
"Oh ... sang pemilik hati, bisakah aku bertemu denganmu hari ini? Aku hanya ingin menyampaikan rasa rinduku padamu. Oh ... wahai pangeran, datanglah ... datanglah ... datanglah ... " teriak Regina.
Regina terus membaca puisinya yang akan ia buang ke danau, ia masukkan kertas itu ke dalam botol, dan ia berharap seorang pangeran akan menemukan surat itu layaknya di sinetron yang sering ia tonton.
Sementara seorang pria di belakang gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya. Ia tak hentinya mengembangkan senyum melihat tingkah Regina yang aneh, dan ia pun menyaksikan kelakuan Regina sampai selesai tanpa berniat ingin mencegahnya.
Dalam hatiku, hanyalah kamu
Dalam mimpiku, hanyalah ka ...
Regina bernyanyi sambil berputar. Namun, ia mengehentikan lagunya saat menyadari ada seseorang yang memperhatikannya entah sejak kapan. Pria itu menatapnya datar tanpa ekspresi, ia duduk di kursi panjang tepat di belakang gadis tersebut.
Regina melangkah mendekati pria itu dengan wajah terkejut. Ia duduk di sampingnya seraya menatap pia itu dari samping. Sementara pria tersebut menatap lurus ke depan tanpa menoleh padanya.
"Om duduk di sini sejak kapan?" tanya Regina menatap wajah pria itu dengan penuh pertanyaan.
"Sejak kamu membuka sepatu dan kaos kakimu, lalu menari-nari seperti orang gila!" ucap Brata datar.
"Apa?" Regina melebarkan matanya karena terkejut. Saat ia tiba di tempat itu, ia melakukan apa yang Brata ucapkan.
"Jadi Om menyaksikan semuanya dari tadi? Lalu kenapa Om nggak bersuara?" tanya Regina menatap pria itu dengan wajah terkejut.
"Kamu selalu menyebutku Om, katanya aku pengeran, mana ada seorang pangeran dipanggil Om?" tanya Brata seraya menoleh dan menatap gadis di sampingnya dengan senyum tipis.
"Oh, jantungku Om! Apa aku lagi bermimpi ya?" Putri mengedip-ngedipkan matanya karena tidak percaya.
"Jangan panggil aku, Om! Panggil aku Brata saja!" ucap pria itu seraya menatap manik mata gadis tersebut.
"Oh, nama Om ternyata Brata? Aku panggil Om dengan panggilan Kang Mas saja ya?" ucap Regina mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak, kamu panggil aku kakak saja! Anggap saja aku kakakmu!" ucap Brata menolak.
Regina memanyunkan bibirnya mendengar titah Brata. "Katanya tadi pangeran, kenapa sekarang malah menjadi Kakak?" Gadis itu tidak terima dengan usulan Brata mengenai panggilan untuk pria tersebut.
"Ya terserah aku, dong! 'Kan aku yang di panggil, kenapa kamu yang repot? Dibandingkan dipanggil Om, aku 'kan tidak terlalu tua-tua banget!" ucap Pria itu percaya diri.
"Iya Kakak, iya!" ucap Regina malas. Wanita itu kembali menatap Danau, menikmati indahnya Danau tersebut. Setelah itu, keduanya terdiam, menyelami perasaan mereka masing-masing.
"Om suka tempat ini?" tanya Regina tanpa menoleh pada Brata.
"Kakak!" Brata menegur panggilan gadis itu.
"Iya, Kakak! Kakak suka tempat ini?" tanya Regina mengulangi ucapannya kembali.
"Aku menyukainya. Dulu waktu pertama kali aku ke Indonesia, aku mencari Kakakku ke berbagai tempat hingga suatu ketika aku menemukan tempat ini dan menjadi tempat ternyaman saat hatiku lagi tak menentu." Brata tersenyum seraya menatap danau buatan di depannya tersebut.
__ADS_1
"Kakak punya saudara hilang di sini? Memangnya Kakak aslinya orang mana?" tanya Regina menoleh menatap pria di sampingnya seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Aku aslinya London, sebenarnya bukan hilang tapi dia pergi menjauh untuk belajar mandiri, akhirnya aku membangun perusahaan kecil di sini dan sekarang Alhamdulillah sudah ada cabangnya juga!" ucap Brata tersenyum.
"Terus, sekarang kakak bertemu dengannya?" tanya Regina yang semakin penasaran.
