
* * *
"Ikut aku.? " Kaisar menarik paksa tangannya membuat orang itu meringis karena kesakitan.
Kaisar membawa masuk gadis itu ke dalam ruangan dimana para sahabatnya masih berada disana. Dan mereka semua melongo tidak percaya saat Kaisar membawa sosok orang yang mereka kenal.
Yasika berdiri di belakang Kaisar, dengan menundukkan wajah cantiknya itu.
"Kamu, kenapa bisa disini Yas? "
Satu pertanyaan berhasil di layangkan oleh Adi, membuat Yasika mengangkat wajahnya, ia menatap Adi dan tersenyum tipis. Yasika melirik kesemua orang yang berada disana, dan mereka semua sedang menatap balik dengan tatapan heran ke arah dimana sekarang dia sedang berdiri.
Ada yang aneh dengan Yasika, saat pandangan matanya itu tertuju pada sosok perempuan yang sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya Kaisar. Ia melihat sosok Anne yang sedang menatap dan tersenyum kepadanya. Yasika membalas kembali senyumannya, meski kini di benaknya ada rasa keingintahuan kenapa Anne bisa berada di tempat yang sama dengan Kaisar.
"Yas.? " Suara Alan dengan lembut memanggil namanya.
Yasika tersenyum kepada Alan, membuat Kaisar mendengkus kesal. Kaisar langsung menyambar jaket dan ponselnya yang berada di atas meja.
"Gue cabut duluan.? "
"Kai ... Lo mau kemana sih, kasihan Yasika suruh dia duduk dulu? " Sewot Alan pada Kaisar.
"Lah ... Kai kenapa buru-buru sih? nyantai ja disini dulu lagian pacar lo juga ada disini? " Sungut Dani bicara dengan mata tertuju pada Yasika.
Kaisar terdiam ia hanya melirik sekilas, "Di, ... Lo urus teman-temannya Yasika mereka juga ada disini? "
Adi manggut-manggut mengerti, "Oke." Jawabnya singkat.
Tidak butuh waktu lama untuk Kaisar membawa Yasika keluar dari klub itu, ia juga tidak mendengarkan apa kata-kata temannya. Kaisar merasa amarahnya sudah naik ke ubun-ubun, ketika melihat Yasika berada di tengah-tengah orang yang sedang membuat pesta dan onar tersebut.
Alan dan Anne cuma bisa menatap kepergian mereka berdua, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Kaisar dan Yasika agar tidak pergi. Mereka berdua juga mengetahui kalau saat ini Kaisar sedang dalam keadaan marah.
Anne menyunggingkan sebuah senyuman, ia baru melihat sosok Kaisar yang bisa berubah seperti itu hanya karena seorang wanita.
Rasa cintamu itu terlalu besar, kamu sendiri yang menunjukannya padaku. Dan sekarang aku baru menyadarinya tidak akan ada orang yang bisa membuat kalian berpisah.
__ADS_1
Kamu sangat mencintainya, sungguh wanita yang sangat beruntung bisa di cintai oleh seorang Kaisar.
* * *
"Kak, lepas.? " Yasika meringis kesakitan.
Kaisar tidak menghiraukannya ia terus saja menarik tangan Yasika dengan kasar.
"Sakit."
Kaisar berdecak dengan tarikan nafas kasar, Kaisar membukakan pintu mobilnya.
"Masuk? "
"Kenapa sih? " Tanya Yasika ketus.
"Aku bilang masuk? " Dengan nafas masih memburu.
Yasika bungkam, ia menatap balik Kaisar dengan tatapan kesal. Yasika memberengut wajahnya memerah menahan kesal. Sebelum masuk ia menghentakkan kakinya, membuat Kaisar sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Yasika tidak berbicara sama sekali, ia membungkam bibirnya dan menatap keluar jendela.
Yasika mendengkus, ia menyadari jika mobilnya Kaisar sudah berada di basement apartemennya Kaisar. Yasika melihat dengan wajah ditekuk.
