Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Devan dan Catherine


__ADS_3

"Aku ingin menikahi orang yang menjadi pilihan Devan Dad, Mom! Aku harap kalian merestuinya!" ucap Devan tanpa basa basi setelah makan malam.


"Kapan kita akan melamarnya?" tanya Brian datar.


"Aku akan menikahinya sekarang juga! Devan harap kalian ikut Devan ke rumah sakit sekarang!"


"Ke rumah sakit?" tanya Gracia bingung. Berbeda dengan Gracia, Brian tidak terlihat terkejut mendengar jawaban itu.


"Sebesar itukah, cintamu padanya?" tanya Brian menatap Devan datar.


"Melebihi itu, Dad!" jawab Devan membalas tatapan Brian.


"Kenapa harus di rumah sakit?" tanya Gracia lagi.


"Calon istri Devan kecelakaan saat acara pertunangan Devan dan Putri," Mom!" jawab Brian datar.


"Apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Gracia.


"Sudahlah, Mom! Sekarang kita langsung ke rumah sakit!" ajak Devan tanpa basa-basi.


"Baiklah, ayo Dad!" ajak Gracia pada Brian.


"Hm ... !" jawab Brian datar.


"Kalau begitu kita langsung berangkat saja!" ajak Devan.


"Aku ganti baju sebentar, mommy nggak mungkin pake baju kotor seperti ini!" ucap Gracia tersenyum.


"Devan berangkat duluan, Mom!" ucap Devan seraya beranjak.


Gracia mengangguk dengan senyum lembutnya. Lalu pria itu melangkah menuju pintu keluar, sementara Garacia langsung bergegas mengganti baju.


_


_


_


Kini dua keluarga itu sudah berkumpul di ruangan Catherine. Tak lupa pula penghulu yang sudah siap menikahkan Devan dan wanita itu.


"Apakah kamu yakin untuk menikahi putriku, Nak?" tanya Puja.


"Jika aku tidak yakin, aku tidak akan membawa orang tuaku dan minta restunya Tante!" jawab Puja.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Penghulu.


"Siap!" jawab Devan yakin.


Penghulu mengulurkan tangannya pada Devan dan Devan pun menjabat tangan sang penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim ... Saya nikahkan dan kawinkan Engkau, Devano Brian Galaxy dengan Prita Catherine Sunation binti Louis Sunation dengan maskawin Emas seberat 80g dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Prita Catherine Sunation binti Louis Sunation dengan Maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Devan.


"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu.


"Sah ... " Baik Gracia mau pun Puja meneteskan air mata melihat anaknya telah memiliki pendamping hidup.


Devan menyematkan cincin yang sudah ia siapkan untuk Catherine sejak lama. Pria itu mencium tangan istrinya, lalu beralih mencium kening wanita tersebut.


Devan merasa ada yang aneh dengan wanita itu, ia melihat tangan Catherine, mungkinkah tangan wanita itu benar bergerak? Devan mencoba melihatnya.


Ternyata apa yang di rasakan pria itu adalah kenyataan, bahwa Catherine menggerakkan jari jemarinya perlahan, lalu membuka matanya.


Seluruh orang di ruangan tersebut terkejut melihat reaksi perkembangan Catherine. Mereka semua tak mengira bahwa wanita itu akan kembali sadar karena dokter pun sudah mulai merasa putus asa dengan kesembuhan wanita itu.


"Sayang," panggil Devan. Pria itu mencium kening istrinya kembali setelah melihat istrinya sadar dari koma.


"Sayang, kamu sudah sadar, Nak?" tanya Puja tersenyum lembut.


"Mommy!" ucapnya membalas senyuman Puja.


"Iya, Nak! Ini mommy!" jawab Puja dengan wajah haru.


"Daddy!" panggil puja pada Louis dengan senyum lemahnya.


"Apakah kau mengenal Kakak?" tanya Brata tersenyum. Pria itu duduk di samping Devan. Sementara Louis dan Puja duduk di samping yang satunya lagi.


"Kak Brata?" jawab Catherine tersenyum.


"Kalau dia, masihkah kau ingat padanya?" tanya Brata seraya menepuk bahu Devan. Sementara Devan hanya tersenyum mendengar candaan kakak iparnya.


