... Kasian dia"
"Kamu gak kasian sama aku?"
"Kak.. "
"Bentar ja ya? sepuluh menit deh, aku janji cepet."
Ya ampun... Bagaimana bisa seorang Kaisar bisa memelas seperti ini.
"Bunda ... Buka pintunya?" teriak anak itu kembali dan kini suaranya terdengar seperti sedang terisak.
Yasika tahu kalau anak laki-lakinya itu sedang menangis, dengan segera ia turun dan tidak menghiraukan suaminya lagi. Yasika berlari kecil dan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Bunda... " cicit bibir mungil itu.
"Ya sayang... kenapa?"
"Aku mau tidur di kamar bunda ya?"pintanya dengan sangat menggemaskan.
"Loh... Kenapa?"
"Aku mau tidurnya sama bunda." dengan wajah yang menunduk Kalan mengatakannya.
Yasika merangkul tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mengusap lembut rambutnya yang hitam lebat.
"Ya udah, sekarang Kalan tidurnya sama bunda sama ayah ya?"
"Emang boleh?"
Yasika mengangguk dan tersenyum. "Boleh."
Bibir mungil itu tersenyum lebar, matanya yang bulat itu berbinar.
"Kamu kenapa bangun malam-malam gini?" tanya Kai secara tiba-tiba.
"Kak... "
Kalan menatap wajah sang ayah.
"Ayah marah?" cicitnya kembali.
Kaisar tersenyum, bagaimana bisa ia marah kepada jagoan kecilnya itu. Katakan saja kalau saat ini Kaisar memang sedang kesal, tetapi melihat tatapan polos dan bola mata yang bulat itu membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Ayah gak marah kok." ucap Kai seraya menggendongnya. "Kamu cuma ganggu ayah aja."
"Emangnya ayah mau ngapain?"
"Ayah mau bikin adik bayi buat kamu?"
"Hore... " teriak anak itu kegirangan.
"Kamu senang?"
"Ya ... Aku mau adik bayi ayah."
"Kalau gitu, Kalan cepetan tidur lagi ya?"
"Kenapa aku harus tidur?"
"Kan ayah mau bikin adik bayi buat kamu?"
"Ya udah ayah bikin aja, aku sama bunda mau liatin."
Kaisar mengernyit bingung.
"Ayah mau bikinnya sama bunda."
"Kak.. " mata Yasika melotot tajam.
Kalan bingung, itulah yang ia rasakan saat ini, di tatapnya wajah ayah dan bundanya secara bergantian.
__ADS_1
"Apa aku boleh lihat ayah sama bunda lagi bikin adik bayi.?"
* * *