"Ayo turun? " Pinta Kaisar yang sudah memarkirkan mobilnya.
Yasika tidak menjawab, ia turun dari mobil itu dengan segera dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Sesampainya di dalam apartemen, Yasika masih berdiri ia enggan untuk duduk sekalipun. Yasika masih masih cemberut, dan bibirnya sesekali menggerutu tidak jelas.
"Kenapa kamu ada disana? "
Yasika terdiam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan apapun dari Kaisar. Yasika masih merasa kesal terhadapnya.
Kaisar menoleh, ia menatap wajah Yasika dengan lekat. "Kamu kenapa bisa ada disana? "
__ADS_1
Yasika memutar kedua bola matanya kesal, ia menatap balik Kaisar dengan tatapan jengah.
"Kamu sendiri ngapain ada disana? " Tanya Yasika balik dengan ketus.
"Yas? " Kaisar menarik nafasnya kasar, ia memejamkan matanya.
"Kamu juga ada disana, kenapa aku tidak boleh ada disana? " Lagi-lagi Yasika mengeluarkan suaranya.
Kaisar masih memejamkan matanya, ia sedang menahan emosinya supaya tidak meledak.
"Ck, aku tau kamu disana karena kamu mau menemani mantan kekasih mu itu kan, rupanya kalian masih suka bertemu, kenapa gak sekalian ja kamu peluk lagi dia kayak waktu di rumah sakit itu.? " Dengan emosi dan penuh penekanan Yasika mengatakan itu.
Kaisar melotot sempurna, ia menatap tajam pada Yasika, ia tidak pernah mengira kalau Yasika yang dia kenal sangat lembut ternyata bisa berubah ganas seperti ini.
Oke, sekarang Kaisar tahu kenapa waktu itu Yasika mengatakan hal yang menurutnya sangat aneh, jadi ini alasannya. Rupanya dia melihat saat dirinya dan Anne berpelukan di rumah sakit itu, padahal semua itu tidak seperti yang ia pikirkan.
"Kenapa diam? " Tanya Yasika dengan kesal. "Bilang ja kamu senangkan bisa berpelukan dengannya, aku sudah bilang kak seharusnya aku gak masuk dalam kehidupan kamu kan? "
"Ya ampun ... Yasika.!!!!! " Teriak Kaisar yang sudah merasa di uji kesabarannya itu. Kaisar mengerang frustasi sambil mengusak rambutnya gusar. Ia benci jika harus membentak perempuan ini, perempuan yang kini menjadi kelemahannya itu.
Yasika tersentak, karena bentakan Kaisar dan sekarang matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kamu marah? itu memang benarkan? "
Kaisar terdiam ia menggeram dalam hati, ia masih berusaha untuk bisa mengendalikan emosinya. Kaisar menarik nafasnya dalam, dan membuangnya perlahan. Ia membuka mata yang terpejam dan melihat mata sayu yang kini sudah mengeluarkan air matanya.
Kaisar memegang bahu Yasika, ia menatap dalam wajahnya dengan sangat inten.
"Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan, maafkan aku karena tidak sengaja membentakmu, kamu harus percaya, aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku juga mau bilang alasan kenapa waktu di rumah sakit aku memeluknya, itu hanya sebatas pelukan biasa sebagai seorang teman, dan asal kamu tau, Anne sudah bisa menerima hubungan kita, dia berjanji padaku dia tidak akan mengganggu kita lagi. Aku kini menganggapnya sebagai teman sekaligus saudaraku, karena aku gak mau kalau dia ngerasa hidup sendirian di dunia ini. Aku mohon percaya padaku.? "
"Kak, "
"Aku minta maaf, tolong jangan menangis seperti ini? "
Kaisar menarik tubuh itu dalam dekapannya, ia memeluk tubuh Yasika dengan sangat erat.
__ADS_1
"Sekali lagi aku bilang, aku sangat mencintaimu.. "
* * *