"Dia siapa?" tanya Catherine yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...

__ADS_1


Sambil Nunggu Othor update mungkin ada yang berkenan mampir ke karya teman Othor yang tak kalah kerennya 🥰


Berikut Cover sekaligus cuplikan Babnya


👇👇👇 Kepoin yuk!!!



Kamar di dominasi warna pink dan putih terlihat sangat feminim, bisa ditebak siapa yang akan menempati kamar itu nantinya. Dari arah samping berhadapan dengan pintu yang terbuka, seorang bocah berumur 10 tahun meringsek paksa, masuk dan meneliti seisi ruangan ditengah sibuknya orang-orang yang membenahi kamar tersebut.


Tirai kain, lemari dan beberapa kotak yang entah isinya apa, tergeletak berhamburan memenuhi kamar yang ukurannya tidak terlalu besar.


Bocah itu mengedarkan pandangannya, meneliti dan menilai seisi ruangannya. "Mama... Mama," panggilnya memilin ujung baju sang Ibu yang duduk dipinggiran ranjang, sibuk memasukkan gelang pengait untuk tirai yang akan dipasang.


Wanita itu mengalihkan pandangannya dan melepas tangan sang anak yang menarik bajunya. "Kenapa?" tanya Nisa.


"Ma.. kenapa kamarnya tidak ada foto kita, aku mau dindingnya harus penuh dengan foto Angga, Mama, Papa, dan Adik," protes bocah itu menunjuk perut buncit sang Ibu. Nisa pun dibuat tersenyum dengan permintaan sang anak.


"Tentu Boy, tapi tunggu setelah kamarnya selesai direnovasi, mengerti?" sahut Dimas mendahului, ia duduk di samping istri dan mengelus pelan rambut sang anak yang berdiri tepat di depannya.


"Benarkah, harus yang banyak Papa, aku mau fotonya yang besar, foto Angga sedang memeluk Mama dan Adik," pinta bocah itu berbinar gembira.


Sedari Angga masih berumur 7 tahun dan bersekolah kelas 1 SD, bocah itu selalu merengek saat berangkat melalui TK yang tak jauh dari sekolah nya berada, dan beberapa teman sebangkunya sering mengantar sang adik ditemani sang Ibu.


Angga pun sama, ia menginginkan saat-saat berangkat sekolah bisa berbarengan dengan sang adik. Adik yang bisa menemani ia bermain dan selalu ada dimasa-masa pertumbuhannya.


"Iya," sahut Nisa dan Dimas menarik lengan Angga membawa kedalam pelukan hangat.


Para pekerja Art yang berada satu ruangan dengan majikannya itu, tidak heran lagi dengan keharmonisan keluarga Prayoga. Mengingat Dimas adalah anak majikannya yang terdahulu, Pak Yoga Dinata dan Ibu Andina Rajendra, yang terkenal baik dan ramah begitu pula dengan anak-anaknya.


***


Satu minggu berlalu, hari-hari Angga selalu ia habiskan dikamar yang nantinya akan ditempati sang adik. Bahkan Angga sampai tidur dikamar itu saking tidak sabaran menunggu malaikat kecilnya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Nisa dengan perut buncitnya berjalan tergopoh, dirasa semakin hari perutnya semakin turun dan membuat ia susah berjalan. Dengan perlahan dan tangan yang menyangga bawah perutnya, Nisa menghampiri sang anak.


Dielusnya rambut hitam nan lebat, mengusik dangan kelembutan seraya membangunkan sang putra. "Sayang, bangun. Sudah pagi lho! Nanti sekolahnya telat!" bisik Nisa pelan.


Dikecupnya kening buah cinta pertamanya dengan Dimas. Anggara Mahesa Prayoga.


Angga menggeliat, merenggangkan otot-ototnya yang lemas, ditambah silaunya cahaya yang menembus jendela kaca dan suara lembut mengalun, membuat ia sadar. "Pagi, Mama." Angga memeluk tubuh berisi sang Ibu yang menyingkap tirai jendela.


"Ayo, Angga mandi, setelah itu sarapan, Mama tunggu dibawah!" perintah Nisa diangguki Angga patuh.

__ADS_1


__ADS_2