Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
KHM 2 part 9


__ADS_3

Happy reading semua... ❤


* * *


Empat hari sudah mereka berada di pulau dewata Bali. Selama berada disana, Kai begitu senang, selain karena pekerjaan-nya berjalan dengan lancar, ia juga senang karena istri dan anaknya ikut serta bersama dengan dirinya. Baru kali ini Kai bisa membawa Yasika dan Kalan dalam perjalanan bisnisnya. Hari ini, adalah hari terakhir mereka berada disana, mereka harus segera kembali ke ibu kota untuk beraktivitas lagi seperti biasanya. Banyak pekerjaan yang sudah menanti disana.


Dan ... Hari ini adalah hari terakhir untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Bertempat di salah satu hotel bintang lima, Kai beserta yang lain sudah datang memenuhi undangan sebagai salah satu bintang tamu yang di undang untuk menjadi motivator sebagai salah satu pengusaha muda dan sukses. Tidak lupa juga ia akan menjalani pemotretan untuk salah satu majalah ternama bersama keluarga kecilnya dan bersama para pengusaha yang lain, termasuk dengan Raisa pengusaha wanita termuda yang selalu mengincar dirinya.


Kaisar dan Raisa memang terpilih sebagai salah satu pasangan pengusaha termuda dan berbakat. Mereka di pasangkan untuk menjadi motivator dan menjalani pemotretan bersama.


Suatu kebanggaan untuk seorang wanita seperti Raisa, kerena ia di pasangkan dengan Kaisar, laki-laki yang selama ini sangat di kaguminya.


Senyum merekah tidak pernah lepas dari bibirnya yang merah. Raisa sangat senang karena akhirnya ia mempunyai kesempatan berdua bersama dengan Kaisar.


"Kai ... Selamat ya? lagi-lagi kamu di nobatkan sebagai salah satu pengusaha muda yang berhasil." Bisiknya pelan tepat di telinganya Kai.


"Terima kasih nona Raisa." Jawab Kai datar, merasa risih karena Raisa semakin mengikis jarak di antara mereka, akhirnya ia sedikit menggeser duduknya.


Tapi bukan Raisa namanya kalau wanita itu tidak melakukan sesuatu.


"Jangan panggil nona dong Kai, panggil nama aku aja." Kembali ia dekatkan tubuhnya, membuat Kai berdecak malas.


"Baiklah Raisa." Dengan malas ia berujar, Kai menggerutu sesekali mengumpat dalam hatinya.


Apaan sih ni cewek, tidak tahu malu sekali.


"Nah gitu dong, kan lebih akrab dan enak di dengar." ada kekehan kecil di sela ucapannya.


Kai tersenyum malas. Kini, pandangan matanya beralih mencari sosok seseorang, dan saat itu juga kedua mata itu bertubrukan, Kai tersenyum lebar begitu ia melihat sosok wanita cantik yang sedang menatap dan tersenyum manis ke arahnya, siapa lagi kalau bukan Yasika istri cantiknya itu.


"Kai ... Aku seneng banget, bisa punya waktu berdua sama kamu kayak gini." Raisa kembali berbisik. "Akutuh kagum banget sama kamu, aku __ aku suka sama kamu Kai." dengan lantang ia mengatakannya. "Aku ... cin __ "


"Maaf kamu bilang apa barusan?" Dengan datarnya Kai bertanya.


Raisa kesal. "Kamu gak denger aku ngomong apa?"


Kai menggeleng, menatap wanita itu dengan tatapan menyipit. "Maaf, aku gak denger kamu ngomong apa?" setelah mengucapkan itu, mata Kai beralih lagi menatap wajah istrinya.


"Kai __ Akutuh bilang kalau aku su - "


"Maaf Raisa, kita udah selesai, dan aku harus segera kesana menemui istri dan anakku." sela Kai cepat.


Raisa kembali menggeram, raut wajahnya berubah seketika. "Kai, aku mau bicara dulu sebentar." ia menahan lengan Kai yang hendak pergi meninggalkan nya.


Kaisar menoleh saat wanita itu memegang tangannya. "Ada apa?" tanyanya heran.

__ADS_1


Raisa mendesis. "Ada sesuatu yang ingin aku bilang sama kamu. Bisa kan kita bicara dulu sebentar?" Kali ini Raisa benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Apapun alasannya ia akan mengatakan tentang perasaannya itu kepada Kaisar.


