
"Mom, Dad! Aku ingin kuliah di Paris! Aku akan ikut Mom Dinda nanti malam!" ucap Regina setelah selesai sarapan.
"Kenapa mendadak sekali, Sayang?" tanya Rani yang terkejut.
Regina tersenyum seraya menatap wanita yang melahirkannya tersebut. "Mom, aku ingin merasakan kuliah di luar negeri seperti Kak Putri, jadi please izinkan Regina untuk kuliah di sana!" ucap Wanita itu dengan wajah memohon.
"Daddy, tidak akan mengizinkanmu untuk meneruskan pendidikan di sana, di sini saja kamu sudah sangat bandel apalagi kalau kamu sampai jauh dari Daddy dan Mommy!" ucap Ryan seraya menatap putrinya lekat.
Regina menarik kedua sudut bibirnya dengan menatap daddynya manja. "Regina janji Dad, Regiba tidak akan bandel! Regina akan berubah! Daddy 'kan kesayangan Regina, Regina pasti tidak akan mengecewakan daddy dan Regina juga janji akan belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak akan menggoda pria bule di sana!" ucap Regina cengengesan.
"Izinkan saja, Dad! Dia punya alasan tersendiri kenapa dia mau kuliah di sana!" ucap Putri yang muncul dari balik pintu dan melangkah mendekati meja makan.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Rani menatap putri tertuanya yang semakin mendekat.
"Putri tidak perlu jelaskan, Mom! Tapi kalau dia kuliah di Paris, itu lebih baik dari pada di sini yang menjadi seorang pelakor!" ucap Putri yang duduk di seberang adik bungsunya tersebut.
"Putri!" sentak Ryan.
"Apa maksud, Kakak?" tanya Adit terkejut.
"Sayang, kenapa kau bilang seperti itu?" tanya Rani sendu.
"Lebih baik kalian tanyakan padanya langsung!" ucap Putri yang tidak melepaskan tatapannya dari adik bungsunya tersebut.
Regina pun beranjak dari kursinya dan lari meninggalkan meja makan tersebut. Ia tidak tahu apa yang akan ia jelaskan pada orang tua dan kakak laki-lakinya tersebut.
Dengan tangisan yang tidak bisa ia bendung, ia terus lari seraya menaiki tangga. Akan tetapi, tiba-tiba ia terpeleset hingga wanita itu jatuh berguling-guling dan keningnya terbentur dengan sangat keras yang membuat gadis itu bersimbah darah.
"Regina ... " teriak Ryan, Rani, Putri dan Adit bersamaan. Mereka menghampiri gadis itu dengan wajah syok.
"Sayang ... buka matamu, Nak!" titah Rani yang mengambil kepala Regina yang di letakkan pada pangkuan wanita paruh baya itu.
"Gina, maafin Kakak!" ucap Putri yang juga menangisi adik bungsunya tersebut. Ia dipenuhi dengan perasaan bersalah karena ucapannya.
"Kita bawa ke rumah sakit Dad, Mom, Kak!" ucap Adit dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Sayang ... dengarkan Daddy! Bukalah matamu, Gina sangat tahu, bahwa Gina kesayangan daddy, daddy percaya padamu, Nak!" ucap Ryan lembut.
Regina membuka matanya perlahan, lalu ia tersenyum seraya menatap keluarganya lemah. "Maafin Regina yang telah mengecewakan kalian!" ucap gadis itu dengan suara yang terputus-putus, lalu gadis itu memejamkan matanya kembali.
"Sayang ... Bertahanlah! Daddy akan membawamu ke rumah sakit!" Ryan mengambil tubuh Regina dari Rani, lalu menggendongnya, membawa gadis itu ke rumah sakit.
__________
Seluruh keluarga Galaxy, Cassilas dan Sunation pun datang menjenguk Regina, tak terkecuali Brata yang masih malu untuk menampakkan wajahnya, ia belum sanggup melihat wajah keluarga gadis itu karena ia merasa bersalah telah menyeret Regina ke dalam urusan rumah tangganya yang rumit.
Brata seakan kehilangan dunianya saat mendapat kabar bahwa orang yang dicintai itu terbaring tak berdaya.
Pria itu menyadari perasaannya, hatinya tak bisa ia pungkiri lagi bahwa ia sangat mencintai gadis itu.
