Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih
62. Merasa kesal


__ADS_3

Yee aku balik lagi...!!!


Ya udah, yu kita lanjut lagi ceritanya??


Semoga kalian suka ya??


Oke, happy reading kalau begitu..!!!


* * *


Yasika saat ini sedang memeriksa sebuah laporan, tetapi entah mengapa ia lebih banyak melamun seraya mengetuk-ngetukan sebuah pensil di atas meja kerjanya, ia merasa sangat kesal dengan Kaisar, karena sikapnya yang berubah secara tiba-tiba.


Saat sedang asik dengan pikirannya itu, tiba-tiba ia di kejutkan dengan sebuah suara yang tidak asing di telinganya itu.


" Apakah kamu sudah menyelesaikan berkas itu? " Tanya Kaisar dengan dinginnya.


Yasika terkejut saat mendengar dan melihat Kaisar sudah berdiri di hadapannya saat ini, ia menggerlingkan kedua bola matanya. Ia menatap Kaisar dengan tatapan tajam.


" Belum. " Jawab Yasika tak kalah dinginnya dari Kaisar.


Kaisar mengusap wajahnya kasar, " Aku sudah bilangkan berkas itu harus beres sekarang juga. Kamu ngapain ja.? "


Yasika terdiam, ia merasa tersentak saat mendengar Kaisar bicara seperti itu.


Entah mengapa perasaan nya saat ini benar-benar sakit ketika Kaisar membentaknya. Dan tanpa di sadari mata sayunya itu tiba-tiba memerah seperti orang yang sedang menahan tangis.



Kaisar menarik nafasnya dalam, " Aku mau kamu bereskan laporan itu sekarang, dan segera antarkan keruangan ku.! "


" Baik. " Jawab Yasika tanpa menoleh sedikitpun pada atasannya itu.


Kaisar pergi begitu saja, ia masuk kembali ke dalam ruangannya itu. Ia berdiri di depan kaca jendela, ia mengacak rambutnya frustrasi. Kaisar menyadari sikapnya tadi sangat keterlaluan kepada Yasika, ia melihat bagaimana tadi raut wajah Yasika yang sangat terkejut saat dirinya tidak sengaja menaikan nada suaranya itu.


Kaisar masih bergelut dengan pikirannya, kemudian ia menoleh ke arah pintu karena ada yang mengetuknya.


" Permisi, boleh saya masuk? "


Kaisar melihat Yasika masih berdiri di depan pintu. " Hmm.. masuklah.! "


" Ini, silahkan di periksa dulu..! " Ucap Yasika dingin tanpa menatap wajah atasannya itu.


Kaisar mengambil berkas yang di berikan oleh Yasika, sebelum ia memeriksa berkas itu, Kaisar menatap dalam wajah yang saat ini tidak menatapnya sama sekali. Kaisar memperhatikan bagaimana Yasika sekarang, ia merasa gemas ketika melihat wajah Yasika yang cemberut seperti itu.


" Kenapa masih berdiri.?" Tanya Kaisar yang masih menatap dirinya.


Yasika tidak menjawab, ia masih dengan posisinya yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya itu.


Kaisar hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia menyimpan berkas itu di atas meja kerjanya, kemudian ia berdiri dari duduknya, ia berjalan menghampiri dimana Yasika masih setia berdiri.

__ADS_1


Kaisar mendekat dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


" Maafkan aku.? " Ucapnya seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Yasika.


Yasika terkejut saat laki-laki itu memeluk dirinya, ia tidak menjawab sama sekali, Yasika masih diam, ia masih merasa kesal karena tadi Kaisar sempat membentak dirinya.


" Jangan marah lagi, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu marah seperti ini.!" Masih dengan posesif-nya Kaisar begitu erat memeluk dirinya.


Yasika menarik nafasnya dalam, ia memejamkan matanya. Ia selalu luluh begitu saja jika Kaisar selalu bersikap seperti ini.


"Maafkan aku ya? " Kali ini Kaisar tidak diam, ia mengecup leher jenjang yang putih mulus itu.


"Kenapa diam saja?". Lagi-lagi Kaisar mengeluarkan suaranya dengan begitu lembut.


