Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Kenapa aku yang terluka?


__ADS_3

Regina kini sudah masuk kelas. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri saat gurunya menjelaskan tentang mata pelajaran. Ia melamun dan tidak mendengarkan sang guru.


Gadis itu menopang dadu dengan kedua tangannya sambil tersenyum dan memiringkan sedikit kepalanya seraya menatap papan tulis.


Saat sang guru menyadari tentang Regina yang melamun, ia langsung melayangkan penghapus pada arah gadis itu dan tepat mengenai jidat gadis tersebut.


"Eh, iya Om!" Regina reflek dan langsung berdiri karena terkejut. Gadis itu melebarkan matanya dengan badan yang begitu tegap. Hingga membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Ha ha ha ... !" tawa teman sekelas Regina bergemuruh di ruangan itu hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Gina ... duduk!" titah Jasmine.


Jasmine ~ sahabat baik gadis itu menarik tangannya hingga Regina duduk kembali di kursinya.


Regina menundukkan kepala karena sadar dengan apa yang ia lakukan hingga membuat gurunya kesal. "Gina! Maju ke depan!" sentak guru tersebut.


"Baik, Cikgu!" jawabnya seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Cikgu, Cikgu, panggil aku yang bener!" sentak guru tersebut.


"Okay, Miss!" jawabnya.


Gadis itu berjalan dengan menundukkan kepalanya, lalu berdiri di hadapan guru tersebut.


"Sekarang hadap ke depan!" titah guru tersebut. Regina pun menuruti keinginan gurunya. Ia menghadap pada teman sekelasnya yang masih menertawakan dirinya yang konyol.


"Angkat kakinya sebelah!" titah guru itu.


"Baik, Cikgu!" Regina pun mengangkat kakinya.


"Sekarang tarik telinga dengan kedua tanganmu!" sentak ibu guru itu dengan tangan di atas pinggang.


"Tapi Bu ... !" Regina menoleh menatap ibu gurunya dengan wajah memelas.


"Nggak ada tapi-tapian, sekarang kamu berdiri seperti itu sampai bel berbunyi!" titah guru tersebut.


"Ibu ... !" Regina memanyunkan bibirnya seraya menatap gurunya memelas.


"Ikuti perintah ibu! Atau kamu mau ibu mengirimi orang tuamu surat?"


"Baik, Cikgu! Baik!" ucap Regina patuh.


"Apa?" Guru itu menatap Regina tajam hingga membuat nyali gadis itu menciut.


"Iya, Bu! Iya!" Regina pun mematuhi perintah gurunya. Ia terus mengumpat dalam hatinya dengan wajah penuh kekesalan.


"Dasar Om-Om sialan! sudah nggak ada di dekatku masih saja bikin masalah!" umpat Regina. "Tapi dia tampan sih!" Regina tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


_


_


_


Jam 11 siang Brata kini tiba di rumahnya, Pria itu tersenyum saat melihat mobil sang istri sudah terparkir di halaman rumahnya.


Dengan penuh semangat, pria itu melebarkan langkahnya untuk menemui sang istri hingga ia melihat istrinya tersebut duduk di sofa ruang keluarga.


"Kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Brata seraya merebahkan dirinya di samping istrinya tersebut.


"Dari mana saja kamu?" Keyla balik tanya pada Brata tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu. Brata pun tersenyum meskipun ia hanya bisa melihat istrinya dengan wajah datar dengan tangan yang berlipat di dada.


"Aku tadi habis jalan keluar karena bosen jika tanpamu di rumah ini!" jawab Brata tersenyum.


Wanita itu bungkam dan tidak menanyakan apapun lagi. "Owh ... ya sudah! Kalau begitu aku ke kamar duluan, aku cepek mau istirahat siang dulu!" ucap Keyla dengan wajah datar dan dingin.


"Ya sudah aku ikut!" Brata berdiri hendak mengikuti langkah istrinya. Namun, ucapan wanita itu menghentikan langkahnya.


"Jangan ganggu aku, aku mau sendiri!" jawab Keyla seraya lari menjauh darinya.


Brata pun hanya menatap langkah Keyla sendu. Namun, sebagai pria, ia hanya menelan ludahnya untuk menahan air matanya yang hendak menetes melihat perubahan sikap istrinya tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Key! Entah kenapa, aku merasa kau menyesal menikah denganku!" gumam Brata seraya tersenyum sendu.


Brata tidur terlentang dengan tangan yang menjadi bantalan, serta memejamkan matanya dan mengingat-ingat apa kesalahannya pada Keyla.


