Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Terlanjur mencintai


__ADS_3

"Selamat datang Adikku, Adik Ipar!" David menyambut Devan di Bandara. Pria itu tersenyum seraya menatap Devan dan Catherine bergantian.


"Salam kenal, Kak!" jawab Catherine seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Aku merindukanmu, Kak!" Devan melangkah mendekati David. Lalu, memeluk saudaranya melepaskan rasa rindu yang lama tak terobati.


"Kamu nginep di mansion Kakak saja, Dev! Biar Freya punya teman selama aku bekerja!" ajak David seraya tersenyum menatap Devan dan Catherine hangat.


"Kalau aku nginep di sana, nanti yang ada Catherine dijadikan Baby sitter sama Kak David! Dia 'kan suka aneh-aneh sama Freya!" batin Devan.


"Tidak, Kak! Biarkan kami tinggal di apartemen keluarga kita saja!" tolak Devan tersenyum kaku.


"Baiklah, terserah kamu saja! Aku tidak memaksamu karena aku tahu betul apa yang ada di otak ini!" David menunjuk kening Devan dengan jari telunjuknya, hingga kepala pria itu ikut mundur.


"Memangnya apa yang ada di otak Devan Kak?" Tanya Pria itu pura-pura bodoh.


"Tanpa ku jelaskan pun kau sudah ngerti apa maksud Kakak! Aku pernah menjadi pengantin baru juga!" ucap David menatap Devan tersenyum penuh arti.


"Oh ya? Aku kira nggak!" Devan melirik David sekilas.


"Terserah!" jawab David cuek.


"Ya sudah, Kak! Kita pulang dulu!" ucap Devan. Sementara Catherine hanya tersenyum menatap perdebatan kakak beradik itu.


"Baiklah, mari kita pulang!" ucap David membalas senyuman adiknya.


"Kalian nggak mau mampir ke rumah?" tanya David menatap keduanya seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak, Kak! Nanti saja. Kami masih butuh istirahat!" ucap Devan tersenyum.


"Owh ... kalian benar nih, nggak mau mampir ke mansion Kakak?" tanya David kembali.


"Tidak, Kak! Terima kasih!" jawab Devan.


Kalau begitu Kakak langsung ke kantor. Tadi aku sudah mengajak sopir untuk menjemput kalian!" ucap David seraya mengambil kaca mata hitam dan memakainya.


"Mana mobilnya, Kak?" tanya Devan seraya melihat mobil yang berjejeran di parkiran tersebut.


"Itu!" ucap David dengan jari telunjuk yang menuju pada sebuah mobil mewah yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Biar aku yang bawa koper kalian ke mobil!" ucap David seraya menarik koper yang di bawa Devan dan Catherine.


"Terima kasih, Kak!" ucap Devan.


"Kak David baik banget ya, Dev!" ucap Catherine setelah melihat langkah David yang menjauh.


"Memangnya aku tidak baik?" tanya Devan melirik istrinya yang sedang menatap David dengan senyum yang mengembang.


"Baik, Kok! tapi masih kalah sama Kak David!" ucap Catherine tersenyum yang menatap wajah kesal suaminya.


"Terserah, ayo kita ke mobil! Devan menarik tangan Catherine mengikuti langkah kakaknya tersebut. Lalu pasangan suami-istri itu memasuki mobil yang menjemputnya dan melambaikan tangan pada David.


"Hati-hati di jalan!" ucap David tersenyum setelah mobil yang ditumpangi keduanya meninggalkan bandara terlebih itu.


Devan melihat jam di pergelangan tangannya. Ia terkejut setelah melihat jam tangan tersebut.


"Semoga saja tidak telat!" David langsung melangkah menuju mobilnya. Ia pun juga meninggalkan Bandara itu.


_


_


_


Roy mengambil foto Putri yang ada di meja kerjanya. Ia memandangi foto tersebut dengan perasaan kacau balau.


"Aku akan segera menjemputmu! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja!" gumam Roy sambil mengusap foto Putri yang sedang tersenyum ceria.


"Sekarang aku sadar dan yakin bahwa tidak ada orang lain di hati ini, aku hanya mencintaimu, Putri!" ucap Roy dengan wajah sendunya.


"Jadi kau sudah benar-benar membuang cintamu untukku?" tanya Selena yang tiba-tiba muncul di ruangan tersebut.


"Selena!" gumam Roy menatap wanita itu yang sedang melangkah mendekati dirinya.


Wanita itu duduk di seberang Roy tanpa permisi. Ia menatap pria itu dengan mata yang mengembun.


