Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
KHM 2 part 13


__ADS_3

Happy reading...


* * *


"Apa Dok? jadi saya hamil?"


Yasika sedikit terkejut dengan rahang terbuka lebar, tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau ia akan hamil secepat ini. Padahal setahu Yasika, ia baru melepas alat kontrasepsi nya satu bulan yang lalu. Yasika terkejut sekaligus senang di buatnya.


"Iya, ibu Yasika. Usia kandungan anda sekarang memasuki minggu ke empat."


"Jadi __ suami saya?" Tanya Yasika bingung.


Sang Dokter-pun tersenyum. "Suami anda mengalami Couvade syndrome atau sindrom kehamilan simpatik. Itu biasa terjadi kok bu, pak." Ujar sang Dokter kembali.


"Terus gimana cara nyembuhin nya Dok? saya gak kuat kalau mual terus, makan juga gak mau Dok?" Kali ini, Kai yang berbicara. Sebenarnya ia senang mendengar tentang kehamilan sang istri, kabar ini yang selalu Kai tunggu. Ia senang jika Kalan akan mempunyai seorang adik, apalagi kalau anak ke dua mereka nanti perempuan. Kania prameswari pratama itulah nama untuk calon anaknya nanti jika janin yang masih berada di perut istrinya itu adalah perempuan.


Ya, Kaisar berharap jika nanti calon adiknya Kalandra itu adalah perempuan.


Ah ... Kebahagiaan yang tiada duanya bukan?


"Bapak yang sabar ya? nanti saya kasih obat sama Vitamin."


"Baiklah kalau begitu Dok."


"Ibu, ini juga saya buatkan resep vitamin untuk ibu, jangan lupa di minum ya?"


"Iya Dok, terima kasih."


"Sama-sama."


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan Dokter kandungan tersebut, Kaisar dan Yasika segera menebus beberapa obat serta vitamin untuk mereka berdua. Kai tampak senang, sepanjang perjalanan menuju ke kantornya, ia tidak berhenti mengucap rasa syukur dan mencium tangan Yasika berkali-kali. Begitupun dengan Yasika, ia sangat senang sekaligus bahagia.


"Akhirnya ... Kamu hamil juga sayang? aku seneng banget dengernya."


"Iya Kak, aku juga."


"Anak kita bakalan cantik kayak kamu nantinya."


Yasika mengernyit, menatap bingung suaminya itu. "Yakin sekali kalau dia perempuan?"


"Iya, aku sih berharap dia anak perempuan."


"Gimana kalau dia laki-laki sama seperti Kalan.?"


"Yah ... kalau dia sama seperti si bocil, bertambah lagi dong yang ganggu kita."


Yasika tertawa, menepuk pelan lengan suaminya itu. "Kalau dia perempuan, berarti udah ya, cukup punya dua anak juga."


"Loh kenapa?" tanya Kai penasaran.


"Iya dong, emang kamu maunya punya berapa anak?"


"Aku mau banyak, kan banyak anak banyak rejeki sayang ... biar rumah gak sepi."


Yasika mendesis. "Kamu yang enak tinggal bikinnya doang, sementara aku?"


"Ya itu udah jadi kewajiban aku kalo bikin, aku juga bekerja demi kamu dan anak-anak kita nantinya." Kai berujar seraya memasukan mobilnya ke dalam basement gedung tempatnya bekerja. Kai sengaja membawa istrinya hanya untuk menemani dirinya di saat lagi bekerja, Kai butuh Yasika sekarang. Di saat mengalami syndrome seperti ini hanya wangi tubuh istrinya yang membuat rasa mual itu hilang.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak, Bu Yasika."


Kai hanya mengangguk, sedangkan Yasika ia seperti biasa selalu bersikap ramah dan membalas sapaan itu dengan lembut.


"Selamat siang juga. Apa kabar kamu Wilda?"


"Baik Bu..."


"Wah ... perut kamu udah kelihatan membesar ya? semoga lancar sampai nanti persalinan ya?"


"Amin ... Makasih bu Yasika."


Yasika tersenyum, ia pandang perut Wilda yang semakin terlihat membuncit. Dan sebentar lagi, Yasika juga sama akan seperti itu, berubah jadi berisi dengan perut yang membuncit.


"Wah ... Wah ... baru datang ni si bos?"


Suara melengking milik Bayu itu terdengar nyaring disana. "Eh ... Ada Ibu Yasika? apa kabar?"


Yasika tersenyum. "Baik, kamu sendiri gimana kabarnya?"


"Ya, seperti biasa, saya selalu baik. Ibu Yasika makin hari makin kelihatan cantik ya?"