Namun, ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu karena ia mengingat dengan jelas bahwa hubungannya dengan Keyla baik-baik saja sebelum menikah.


"Aku mencintaimu, Key! Meskipun sekarang aku tidak melihat cinta itu lagi di matamu!" gumam Brata seraya memejamkan matanya.


Sementara Keyla menangis di balik pintu, ia meluruhkan badannya perlahan, lalu menangis tersedu. Kamar itu kedap suara hingga tangisannya tidak dapat di dengar dari luar kamar.


"Maafkan aku Brata, tapi aku tidak mencintaimu! Setiap melihatmu aku hanya akan terluka!" ucap Keyla dengan tangisan pilunya.


_


_


_


Waktu terus berjalan. Hubungan Brata dan Keyla pun masih tetap sama. Selama satu bulan penuh Keyla selalu mencari alasan setiap Brata ingin menyentuhnya hingga pria itu menyerah dan memilih diam menahan rasa kecewanya pada sang istri.


"Key, nanti aku pulang telat! Kamu tidak perlu masak makan malam untukku!" titah pria itu seraya mengolesi rotinya dengan selai.


Meskipun hubungan keduanya tidak harmonis. Tapi, mereka tetap selalu sarapan dan makan malam bersama.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu saja!" jawab wanita itu cuek dan hal itu membuat Brata semakin terluka karena ia berharap istrinya akan mencegahnya dan menyuruhnya untuk makan malam bersama.


Akan tetapi, harapan hanya tinggal harapan, Brata akhirnya pamit dan langsung pergi setelah memakan roti dan meminum susunya.


"Sampai kapan aku harus begini, kenapa malah aku yang terluka melihat sikap dinginnya!" gumam Keyla setelah bayangan pria itu menghilang di balik pintu.


_


_


_


"Dev, aku ikut kamu lagi ya ke kantor!" Catherine mengedip-ngedipkan matanya.


Wanita itu selalu mengikuti kemanapun Devan pergi, bahkan suaminya itu merasa sesak nafas karena Catherine sangat manja hingga terkadang ia kesal karena di tuduh berselingkuh jika tidak mau mengajak istrinya tersebut.


"Sayang ... ! Nanti siang aku ada rapat penting di luar, kamu nanti kecapean jika ikut aku terus!" bujuk Devan lembut.


Catherine pun kesal mendengar penolakan pria itu hingga ia berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah menuju kamarnya. Devan yang mengerti dengan sikap manja istrinya, ia langsung memeluk wanita itu dari belakang.


"Hay ... jangan marah! Aku tidak ingin kamu kecapean, aku lihat wajahmu sangat pucat, aku tidak tega melihatmu ikut aku perjalanan jauh. Lain kali aku janji akan mengajakmu!" Devan mencoba membuat istrinya mengerti.


Namun, Catherine menghempaskan tangan Devan hingga pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"Aku tau, Dev! Kamu mau ke luar kota 'kan? Kamu mau menemui selingkuhanmu, aku tau itu, makanya kamu selalu melarangku ikut kamu jika perjalanan jauh!" tuduh Catherine dengan suara yang memenuhi rumah itu.


"Cukup Cath! Kau selalu menuduhku tanpa alasan! Sekarang kesabaranku telah habis, kau terlalu ke kanak-kanakan!" Sentak Devan seraya melangkah hendak meninggalkan istrinya karena kesal.


Namun, langkah pria itu seketika terhenti saat mendengar suara Catherine yang mendesis seperti orang kesakitan. Devan menoleh, lalu melihat istrinya yang memegang kepalanya dengan tubuh yang hampir ambruk.


"Sayang, kamu kenapa?" Devan menahan tubuh Catherine sebelum wanita itu memejamkan matanya.


"Catherine bangun, Cath ...! Jangan membuatku khawatir! Maafkan aku! Bangun Sayang! Bangun!" Devan menepuk-nepuk pipi wanita itu. Namun, Catherine tak kunjung membuka matanya.


Akhirnya Devan menggendong tubuh Catherine dan membawanya ke rumah sakit. "Sayang ... ! Please jangan kayak gini! Aku janji tidak akan membentakmu lagi, jangan tinggalkan aku!" Devan merasa bersalah pada istrinya. Rasa takut kehilangan menghantui pikiran pria itu hingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum salam warahmatullahi wabarokatuh 🥰😘


Kurang nggak? 🙈


Jangan lupa dukungannya ya, Sayang 😂


Like dan komen 😍

__ADS_1


__ADS_2