"Apa benar bahwa kamu hanya mencintai tunanganmu? Apa benar kamu sudah membuangku dari hatimu?"


"Aku pikir kamu mencintaiku sebesar gunung dan seluas Samudera tapi ternyata cintamu hanya sebesar biji jagung hingga ketika ada suatu yang lebih menarik kau membuangku begitu saja!" ucap Selena.

__ADS_1


"Dulu aku memang mencintaimu sangat besar hingga aku tidak bisa melirik wanita lain dan sangat marah jika ada seseorang yang mencoba menyentuh hatiku."


"Aku menolak cinta Putri hingga berulang kali karena selain dia dijodohkan dengan Tuan Devan, hatiku masih tidak bisa lepas darimu, meskipun aku yakin bahwa kamu sudah tiada!" ucap Roy.


"Jika Putri memang dijodohkan dengan Tuan Devan, kenapa dia bisa bertunangan denganmu?" tanya Selena menatap Roy tajam.


"Saat dia akan bertunangan dengan Tuan Devan, dia datang padaku dan menanyakan perasaanku lagi! Aku menolaknya kembali hingga membuatnya benar-benar hancur akan penolakanku."


"Akhirnya dia memutuskan untuk bertunangan dengan Tuan Devan dan saat itulah aku menyadari perasaanku bahwa duniaku seakan runtuh saat dia akan menjadi milik orang lain," ucap Roy. Selena yang mendengarkan cerita Roy meluruhkan air matanya tanpa permisi.


"Acara pertunangan mereka benar-benar digelar, aku melihat pancaran kesedihan di wajahnya tapi aku tidak bisa melakukan hal apapun karena aku tidak punya hak untuk membatalkan pertunangan itu meskipun aku sangat ingin. Aku hanya berdiam diri menahan luka yang menyayat hati karena perbuatanku sendiri. Akan tetapi ... " Roy menghentikan ucapannya. Lalu ia tersenyum mengingat kejadian yang menurutnya adalah keajaiban.


"Akan tetapi ... , Apa?" tanya Selena seraya menghapus air matanya.


"Saat Tuan Devan akan menyematkan cincin pertunangan pada jari manis Putri, tiba-tiba Tuan Devan mematung sebelum cincin itu terpasang sempurna, entah apa yang Tuan Devan lihat, tiba-tiba Cincin itu menggelinding dan berhenti tepat di depanku," ucap Roy dengan senyum yang mengembang.


"Terus?" tanya Selena dengan wajah penasaran. Namun, air matanya juga tak hentinya menetes.


"Aku mengambil cincin itu dan menyerahkannya pada Tuan Devan. Akan tetapi, saat aku hendak pergi, Tuan Devan menahanku dan menyerahkan cincin itu. Ia meminta restu pada semua orang termasuk orang tua Putri dan orang tuanya." Roy tersenyum-senyum sendiri.


"Setelah itu kau benar-benar bertunangan dengannya?" tanya Selena.


"Iya, saat itu jadilah dia tunanganku dan hatiku tidak kosong lagi sejak kehadirannya! Sifat dingin dan sombongku seakan runtuh begitu saja. Dia kebahagiaanku dan dia hidupku!" ucap Roy dengan tatapan kosong.


Selena menundukkan kepalanya, wanita itu begitu terluka mendengar ucapan orang yang yang dicintai mencintai wanita lain. Ia mengusap air matanya dan mencoba menahan sesak di dadanya.


"Aku memang mencintaimu, tapi jika di hatimu bukan aku lagi, lalu untuk apa aku mengejarmu? Aku memang begitu terluka saat mendengarmu menjadi milik orang lain, tapi apakah aku sanggup hidup denganmu jika hatimu tidak ada aku sedikitpun?" Selena meluruhkan air matanya tanpa menatap Roy.


Roy yang melihat wanita itu menangis membuatnya tidak tega, walau bagaimanapun, wanita itu pernah mengisi hatinya dan menjadi kebahagiaannya.


Pria itu berdiri dan melangkah mendekati wanita itu, lalu duduk di sampingnya seraya menghadap pada wanita tersebut. Roy menatapnya dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku Selena, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, seandainya saja aku tahu bahwa kamu masih hidup mungkin aku tidak akan pernah berpaling. Tapi hati ini sudah terlanjur mencintainya dan sulit untuk kembali ke masa yang sudah terlewati!"


"Maafin aku, Selena! Maafin aku!" ucap Roy dengan perasaan bersalahnya.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2