
"Ayang Roy, Putri mau disuapi dong!" Gadis itu duduk di seberang meja kerja tunangannya dengan tangan yang memegang cup ice cream.
Roy tersenyum tipis. Ia tetap melanjutkan kerjaannya tanpa menghiraukan Putri yang menyodorkan cup ice creamnya.
"Ayang ... !" panggil Putri seraya memanyunkan bibirnya karena Roy masih sibuk dengan laptopnya.
Putri yang kesal karena merasa diabaikan, ia meletakkan cup ice creamnya, ia berdiri dan melangkah mendekati Roy yang sedang duduk di kursinya. Gadis itu menggelitiki Roy hingga Roy mengehentikan kerajaannya dan berdiri dari tempat duduknya tersebut.
"Cukup, Sayang! Aku geli!" ucap Roy seraya mencoba menangkap tangan Putri. Setelah Roy berhasil menangkap satu tangan Putri, pria itu menggenggamnya dan membalikkan tubuh Putri seraya memeluknya dari belakang dengan Putri yang tertawa terbahak-bahak.
"Roy ... !" panggil seorang wanita dari pintu masuk. Roy yang juga tertawa karena ulah Putri, ia langsung menghentikan tawanya dan menatap wajah wanita itu terkejut.
Sementara Putri menatap wanita itu dengan kening yang mengerut. "Kamu kenal sa ... !" Putri mengehentikan ucapannya saat melihat wanita itu lari dan langsung memeluk Roy dengan tangis yang terisak-isak.
Sementara Roy hanya diam mematung. Ia mengangkat tangannya perlahan lalu membalas pelukan wanita itu.
Deg.
Putri syok melihat yang terjadi di depan matanya. Ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah lama berpelukan, wanita itu melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi Roy dan menatapnya dengan air mata yang berderai tiada henti.
"Kenapa kau tidak mencariku? Bertahun-tahun aku hilang ingatan dan aku bingung siapa diriku dan tidak ada satu orang pun di sana yang mengenalku!" ucap wanita itu dengan tangis yang terisak-isak.
"Aku tidak mimpi 'kan?" tanya Roy dengan wajah yang masih terkejut.
"Kamu bilang, kau sangat mencintaiku? Tapi kenapa kau tidak datang menjemputku? Aku menderita di sana Roy! Aku menderita!" ucap wanita itu dengan tangisan pilunya.
"Selena, aku kira kamu sudah meninggal, jika bukan kamu yang dikuburkan, lalu siapa yang ada di kuburan itu?" tanya Roy yang masih bingung.
Putri yang mendengar obrolan keduanya, ia dapat memahami apa yang terjadi, hingga ia memilih pergi tanpa pamit.
Roy yang melihat Putri akan melangkah, ia menggenggam pergelangan tunangannya tersebut.
Selena melihat apa yang dilakukan Roy hingga membuat ia bertanya-tanya. "Dia siapa Roy!" tanya Selena seraya mengerutkan kening.
"Dia ... !" Roy menatap Putri intens. Namun, pria itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Putri yang kesal karena pria itu tidak menjelaskan hubungan mereka, ia langsung menarik tangannya dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah penuh kekecewaan.
"Dia siapa, Roy?" tanya Selena dengan wajah penasaran.
"Dia Putri ~ anaknya Om Ryan mantan sekretarisnya Tuan Brian." Roy tersenyum kaku.
"Owh ..." Selena membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hm ... Sayang jalan yuk! Aku merindukanmu, kita baru saja bertemu, aku ingin mengganti waktu perpisahan kita!" ucap Selena dengan senyum yang mengembang.
Roy memaksakan senyumnya. Pernikahannya dengan Putri tinggal menghitung hari. Namun, masa lalunya kini kembali yang membuat pria itu bingung, karena ia tidak ingin menyakiti Selena kekasihnya sebelum ia kenal dengan Putri.
__ADS_1
"Sayang ... !" panggil Selena lembut ketika melihat Roy melamun.
"Eh, iya!" jawab Roy terkejut.
"Kamu Kenapa sih?" tanya Selena kesal.
"Nggak apa-apa! Ayo kita makan di luar!" ajak Roy seraya menarik pergelangan tangan wanita itu.
"Maafin aku, Put! Aku butuh waktu untuk menjelaskan ini pada Selena.Tapi aku janji, aku akan menyelesaikan masalahku sebelum acara pernikahan kita!" batin Roy seraya menatap lurus ke depan.
_
_
_
"Kenapa dia harus kembali sekarang? Kenapa dia tidak kembali sebelum acara pernikahanku ditetapkan?" Putri mengendarai mobilnya sendiri.
Gadis itu menangis terisak-isak mengingat kejadian yang menyakitkan baginya.
"Apa yang harus kulakukan, aku tidak mungkin membatalkan pernikahanku karena aku hanya akan menyakiti orang tuaku!" gumam Putri dengan air mata yang menerobos begitu saja.
Putri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga ia hampir menerobos lampu merah, jika saja ia tidak menghentikan mobilnya, maka yang terjadi sudah tidak dapat dibayangkan lagi.
Tok tok tok ...
Putri mengambilnya dan hendak menyerahkan SIM dan KTPnya. Namun, Putri menariknya kembali saat melihat wajah yang tidak asing baginya.
"Panda?" Putri menatap Pria itu berbinar.
Pria itu terkejut saat mendengar panggilan itu. Ia memperhatikan wajah Putri, lalu tersenyum setelah menatapnya intens.
"Parkir saja mobilmu di sana, biar mobilmu tidak menghalangi jalan." Pria itu tersenyum.
Putri mengangguk, lalu memundurkan mobilnya dan memarkirkan mobil tersebut sesuai dengan arahan polisi.
Putri turun dari mobilnya, lalu melangkah mendekati pria itu. "Panda! Aku merindukanmu!" ucap Putri seraya memeluk pria itu dengan senyum yang mengembang.
"Kemana saja Kau selama ini?" tanya Putri. Ia dan polisi itu berdiri di depan tempat mobilnya di parkir.
"Kamu yang kemana saja! Kau tega meninggalkanku dan pergi tanpa pamit!" ucap Pria itu.
"Maaf, dulu aku 'kan nggak ada niatan sekolah di Paris, sekolah di sana impianku. Jadi waktu aku liburan ke Paris aku nggak mau diajak pulang karena aku begitu betah di sana!" ucap Putri dengan senyum manisnya.
"Terus sekarang kamu kuliah di sini?" tanya Pria itu.
"Iya, aku melanjutkan kuliahku di sini karena mommy selalu mendesakku untuk pulang!" ucap Putri seraya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu nggak pernah berubah ya! Kamu masih lucu kalau lagi kesel," ucap Pria itu.
Putri memukul pundak pria itu, hingga pria itu tertawa. "Kau juga masih sama, kau juga menyebalkan!" ucap Putri memutar bola matanya malas.
"Panda, kamu keren ya sekarang? Kau sudah jadi Polisi!" ucap Putri membanggakan sahabatnya tersebut.
"Nggak juga, aku menjadi seperti ini karena beasiswa, kalau kamu sendiri gimana? Apakah kau sudah menikah?" tanya Irvan menatap gadis itu dari samping.
"Belum, tapi aku sudah punya tunangan!" jawab Putri dengan senyum manisnya.
"Baguslah!" ucap Pria itu.
"Kenapa bagus?" tanya Putri menatap Irvan dari samping seraya mengerutkan kening.
"Iya, bagus! Jika saja kau tidak punya tunangan, mungkin saja aku mengharapkanmu lebih!" ucap Irvan.
"Andai saja aku bisa memilih, aku akan memilih mencarimu dan mencintaimu sebelum aku mencintai orang yang saat ini memenuhi relung hatiku!" ucap Putri tersenyum dengan tatapan lurus ke depan.
"Jujur saja, dulu aku mengharapkan kau mencariku karena aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Tapi pada kenyataannya kau tidak pernah datang padaku hingga aku mencintai orang lain!" ucap Putri yang masih mengalihkan tatapannya.
Seketika pria itu menoleh karena terkejut, ia menatap sahabatnya dengan wajah tak percaya.
"Aku bukan tidak ingin mencarimu, aku mendatangi rumahmu hingga 3 tahun lamanya.
Namun, kau tak kunjung kembali hingga akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk fokus pada pendidikanku!" ucap Irvan.
"Tapi semua itu hanya tinggal kenangan karena pernikahanku tinggal menghitung hari!" ucap Putri tersenyum.
Irvan pun membalas senyuman Putri lalu mengulurkan tangannya. "Selamat ya!" ucap Irvan menatap Putri intens.
Putri pun menerima uluran tangan Irvan dengan senyum yang tak memudar.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Jangan lupa jejaknya ya! Like and komen. Kalau Vote terserah kalian saja, kalian bisa kasih Votenya ke karya Othor yang kalian sayangi 🥰
Oh iya, maaf Othor belum sempat balas komen kalian soalnya menjelang Hari Raya Othor agak repot dikit.
Bagi yang muslim, selamat merayakan hari raya idul adha mohon maaf lahir batin 🙏🙏🙏
Love you All ...
Muachhh 😘
__ADS_1