Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Semut dan lebah


__ADS_3

"Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan!" Mark membungkukkan sedikit badannya.


"Silahkan!" titah Devan seraya mengulurkan tangan. Pria itu duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan senyum licik.


Mark mengangguk, lalu balik badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Apalagi cuma semut, lebah pun akan kusingkirkan jika berani menghalangiku!" ucap Devan menarik sebelah sudut bibirnya.


_


_


_


"Tok tok tok ... "


"Masuk!" titah Roy. Pria itu sedang menunggu Randa untuk melaksanakan perintah Devan. Randa pun masuk ke ruangan pria itu dengan tunduk dan hormat.


"Apakah Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Randa. Pria itu berdiri di seberang meja kerja Roy dengan kepala yang sedikit tertunduk.


"Silahkan duduk!" titah Roy seraya menatap Randa datar. Randa pun mengangguk, lalu duduk di kursi seberang pria itu.


"Apakah saya buat kesalahan, Tuan?" tanya Randa dengan wajah khawatir. Darahnya pun seakan membeku karena ia takut membuat kesalahan yang membuat sekretarisnya Devan itu sangat murka.


"Tidak! Aku hanya ingin menawarkan kamu untuk naik jabatan, tapi kamu dipindahkan ke kantor cabang!" ucap Roy dengan menatap Randa datar.


"Benarkah, Tuan?" tanya Randa dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku!" ucap Roy menatap Randa intens.


"Terima kasih, Tuan! Tentu saja saya menerimanya dengan senang hati, tapi kalau boleh tau saya menjadi manager di kantor cabang yang mana, Tuan?" tanya Randa lagi.


"Jakarta Selatan," jawab Roy datar.


Seketika senyuman Randa memudar setelah mendengar jawaban dari Roy, karena arah kantor cabang yang ada di Jakarta selatan, bersebrangan dengan rumah Catherine. Ia terlihat berpikir jika dia menerima kerjaan itu, maka ia akan jarang pulang ke rumah istri pertamanya tersebut.


"Jakarta Selatan?" gumam Randa sambil melamun.


"Iya, Jakarta Selatan!" jawab Roy yang mendengar gumaman pria itu.


"Ah tidak masalah, nanti aku bisa ngajak Catherine buat satu rumah dengan Mikha," batin Randa.


"Bagaimana? Apakah kau menerima tawaranku? Jika tidak maka aku bisa mencari orang lain untuk menduduki jabatan itu!" ucap Roy penuh penekanan.


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa langsung masuk kerja di sana besok," ucap Roy.


"Baik, Tuan!" jawab Randa tersenyum.


"Kalau begitu, kamu boleh kembali ke ruangan mu sekarang!" titah Roy yang masih menatap Randa tanpa ekspresi.


"Sekali lagi Terima kasih, Tuan!" ucap Randa seraya berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Roy dengan senyum yang tak hentinya mengembang.


_


_

__ADS_1


_


"Kak, aku denger Kak Catherine sudah menikah ya? Tapi kenapa aku nggak pernah lihat suami Kakak antar atau jemput ke sini sih?" tanya Putri yang duduk di seberang meja kerja Catherine.


"Suamiku juga kerja Nona, tempat kerja kita juga berbeda arah," jawab Catherine tersenyum.


"Oh... " jawabnya.


"Terus, tadi kenapa Kakak nggak pake mobil?" tanya Putri lagi seraya menatap Catherine yang sibuk mendesain gaun pengantin pelanggannya.


"Mobilku mogok, belum selesai di perbaiki!" jawab Catherine.


"Kalau Nona sendiri kenapa belum menikah? Saya dengar Nona Putri juga sudah punya tunangan?" tanya Catherine sambil menatap Putri sekilas.


Putri melebarkan mulutnya. "Kata siapa, Kak?"


"Aku memang dijodohkan sama daddy tapi aku nggak mau karena aku mencintai orang lain, dan satu lagi! Aku belum tunangan dengan Kak Devan!" ucap Putri memanyunkan bibirnya.


"Devan?" tanya Catherine mengerutkan kening.


"Iya, Devan itu nama pria yang dijodohkan denganku, Kak!" ucap Putri tersenyum.


"Ah, mungkin hanya nama saja yang sama. Di dunia ini banyak yang namanya Devan. Sekalipun dia orang yang dijodohkan dengan Nona Putri, apa masalahku?" batin Caterine.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2