
Happy Reading, guys 🥰
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Regina keluar dari pekarangan rumah Desi, wanita itu menunggu Taxi di depan gerbang rumah tersebut.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ada mobil yang berhenti tepat di depannya. Gadis itu tersenyum, lalu melangkah mendekati mobil tersebut karena ia pikir mobil itu adalah Taksi online yang ia pesan.
Akan tetapi, Regina terkejut setelah pintu kaca mobil tersebut terbuka, karena ternyata yang ada di dalam mobil itu adalah Brata, hingga membuat Regina mundur dan mempercepat langkahnya untuk menjauhi pria yang ia cintai.
"Tunggu, Re!" Brata mencoba menghentikan gadis itu, hingga Regina berdiri mematung seraya memejamkan matanya untuk mengatur jantungnya yang berdegup tak karuan.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Lalu, menoleh menatap Brata yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Regina datar begitu pria itu berdiri tepat di hadapannya.
"Ikut aku!" Brata menarik lengan wanita tersebut seraya melangkah menuju mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Regina seraya memberontak. Brata pun tidak menjawab pertanyaan gadis itu, ia membuka pintu mobil, lalu mendorong tubuh Regina ke kursi samping kemudi.
Setelah itu, Brata mengitari mobil dan duduk di samping Regina. Pria itu menatap wanita yang dicintainya penuh kerinduan, lalu menarik kepala wanita tersebut dan ******* bibir kenyalnya.
Regina melototkan mata, karena ciuman pertamanya direnggut paksa oleh Brata tanpa permisi. Ia terkejut hingga ia mendorong tubuh Brata dan menamparnya sekuat tenaga.
"Keterlaluan kamu, Kak! Kamu pikir aku wanita apaan, hah?" Regina menatap Brata dengan wajah merah padam. Lalu ia membuka pintu mobil dengan kemarahan yang membuncah.
Regina keluar dari mobil pria itu dan melangkah hendak kembali masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, sebelum Regina memasuki gerbang, Brata lari dan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, Re! Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" ucap Brata memejamkan matanya.
Tes ...
Setitik air mata Regina jatuh tanpa bisa dibendung. Akan tetapi, wanita itu menetralkan nafasnya dan menghapus air mata itu sebelum melepaskan pelukan pria tersebut.
"Lepaskan aku, Kak!" pinta Regina dengan suara yang tercekat.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, Re! Kau hidupku, jika kamu menjadi milik orang lain, lalu untuk apa aku hidup?" Brata memeluk Regina erat hingga usaha wanita itu sia-sia untuk memberontak dan akhirnya ia memilih diam.
"Jangan pernah bicara seperti itu, Kak! Kakak berhak bahagia, dan masih banyak wanita lain yang lebih sempurna dari pada aku!" ucap Regina menahan air mata.
__ADS_1
"Tidak, aku hidup hanya untukmu, jadi jangan pernah kau berpaling! Jika kau memang tidak menginginkanku, aku mohon! Bunuhlah aku dengan tanganmu sendiri!" ucap Brata yang semakin erat memeluk wanita tersebut.
"Kak, aku mohon, mengertilah! Pahami posisiku saat ini! Aku tidak ingin menyakiti hati semua orang, aku sudah punya tunangan, Kak!"
Perlahan Brata melepaskan Regina, lalu membalik tubuh wanita itu seraya menatap matanya intens.
"Kamu bilang, kamu tidak ingin menyakiti hati semua orang. Lalu, bagaimana dengan perasaanku, hah?" tanya Brata dengan wajah sendu.
"Kalian tidak perlu memikirkan perasaanku, aku datang ke sini memang hanya untuk membatalkan pertunangan ini!" ucap Arnold yang berjalan mendekat ke arah sepasang kekasih itu. Baik Brata maupun Regina terkejut mendengar suara Arnold.
"Kamu hanya salah paham, Arnold! Jadi jangan pernah berpikir bahwa aku selingkuh!" jawab Regina cemas.
"Tidak, aku tidak berpikiran seperti itu, ada banyak hal yang harus ku jelaskan padamu!" ucap Arnold dengan senyum tipisnya.
"Kalau begitu kita masuk ke dalam saja! Tidak baik kita ngobrol di depan gerbang seperti ini!" ucap Regina menatap tunangannya tersebut.
"Ya sudah, ayo!" Brata menjawab Regina antusias.
"Aku tidak mengajakmu, Kak! Aku ingin bicara dengan tunanganku!" ucap Regina menatap Brata datar.