"Tidak!" jawab Brata tersenyum tipis.
"Owh berarti sampai sekarang Kakak masih belum bertemu Kakaknya Kakak berarti ya?" tanya Regina lagi.
"Keluargaku memang aneh! Semuanya lari ke Indonesia, bahkan adikku menghilang ke Indonesia hanya untuk mengejar cintanya, tapi sayangnya mereka tak berjodoh karena hidup adikku menderita di sini tanpa aku tahu, meskipun kita berada di negara yang sama tapi aku hanyalah saudara yang payah karena tidak bisa menyatukan keluargaku yang terpecah belah!" ucap Brata sendu.
"Hey, jangan sedih Kak!" ucap Regina yang melihat pria itu menundukkan kepalanya.
"Kakak ikut aku yuk untuk menghilangkan kesedihan Kakak!" ajak Regina tersenyum.
"Kemana?" tanya Brata menoleh pada gadis di sampingnya tersebut.
"Ayo ikut!" Regina beranjak, lalu menarik tangan pria itu dengan penuh semangat.
Keduanya berjalan dari tempat itu, dan tidak jauh dari danau tersebut terdapat rumah pohon yang begitu indah hingga membuat pria itu takjub akan keindahan rumah pohon dan sekitarnya itu.
"Tidak, ini pasti punya orang yang membuat Danau itu 'kan? Kalau kita ketahuan bagaimana? Kalau kita numpang istirahat di pinggiran danaunya sih nggak apa-apa, tapi kalau kita memasuki rumah pohon ini sepertinya kita terlalu lancang!" ucap Brata yang masih mematung di tempatnya.
"Kakakku Sayang ... ! Kamu tidak perlu khawatir. Danau dan rumah pohon ini sengaja Daddy buat atas permintaanku!" ucap Regina penuh keyakinan.
"Beneran?" tanya Brata yang masih Ragu.
"Sudah Ayo!" ajak Regina seraya menarik tangan Brata menuju rumah pohon tersebut.
"Aku duluan atau Kakak duluan yang naik?" tanya gadis itu begitu sampai di tangga rumah pohon itu.
"Kita naik bareng saja, lagi pula tangganya lebar!" ucap Braga tersenyum tipis.
"Baiklah, Kak kita naik sambil bergandengan tangan saja, biar seperti Romeo dan Juliet!" ucap Regina dengan senyum yang mengembang.
Brata pun tidak menolak perlakuan gadis itu, ia menatap Regina dari samping dengan senyum tipisnya. "Entah kenapa, aku sangat nyaman berada di dekatmu Re! Aku tahu ini salah, tapi aku juga berhak bahagia jika istriku tidak bisa mencintaiku sampai kapanpun!" batin Brata.
"Hey, kenapa bengong?" tanya Regina yang membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
"Eh kita sudah sampai ya?" Brata menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita duduk di sebelah sana yuk, Kak!"
__ADS_1
Regina menarik tangan pria itu, mengajaknya untuk duduk di sebuah sofa yang memang dikhususkan untuk bersantai.
"Tempat ini memang sangat luar biasa!" ucap Brata.
"Ini impianku punya rumah pohon dan Danau buatan seperti ini, Kak!" ucap Regina dengan senyum yang mengembang.
"Kamu sering ngajak temanmu ke sini?" tanya Brata yang masih menatap Danau yang menurutnya indah itu.
"Tidak, aku tidak pernah mengajak temanku ke sini! Yang tahu tempat ini hanya keluargaku saja!" ucap Regina tersenyum.
"Lalu, kenapa kau mengajakku padahal kita baru kenal?" tanya Brata menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Karena aku yakin kalau kamu itu jodohku!" ucap Regina seraya mengedipkan sebelah matanya lalu menatap lurus ke depan kembali.
"Jika aku punya istri apakah kau mau menjadi selingkuhanku?" tanya Brata menatap Regina intens.
Deg
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Sambil nunggu Othor update
Mampir Yuk ke karya Bestie Othor yang masih hangat-hangatnya.
Seperti Cover di bawah ini 👇👇👇
Dan yang terakhir, mungkin ada yang berkenan juga mampir ke karya teman Othor seperti cover di bawah ini 👇👇👇
Terima kasih atas dukungan kalian 🥰
Jangan lupa like and komen ya Sayang 🥰
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh 🥰
__ADS_1