Dengan seiiring berjalannya waktu, dan karena seringnya kebersamaan, ia sangat merasa kehilangan saat tak melihat wajah Regina meskipun sesaat. Bahkan ia lebih sakit dibandingkan meninggalkan Keyla saat mendengar gadis itu koma.
Brata melangkah lunglai, ia menyusuri koridor rumah sakit dengan tatapan kosong. Ia hanya berdiri mematung saat melihat semua orang menunggu gadis tersebut di depan ruangannya dan masuk saling bergantian.
Ia menahan diri untuk tak menemui gadis itu. Namun, jiwanya seakan sudah ada di samping gadis yang menjadi tambatan hatinya.
Sementara Rani ambruk karena tidak kuat menahan kesedihan yang ia hadapi. Wanita paruh baya itu terbayang akan kemungkinan-kemunhkinan buruk yang akan menimpa putrinya hingga ia jatuh pingsan, Ryan pun membawa sang istri pada ruangan lain hingga gadis itu sendiri di ruag ICU.
Brata pun mendekati Ruangan Regina setelah melihat ruangan itu sepi. Ia membuka ruangan Regina dan melangkah mendekati gadis pujaannya tersebut.
Ia meneteskan air mata saat melihat orang yang selalu menghiburnya dengan puisi-puisi konyol kini lemah dan terbaring tak berdaya.
Brata duduk di samping gadis itu, ia tersenyum dengan air mata yang tidak bisa ia bendung, ia menangis terisak-isak karena tidak mampu menahan kesedihannya.
Ia juga tidak tega melihat keadaan Regina dengan kepala yang di perban dan tubuh yang dipenuhi dengan alat-alat medis.
Ia mengambil tangan Regina, lalu mencium telapak tangannya lamat-lamat. Lalu, ia membelai pipi wanita itu dengan air matanya yang terus mengalir deras.
"Kamu pernah bilang padaku bahwa apapun yang terjadi kamu akan tetap mencintaiku, dan kamu juga pernah bilang padaku bahwa seandainya aku punya istri, maka kau akan menjadi pelakor yang tangguh."
"Tapi apa yang aku lihat? Apakah ini yang kau katakan pelakor tangguh? Kamu lemah, kamu terlalu lemah, Re!" ucap Brata dengan tangis yang terisak-isak.
__ADS_1
"Aku mohon, bangunlah untukku! Kamu pernah bilang padaku bahwa kau ingin mengucapkan kata 'I love you' bukan?" tanya Brata dengan tangisan pilunya.
"Maka bangunlah, aku akan katakan ribuan kali asalkan kau membuka mata, dan tersenyum lagi padaku!" ucap Brata yang terus mengajak Regina berbicara.
Tanpa Brata sadari, Regina meneteskan air matanya. Sementara pria itu menenggelamkan wajahnya pada tangan yang bertumpu pada pinggiran ranjang gadis tersebut.
Brata mendongak kembali, lalu pria itu menghapus air matanya sambil tersenyum dengan menatap orang yang dicintainya tersebut.
"I love you, Regina Ryan Atmaja."
Tes
Setitik air mata Regina menetes kembali hingga membuat Brata yang melihatnya juga tidak bisa berpura-pura tegar, pria itu ikut mengeluarkan cairan bening seraya menghapus air mata gadis yang dicintainya tersebut.
"Aku mencintaimu, Regina! Aku sangat mencintaimu!" ucap Brata dengan isakan tangisnya.
Tanpa Brata sadari ada seseorang yang menyaksikan itu, dan mengepalkan kedua tangannya.
"Ngapain kau ada di sini?" Putri melangkah mendekati Brata seraya menatap pria itu tajam.
Brata pun langsung berdiri karena terkejut. "Putri!" ucap pria itu.
"Ikut aku!" Putri menarik pergelangan pria itu, dan membawanya menjauh dari ruangan adiknya tersebut.
"Apa maumu?" tanya Putri tajam saat ia dan Brata berada di depan ruangan Regina.
"Please ... izinkan aku menemaninya, Put!" ucap Brata memohon.
"Kamu lihat sekarang! Kamu lihat! Adikku mengalami semua itu karena kamu tau nggak!" teriak Putri menyalahkan Brata.
Jedduarrr ....
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1