"Lepasin aku kak, " Pinta Yasika, dengan mencoba melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.


"Kamu sadar gak sih, aku tuh kesel banget sama kamu. "


"Aku tau.. " Jawab Kaisar dengan masih memeluk tubuh gadis itu.


"Kamu tuh diemin aku, kamu ngebentak aku, salah aku apa? "


"Kamu itu salah..! "


"Aku salah apa? "


Yasika berdecak, ia tidak mengerti sama sekali dengan sikapnya Kaisar yang terkadang selalu bertindak seenaknya saja.


"Kamu itu ngeselin tau gak.? "


Kaisar hanya tersenyum saat mendengar Yasika yang tidak berhenti bicara, ia terus mendengarkan ocehan kekasihnya itu. Kaisar benar-benar gemas saat ini, ingin sekali ia membungkam mulut gadis yang sedari tadi tidak berhenti menggerutu. Kaisar baru menyadari bahwa kekasihnya ini sangatlah cerewet.


* * *


"Maaf aku datang terlambat. "


Anne tersenyum, " Tidak apa, aku juga baru dateng kok."


"Ada urusan apa kamu ingin bertemu denganku?"


Anne menyunggingkan sebuah senyuman, ia menatap dalam mata sayu yang sangat teduh itu.


"Sebelumnya maafkan aku sudah mengganggu waktumu, baiklah kalau begitu langsung ke intinya saja, aku hanya ingin bicara mengenai Kaisar."


"Maksud kamu apa.? " Tanya Yasika dengan penuh tanda tanya.


"Aku ingin kamu menjauhi Kaisar. "


Yasika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengetahui kalau wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini adalah orang yang sangat mencintai Kaisar kekasihnya saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu nyuruh aku untuk menjauhi Kaisar?"


"Karena dia adalah tunanganku, dan aku sangat mencintainya. "


"bukankah kalian sudah memutuskan pertunangan itu? "


"Kata siapa?" Anne menyunggingkan sebuah senyuman, "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


Yasika benar-benar sangat kesal, bagaimana bisa ia mengahadapi perempuan yang kini sedang menatap nya dengan sangat tajam.


"Dan perlu kamu tau, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hati Kai kembali, karena aku adalah perempuan satu-satunya yang sangat dia cintai, "


"Benarkah.? "


"Ya, ... sebelum kamu datang, Kaisar dan aku sudah sama-sama berjanji bahwa kita akan tetap saling mencintai sampai kapanpun. "


"Tapi sayangnya itu dulu kan? " Jawab Yasika dengan santainya.


Anne tersenyum, "Apa kamu tau, sejauh mana hubungan aku sama Kaisar? "


Yasika menyipitkan matanya, "Maksud kamu apa?"


"Aku dan Kaisar dulu sering melewatkan malam bersama, dan __ " Anne menjeda kalimatnya, "Aku yakin kamu bukan orang yang bodoh, kamu mengerti apa maksud aku kan.? "


Yasika benar-benar mual saat mendengar semua ucapan yang baru saja ia dengar, ingin sekali ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.



Ya Tuhan... kenapa aku tidak sanggup saat mendengar ini semua.


Apakah yang dia katakan itu benar adanya??


Yasika menarik nafasnya dalam, ia bersikap tenang seperti biasanya.


"Aku sudah memiliki dia se-utuhnya, aku tau semua yang ada pada dirinya. " Dengan seringai di wajahnya Anne mengatakan itu.


"Dengarkan aku nona Anne, aku tidak akan percaya begitu saja, dan aku juga tidak perduli dengan masa lalu kalian berdua, karena bagiku sekarang Kaisar hanya mencintaiku. Urusan kita sudah selesai kan? Kalau begitu saya permisi dulu,"


Anne sangat geram, ia mengepalkan tangannya. Ia menatap sinis pada Yasika yang pergi begitu saja.


"Kita lihat saja nanti"


* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote buat aku ya??


Terima kasih untuk semua yang yang telah mampir membaca cerita aku...!!!


Salam saya untuk semuanya all... ❤

__ADS_1


__ADS_2