"Tidak apa-apa, kita masuk ke dalam sama-sama, dan kita harus luruskan masalah ini agar tidak menjadi semakin rumit!" ucap Arnold dengan senyum tipisnya.
________
Paris
Putri memasangkan dasi di leher Roy, wanita itu begitu telaten mengurus suami dan anak-anaknya.
Putri di karuniai 2 Anak. Anak yang pertama bernama Zidan berusia 5 tahun, dan yang kedua Zoya berusia 2 tahun.
"Mas, kamu nanti jemput Zidan ya, ke sekolah! Aku mau ke Singapore, dan untuk sementara waktu anak-anak sama kamu dulu, di sini ada baby sitter yang akan mengurus kebutuhan mereka!" ucap Putri tersenyum.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke Singapore!" Roy menatap istrinya datar.
"Tapi kenapa kau melarangku, Mas? Aku hanya ingin liburan untuk sementara waktu, aku yakin anak-anak tidak akan terlantar meskipun aku pergi berhari-hari!" ucap Putri menatap suaminya penuh pertanyaan, karena sebelumnya Roy tidak pernah melarang apapun yang dilakukan wanita itu.
"Kamu pikir aku tidak tahu kamu ke Singapore mau ngapain?" tanya Roy seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan halangi aku, Mas!" ucap Putri menatap Roy tajam.
__ADS_1
"Kamu yang jangan halangi kebahagiaan adikmu, selama ini kamu sudah keterlaluan dan aku tetap diam saja. Tapi sekarang tidak, aku akan menghalangimu untuk menghalangi kebahagiaan Regina!" ucap Roy menatap Putri tajam.
"Kamu tahu apa tentang kebahagiaan Regina, Mas?"
"Tau banyak," Roy memotong ucapan istrinya.
"Sejak bangun dari koma, Regina seakan hilang semangat, tidak ada pancaran kebahagiaan meskipun dia sedang tertawa. Apa kamu buta hingga kamu tidak bisa melihat kesedihan adikmu selama 7 tahun ini?" tanya Roy penuh penekanan.
"Cukup, Mas! Aku yang tau yang mana yang terbaik untuk adikku, kamu tidak perlu ikut campur!" teriak Putri.
"Kenapa kamu keras kepala banget sih, Put! Kamu berubah dan aku kecewa padamu!" ucap Roy kesal.
"Terus kamu mau apa? Apa kamu ingin pisah dariku? Jika kamu sudah bosan sama aku okay fine, kamu silahkan cari pengganti yang lebih baik dariku!"
Jedduarrr ...
"Semudah itukah kau meminta pisah padaku? Ingatlah perjuangan kita untuk bisa bersama. Hanya karena hal sepele kayak gini kamu minta cerai? Kemana cintamu yang dulu padaku, Put! Kemana?" Roy mengguncang pundak wanita itu dengan mata yang memerah menahan amarah.
"Sekarang terserah kamu, jika kamu masih nekat buat misahin adikmu dengan Brata. Kamu bersiaplah untuk dibenci selamanya oleh Regina."
Putri tidak menjawab, wanita itu hanya mendengarkan ucapan Roy tanpa menyelanya, karena ia sadar bahwa ucapannya sangatlah keterlaluan.
"Satu hal yang perlu kamu tahu kenapa aku mencegahmu untuk memisahkan mereka, yaitu karena aku pernah berada di posisi yang sama dengan Brata."
"Aku pernah melihatmu hampir bertunangan dengan Pria lain, dan pada saat itu hatiku seakan runtuh dan rasanya aku hidup bagaikan mati," ucap Roy meluapkan uneg-unegnya.
Tes ...
Setitik air mata wanita itu jatuh karena mengingat perjuangan cintanya dengan Roy, ia sadar bahwa ucapannya sangat melukai suaminya tersebut.
"Sekarang pergilah ke Singapore aku tidak akan mencegahnya. Aku yakin, sekuat apapun kamu untuk memisahkan mereka, cinta mereka akan tetap menyatu!"
Roy hendak pergi meninggalkan kamar tersebut. Namun, Putri mengejarnya dan memeluk pria itu dari belakang.
"Maafin aku, Mas! Maafin aku!" Putri menangis terisak-isak di balik punggung pria tersebut.
Ia tidak dapat menahan rasa sesaknya saat mengingat masa lalunya yang begitu sulit untuk mendapatkan pria itu. Akan tetapi, setelah ia mendapatkannya, ia malah dengan mudah meminta perceraian.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC...