
"Sayang ... sudah! Aku ngantuk." Catherine memejamkan matanya. Namun, Devan masih saja terus mengganggu wanita itu.
"Satu kali lagi ya, Sayang! Please... !" Devan terus merem@s-rem@s benda kenyal yang menjadi candunya itu, hingga membuat Catherine tidak bisa terlelap karena ulah suaminya.
"Dev ... !" rengek Catherine saat Devan melahap benda kenyal itu layaknya bayi kelaparan.
Pria itu seakan tuli, ia terus bermain-main di area favoritnya tersebut. Lalu Pria itu mengusap-usap lembut area sensitif Catherine.
Setelah itu, ia memasukkan jari telunjuknya dan bermain-main di sana, hingga membuat Catherine meliuk-liukkan badan layaknya cacing kepanasan.
Catherine yang terpancing dengan ulah suaminya tersebut. Ia langsung menjambak rambut Devan dan *****@* bibir pria itu habis.
Devan yang berhasil memancing istrinya tersebut, ia tersenyum puas. Lalu pria itu membalas ciuman Catherine dan mereka pun bertempur di malam itu.
"Dev, pokoknya setelah ini, udah ya! Aku benar-benar capek. Badanku rasanya remuk semua!" rengek Catherine.
"Satu kali lagi, Sayang!" ucap Devan.Catherine yang kesal pada suaminya tersebut, ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu melangkah keluar dari kamar tersebut.
"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Devan yang melihat Catherine dengan wajah kesal.
Catherine tidak menjawab, lalu Devan menyusulnya. Akan tetapi, Catherine sudah terlanjur menutup pintu sebelum pria itu masuk ke kamar tersebut.
Tok tok tok ...
"Sayang ... kamu ngapain di kamar tamu?" tanya Devan dengan wajah penasaran.
"Aku mau tidur di sini! selamat malam, Dev!" ucap Catherine dari kamar tersebut.
"Sayang, kamu ngapain tidur di kamar tamu?" tanya Devan mengerutkan kening.
"Aku pengen istirahat, aku capek! Sekarang sudah malam. Kamu tidur di kamar sana, aku tidur di sini saja!" teriak Catherine dari kamar tersebut.
"Kamu bercanda 'kan, Sayang?" tanya Devan seraya mengetuk pintu kamar tamu berulang kali.
Catherine tidak menjawabnya lagi. Wanita itu memakai handset karena ia ingin tidur dengan nyenyak.
"Tok tok tok ...! Sayang, masak kita pisah kamar sih? Sayang buka ...!" teriak Devan seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.
"Sayang ... !" teriak Devan. Namun, tidak ada jawaban lagi dari dalam.
Devan yang sudah lelah mengetuk pintu kamar tersebut, akhirnya ia kembali ke kamarnya dengan langkah lunglai.
Pria itu tidak bisa tidur, ia membolak-balikkan badannya dan memeluk bantal guling berharap Segera terlelap. Namun, ia tak kunjung terbawa ke alam mimpi.
Akhirnya, Devan kembali dan mondar mandir mencari ide supaya bisa tidur dengan Istrinya tersebut.
Setelah beberapa kali mondar mandir, akhirnya Devan berbinar dan langsung melangkah menuju balkon kamarnya.
"Akhirnya aku tahu cara untuk menemuimu, Ratuku!" gumam Devan dengan wajah penuh semangat.
Pria itu mencoba membuka jendela kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya tersebut. Pria itu tersenyum saat keberuntungan berpihak padanya, karena jendela itu tidak di kunci. Devan berjalan mengendap-endap layaknya maling
"Stop!" sentak Catherine seraya mengangkat tangannya. Devan pun seketika mematung di tempatnya karena ia sangat terkejut. Akan tetapi, Catherine tersenyum sambil memeluk gulingnya.
"Ah ... sial! Ternyata cuma mengigau!" umpat Devan.
__ADS_1
Pria itu melanjutkan langkahnya, lalu tidur di samping Catherine, pria itu masuk ke dalam selimut, lalu memejamkan matanya dan terlelap seraya memeluk tubuh istrinya tersebut.
_
_
_
Mansion Cassilas
Anton, Dinda dan Putri duduk di meja makan untuk sarapan. Mereka bertiga makan dalam keheningan, meskipun ketiganya tipe yang humoris, namun mereka tetap menjaga kesopanan.
Setelah selesai sarapan, Putri membuka pembicaraan. "Mom, aku mau main ke Mansion Kak Freya! Boleh ya Mom?" tanya Putri seraya menatap Dinda penuh harap.
"Boleh, Sayang! Sekalian nanti mommy juga pengen lihat cucu mommy!" ucap Dinda tersenyum.
"Aku kangen banget sama wajah datar Kak Freya? Gimana ya cara Kak David menggodanya?" Putri tersenyum-senyum sendiri membayangkan pasangan suami istri tersebut.
"Yang kamu gosipin itu anak daddy!" ucap Anton tidak terima.
"Emang Putri pikirin? Aku 'kan juga anak daddy!" Putri menaik turunkan alisnya.
"Anak pungut ngaku-ngaku!" ucap Anton sengaja ingin membuat Putri kesal.
"Pletak ..."
Sebuah sendok makan mendarat di kening pria itu. "Auh ... kamu ngapain lempar aku pake sendok sih, Sayang?" tanya Anton menatap istrinya kesal.
"Kenapa Kanda bilang keponakanku anak pungut?" Dinda menatap Anton dengan mata melotot.
"Lha dia 'kan memang kita pungut dari sepupumu yang menyebalkan itu?" Anton memutar bola matanya malas.
"Sudahlah, aku berangkat saja!" ucap Anton seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Dad, jangan lupa bawain Putri oleh-oleh nanti pulang kerja!" ucap Putri tersenyum.
"Daddy bukan mau liburan Putri, daddy mau ke kantor!" ucap Anton menatap gadis itu kesal.
"Pokoknya Putri mau oleh-oleh! Titik tidak pake koma!" ucap gadis itu.
"Kau benar-benar ya, Put! Kamu kamu 'kan sudah besar bisa beli sendiri, masih saja nyiksa daddy!" ucap Anton dengan wajah cemberutnya.
"Tapi pemberian daddy rasanya lebih istimewa saja!" ucap Putri tersenyum menatap Anton dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Sudahlah, Kanda! Cuma bawa oleh-oleh aja ribet banget!" ucap Dinda santai.
"Kalian ini memang kompak dalam hal mengusiliku!" ucap Anton menatap keduanya dengan wajah kesal.
"Ya udah sana! Katanya Kanda mau berangkat!" ucap Dinda tersenyum cengengesan.
"Iya Dad, sana!" Putri mengikuti ucapan Dinda.
"Kalian mengusirku?" tanya Anton menatap keduanya tajam.
"Katanya tadi mau berangkat?" tanya Dinda menatap Anton dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya, katanya Daddy mau berangkat?" ucap Putri.
"Sini tangannya, Dad!" Putri berdiri dan melangkah mendekati pria paruh baya itu, lalu menyalaminya.
Setelah itu bergantian dengan Dinda. Wanita paruh baya itu pun mencium pipi suaminya seraya tersenyum.
Anton pun tersenyum, lalu pria itu melangkah meninggalkan meja makan seraya melambaikan tangannya pada Putri dan istrinya tersebut.
"Da ... Daddy!" ucap Putri dengan senyum yang mengembang.
Anton pun tersenyum, sementara Dinda dan Putri menatap langkah pria itu sampai bayangannya menghilang.
"Mom, kita berangkat juga yuk! Putri sudah sangat merindukan Kak Freya!" ajak gadis itu.
"Ya sudah, ayo!" Dinda tersenyum.
Kedua wanita itu juga melangkah meninggalkan meja makan dengan berjalan beriringan layaknya anak dan ibunya.
Sesampainya di halaman mansion, ia melihat sahabatnya turun dari sebuah mobil. "Hey, kamu ke sini?" Putri tersenyum menatap Irvan yang sudah berdiri dihalaman mansion itu.
"Iya, aku mau mengajakmu jalan! Besok aku harus kembali ke Indonesia!" ucap Pria itu, seraya berdiri di samping mobilnya.
Putri menoleh menatap Dinda seakan minta pendapatnya. "Nggak apa-apa, Sayang! Kamu pergi saja sana! Kamu bisa ke Mansion Freya kapan-kapan! Atau nanti aku mengundang mereka aja untuk makan malam di sini!" ucap Dinda.
"Sekalian nanti, kita undang Devan dengan istrinya untuk makan malam di sini!" Dinda tersenyum menatap gadis itu.
"Kak Devan juga di sini, Mom?" tanya Putri dengan wajah berbinar.
"Iya, Mereka bulan madu di negara ini?" ucap Dinda tersenyum.
"Asyik tuh, nanti ada yang bisa kuusili!" ucap Putri berbinar.
"Kata Raya, Devan itu orangnya cuek?" Dinda menaikkan sebelah alisnya.
"Kak Devan bukan cuek Mom, tapi sok cuek karena takut jatuh cinta sama Kak Raya!" ucap gadis itu.
"Kamu ini sok tau, udah sana! Kasian Irvan menunggumu dari tadi!" ucap Dinda.
"Siap, Mom! Ya udah, Dinda berangkat dulu, Da ... Mommy!" Putri mencium pipi wanita paruh baya itu, lalu melangkah pergi seraya melambaikan tangannya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Jangan lupa jejaknya ya, Like and komen 😍
Thank you All 😘
Yang penasaran dengan Kisah David dan si kembar Freya dan Raya bisa mampir ke karya Othor yang berjudul
Pemikat Hati Sang Cassanova
Tidak sampai 80 episode dan pastinya udah 'Tamat' Di tunggu ya guys 🥰
__ADS_1
Seperti cover di bawah 👇👇👇