Demi apapun Kai sudah merasa kesal sekali berada di sebelah wanita ini. Kalau bukan karena pekerjaan dan mengenal ayahnya dengan baik, Kai mana mau bersikap lembut seperti ini.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Raisa mendekat, menyentuh lengan Kai dengan gerakan yang sangat menggoda. "Ini tentang aku, tentang perasaan aku."


Kai mengernyit menatap bingung wanita itu. Sebenarnya ia tahu, apa maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Raisa barusan kepadanya.


Kaisar menggeleng seraya melepas tangan Raisa yang berada di lengannya. "Raisa, maaf. Tidak baik jika kamu bersikap seperti ini."


"Kenapa?" Raisa berdecak sebal dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Saya takut, jika semua orang melihat kamu seperti ini sama saya. Itu bisa menimbulkan fitnah."


"Kai - "


"Maaf, saya buru-buru."


Sebelum Kai pergi, tiba-tiba saja ia terkejut dengan keberadaan sang istri yang sudah berada di balik punggungnya. Kai tersenyum lebar dan menyambut istrinya dengan senang.


Sementara Raisa, wanita itu meradang, menatap tajam sosok wanita yang sekarang sedang berada di hadapannya.



Sialan... Kenapa wanita ini selalu terlihat cantik di banding aku...


"Ngapain kamu ada disini? baru aja aku mau nyusul kamu kesana."


Yasika tersenyum, lalu, menggandeng tangan suaminya dengan segera. Tanpa sengaja mata Yasika melirik ke arah dimana wanita itu sedang menatapnya tidak suka.


"Eh ... Ada Raisa? apa kabar?" ucap Yasika basa-basi.


Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. "Baik." jawabnya datar.


"Kamu cantik sekali?"


"Terima kasih."


"Sayang, kamu udah selesai kan?" tanyanya manja.


Kai mengangguk. "Udah kok."


"Ya udah, sekarang kita kesana ya?" ajak Yasika kembali.


Yasika menarik lengan suaminya dengan segera, ia tidak akan membiarkan wanita itu untuk terus-menerus menggoda dan mendekati Kaisar. Tidak ... Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Kai miliknya, Kai suaminya, dan Kai adalah ayah dari anaknya.


"Kai __ tunggu.!"


Seketika langkah kaki mereka berhenti, lalu, menoleh ke belakang dan menatap bingung kepada perempuan yang kini sedang tersenyum merekah ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Kai dingin.


Raisa mendekat, "Aku cuma mau bilang __ " ia jeda kalimatnya, matanya itu melirik Yasika sekilas. "Aku suka kamu Kai ..." bisiknya pelan tapi masih dapat di dengar oleh Yasika.


Kaisar melotot, merasa tidak percaya kalau Raisa akan seberani ini mengungkapkan perasaannya, apalagi ini di hadapan istrinya secara langsung.


"Jaga bicara kamu."


"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku cinta sama kamu Kai, aku suka kamu dari dulu."


"Raisa maaf, gak sepantasnya kamu bicara seperti itu."


Raisa tertawa sarkas. "Aku gak perduli, yang aku inginkan adalah kamu menjadi milik aku."


Kai mendesis, menatap jengah perempuan ini.


Yasika tersenyum lebar, dan menggeleng pelan.


"Nona Raisa, aku gak ngira perempuan berpendidikan tinggi seperti kamu, bisa menjadi rendahan kayak gini ya?"


"Apa maksud kamu?" ucapnya nyolot tidak terima.


Yasika tersenyum, mendekat seraya berbisik pelan di telinganya. "Sekeras apapun usaha kamu untuk mendekati suami saya, saya yakin kalau suami saya tidak akan pernah tergoda sama kamu. Saya akui, kalau kamu memang terlihat sangat seksi di banding saya. Tapi ... jujur, suami saya gak suka sama wanita yang pakai makeup terlalu tebal kayak kamu." Yasika tersenyum sinis. "Suami saya itu sukanya sama perempuan kayak aku. Cantik luar dan dalam."


Merasa takjub dengan penuturan sang istri, lantas ... bibirnya itu tersenyum lebar.


"I am proud to have a wife like you."



Berengsek... Sialan... Lagi-lagi aku kalah...


Tunggu Kai... tunggu saja....


* * *


**Begitulah kira-kira umpatan yang keluar dari bibir panasnya Raisa... wkwkwkwk...


Jangan lupa tinggal kan like, komen, dan vote-nya juga buat aku..


Semoga kalian masih suka sama ceritanya Kaisar dan Yasika sebelum Kalandra gede...

__ADS_1


Makasih buat semuanya...


Salam sayang dari aku... ❤**


__ADS_2