"Ngomong apa lo?" bukan suara Yasika yang keluar, melainkan suara Kai yang terdengar begitu dingin.


Bayu terkekeh. "Sorry ... Bos.!"


"Minta gue tampol itu mulut."


Kembali, Bayu hanya bisa tergelak disana. Sementara Yasika, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Mau punya anak dua ternyata suaminya itu masih tidak berubah, dia masih sama seperti Kaisar yang dulu, yang selalu bersikap seperti itu kalau sudah bersama dengan Bayu.


Selama berada di dalam ruangan atasannya itu, Bayu merasa ada yang berbeda dengan Kaisar. Bayu memperhatikan Kai yang sedari tadi bolak-balik masuk kamar mandi, wajahnya kelihatan pucat, dan yang lebih parahnya lagi bosnya itu seperti orang yang kekurangan vitamin.


"Anda baik-baik saja Pak?"


"Hmm... "


"Sepertinya anda sakit?"


"Gak, gue baik-baik aja."


"Yakin?"


"Bisa diem gak sih lo, pusing gue denger lo ngomong?"


Bayu melipat bibirnya menahan tawa.


Ada Yasika disana. Yasika tersenyum tipis, melirik Kai yang sedang memejamkan mata. Ada rasa tidak tega saat melihat Kai mengalami hal seperti itu. Apalagi saat Kai memuntahkan kembali semua makanan yang ia makan.


"Bay ... sebenarnya bos kamu itu lagi ngalamin ngidam tau gak?" ujar Yasika yang sedang duduk di sofa sebelah Kai.


"Hah? apa?" Tanya Bayu sedikit terkejut. "Jadi __ Kalan mau punya adik lagi ya?"


Yasika mengangguk dan tersenyum lebar.


"Sekarang rasain gimana rasanya jadi wanita ngidam itu."


Kai langsung terhenyak, membuka matanya lebar-lebar. "Kok ngomongnya gitu sih sayang? bukannya pijitin, atau usap-usap ni malah seneng liat suaminya kayak gini."

__ADS_1


Yasika terkekeh geli. "Uh ... Kasihan banget yang mau punya anak lagi."


Kai mendengus. "Iya, kalo bukan karena pengen anak. Gak mau aku kayak gini."


"Sukurin." Celetuk Bayu tanpa sadar membuat Kai langsung menatapnya tajam.


"Bilang apa barusan?"


"Wih ... Sabar bos, mau punya anak jangan marah-marah sama gue, entar yang ada, anaknya mirip gue lagi."


"Ih... gak ada anak gue mirip lo."


"Kenapa? gue ganteng, baik, banyak duit apalagi coba yang kurang?" ujar Bayu bangga.


Kai mendengus. "Mana ada cowok ganteng gak laku." balas Kai telak.


Bayu meringis, kenapa omongan bosnya itu selalu tepat sasaran ya. "Bukannya gak laku, gue malas ja ngeladenin cewek jaman sekarang, mereka matre."


"Alasan, bilang ja gak ada yang mau sama lo."


Setelah berujar, Kai berdiri dari tempat duduknya. Ia menghampiri Yasika lalu duduk di sisi kosong sebelah Yasika. Berharap mualnya akan hilang, lantas Kai tidur di atas paha istrinya.


"Kenapa?"


Kai memandangi wajah Yasika dari bawah. "Pengen tidur disini. Wangi kamu enak, jadi gak bikin mual." Perlahan matanya mulai terpejam, Kai memiringkan tubuhnya, lalu, mengecup perut itu.


"Kak, jangan gini, ini di kantor. Malu ada Bayu disana."


"Biarin, anggap ja dia gak ada."


Yasika mendesah. "Hhh... "


Kontan Bayu menegur, merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang begitu intim di depan mata. "Gak lihat disini ada gue? gak kasihan apa sama gue yang masih sendiri.?"


"Makanya cepetan cari cewek? biar lo bisa kayak gini."


Bayu berdiri dengan langkah gontai menuju pintu keluar.


"Gue mau tungguin istri lo jadi janda ah ..."


Ucap Bayu yang kepalanya masih menyembul dari balik pintu.


"Kampret... "


"Cari mati lo.?"


"Bulan depan gue pastiin, lo gak dapat gaji." Teriak Kai saat lelaki tengil itu berhasil keluar dan menutup pintunya dengan segera.


* * *


Sampai disana dulu ya ceritanya Kai sama Yasika..


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga buat aku..


Jangan lupa mampir baca ceritanya "Putih Abu" ya? Aku tunggu...


Makasih buat semua...

__ADS_1


Salam sayang dari aku... ❤


__ADS_2