
"Ceritalah padaku! Aku janji, seberat apapun masalahmu, aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Devan seraya melepaskan Catherine, lalu memegang kepala wanita itu.
Catherine masih menggeleng, "Aku di sini benar-benar sendiri, bahkan aku malu untuk kembali kepada orang tuaku," ucap Catherine dengan air mata yang terus mengalir.
"Sekarang di sini aku hanya punya kamu, aku nggak mungkin kembali ke negara asalku karena aku yang memutuskan untuk pergi!" ucap Catherine terisak-isak.
Devan tersenyum lembut. "Percayalah, seberapa berat pun masalah mu, aku tidak akan menjauh," ucap Devan menatap Catherine dengan wajah seriusnya.
"Benarkah?" tanya Catherine seraya menatap mata Devan untuk mencari kebohongan di sana.
Devan tersenyum seraya mengangguk pelan. "Aku janji!" jawabnya.
"Aku, a-a-ku ... " ucap Catherine gagap karena ia masih ragu untuk menceritakannya.
"Iya aku kenapa?" tanya Devan menatap Catherine semakin penasaran.
"Aku cerita nanti aja setelah pulang kerja, aku takut telat, sekarang sudah waktunya aku kerja," ucap Catherine seraya mengalihkan tatapannya dari Devan dan menatap ke samping.
Devan hanya tersenyum. "Baiklah!" jawab pria itu. Lalu memasang sabuk pengamannya kembali dan melajukan mobilnya menuju tempat kerja wanita itu.
"Nanti di depan belok kanan," ucap Catherine. Namun, pria itu terkejut saat jalan yang ditunjukkan Catherine menuju jalan yang tidak asing baginya. "Ini 'kan? Ah ... mungkin hanya deketan saja!" gumam Devan.
"Kenapa?" tanya Catherine menoleh pada Devan setelah mendengar gumaman pria itu.
"Nggak apa-apa," jawab Devan tersenyum.
"Stop!" titah Catherine begitu sampai di depan butik tempatnya bekerja.
"Kamu kerja di sana?" tanya Devan seraya menatap butik yang ada di seberang jalan tersebut.
Catherine tersenyum, lalu mengangguk. "Ya sudah aku masuk dulu sebelum Bu Rani datang, aku tidak enak jika aku telat," ucapnya.
"Bukankah itu cabang butik Mommy?" batin Devan dengan wajah melamun.
"Hey!" Catherine mengibaskan tangannya di depan wajah pria itu.
__ADS_1
"Eh, iya?" tanya Devan kaget.
"Kenapa melamun?" tanya Catherine seraya tersenyum.
"Nggak apa-apa, nanti jam lima aku jemput!" ucap Devan.
"Baiklah!" jawab Catherine tersenyum. Lalu membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya pada pria itu. "Sampai jumpa!" ucapnya.
Devan membalas lambaian tangan Catherine, lalu melajukan mobilnya meninggalkan Catherine yang menatap mobil pria itu menjauh.
"Aku merasa nyaman saat bersamamu, bebanku serasa berkurang saat punya teman baik sepertimu, semoga kau tidak akan meninggalkan ku, meskipun kau tau kebenarannya tentang aku," gumam Catherine tersenyum sendu.
"Kak Catherine!" teriak seorang gadis dari seberang jalan.
"Nona Putri!" ucapnya tersenyum, lalu Catherine menghampiri gadis itu.
"Kak, ngapain Kakak di sana?" tanya Putri setelah Catherine berdiri di dekatnya.
"Enggak Ngapa-ngapain, aku cuma habis turun dari taksi tadi," jawab Catherine berbohong.
"Aku nunggu, Teman!" ucap Putri tersenyum manis.
"Kamu janjian di sini?" tanya Catherine lagi.
"Iya, katanya dia mau pesan gaun untuk acara pertunangannya, tapi orangnya mana ya?" Putri masih menatap kendaraan yang berlalu lalang.
"Kita tunggu di dalam saja, kamu kirim pesan lagi nanti, katakan saja alamatnya. Di sini nggak ada butik lain, temenmu nggak akan nyasar Kok," ucap Catherine tersenyum.
"Baiklah, Kak!" ucap Putri membalas senyuman Catherine.
"Ayo!" ajak Catherine.
Putri tersenyum, lalu mengangguk dan berjalan beriringan dengan Catherine seraya melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.
_
__ADS_1
_
_
Sementara Devan kini kembali ke Gedung Galaxy corp dan memasuki ruangannya. Roy yang melihat kedatangan Tuannya itu mengerutkan kening, sekretarisnya tersebut masih duduk di sofa ruangan Devan sambil mengerjakan tugas-tugas yang Devan perintahkan.
"Bukankah Tuan Devan ada acara hari ini?" tanya Roy datar.
"Nggak jadi, aku hanya mengantar Catherine ke butik," jawab Devan datar.
"Owh ... " jawab Roy datar.
"Jadi kamu sudah tau kalau Catherine kerja di butik cabang?" tanya Devan menatap Roy tajam.
"Iya, Tuan!" jawabnya.
"Terus, kenapa kau tidak memberi tahuku?" tanya Devan yang tidak melepaskan tatapannya dari Roy.
"Anda tidak menanyakan pekerjaannya, Tuan! Anda hanya menyuruhku membaca identitasnya saja!" ucap Roy santay.
"Kurang ajar! Kau benar-benar mau kupecat ternyata ya!" ancam Devan.
"Anda tidak akan berani memecat saya, Tuan. Karena yang menerima saya untuk menjadi Sekretaris Anda adalah Tuan Brian sendiri," jawabnya.
"Kau benar-benar ya, Roy!" Devan menatap Sekretarisnya merah padam.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Kurang Nggak sih? Kalau kurang besok lagi ya 😂🙈
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
love you 😘