
"Gina ... " teriak Regita yang tidak tahu kalau saudara kembarnya sedang bersama Brata dan Arnold.
"Gi ... na ...! Yuhu ... !" Regita melangkah seraya berjalan layaknya laki-laki, tak lupa pula gadis itu bersiul sampai Regina pun menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh saudara kembarnya tersebut.
"Kamu sangat cantik saat bersiul seperti itu, Sayang. Aku sangat menyukainya!" ucap Arnold tersenyum seraya menatap Regita yang masih berjalan menuju tangga untuk menemui saudara kembarnya.
Regita pun mengehentikan langkahnya dan menoleh, menatap arah suara yang sangat familiar baginya.
Gadis itu terkejut saat melihat ke arah ruang tamu karena Brata dan Regina menatapnya tanpa ekspresi, sementara Arnold menatap dengan senyum yang mengembang.
Gadis itu balik badan seraya menggaruk-garuk pangkal kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum garing karena merasa malu akan tingkahnya membuat Brata dengan Regina tercengang.
"Eh, ada kalian juga!" ucap Regita yang kemudian langsung duduk di samping Brata dan merangkul pundak pria itu.
"Gita, apa-apaan kamu?" Arnold menatap wanita itu tajam.
"Memangnya kenapa? Aku dan Brata kan sama-sama jomblo, iya 'kan?" tanya Regina menoleh hingga wajah mereka sangat dekat.
Regita pun mengerlingkan sebelah matanya pada pria itu. Brata yang mengerti dengan kode gadis itu, ia langsung tersenyum dan memegang pinggang gadis itu hingga membuat Arnold dan Regina menatap keduanya tajam.
Arnold dan Regina langsung beranjak dan menarik pasangan mereka masing-masing. Jika Arnold menarik hidung Regita, maka Regina menarik telinga Brata hingga keduanya mengaduh kesakitan.
_
_
_
Beberapa hari kemudian.
Kini Brata mengajak Regina makan malam di Restoran, dan ia pun tidak memesan ruangan VIP seperti biasanya.
"Sayang ... aku ingin pulang ke London, maukah kau ikut denganku?" tanya Brata menatap kekasihnya penuh cinta.
"Untuk apa?" tanya Regina yang menatap pria itu intens.
Brata tersenyum. "Aku ingin meminta restu pada keluargaku, termasuk kakakku!" ucap Brata dengan tatapan lembutnya.
Regina menghela nafas. "Memangnya kamu yakin dengan hubungan kita?" tanya Regina memastikan.
"Kenapa harus ragu? Apakah penantianku selama 7 tahun ini masih membuatmu ragu akan cintaku?" tanya Brata menatap mata Regina intens.
"Tidak, bukan seperti itu! Aku hanya tidak yakin kalau keluargamu akan menyetujui hubungan kita! Aku hanyalah seorang pelakor dan tidak pantas bersanding denganmu!" ucap Regina seraya mengalihkan tatapannya dari Brata.
"Tidak, jangan katakan seperti itu! Kau bukan pelakor, kami bercerai bukan karenamu, tapi kami tidak menemukan kecocokan dalam rumah tangga kami. Sekalipun kau tidak hadir dalam hidupku, kami akan tetap bercerai, karena kami memang tidak jodoh!" ucap Brata lembut.
"Hey, tatap mataku!" Brata menarik kepala gadis itu hingga mata keduanya bertemu dan saling menatap dalam.
"Percayalah padaku, keluargaku akan merestui kita, sekalipun tidak, aku akan memaksanya hingga mereka merestui hubungan kita!" ucap Brata tersenyum.
"Yang aku khawatirkan kalau keluargamu yang tidak akan merestui kita, karena aku seorang duda!" ucap Brata tersenyum.
Deg
Perkataan Brata mengingatkan dengan ucapan-ucapan keluarganya pada gadis itu, orang tua dan kakak sulungnya pun rela pindah ke Paris hanya untuk menutupi kebenaran tentang pria yang ia cintai.
__ADS_1
"Jika seandainya benar Keluargaku tidak merestui hubungan kita, apakah kita akan menyerah?" tanya Regina tersenyum kaku.
Brata menatap Regina intens, menatapnya dalam dan penuh cinta. "Tidak, aku tidak akan menyerah!"
"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuamu sampai aku bisa!" ucap Pria itu.
"Benarkah?" tanya Regina tersenyum.
"Iya!"
"Kalau begitu, aku mau ikut denganmu ke London dan memperjuangkan restu dari kedua orang tua kita!" ucap Regina.
"Terima kasih, Sayang!" Brata menarik kepala Regina dalam pelukannya.
Regina pun membalas pelukan pria itu dengan senyum yang mengembang dan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Regina memejamkan matanya menikmati pelukan pria yang dicintainya tersebut. "Aku harap cinta kita tidak terpisah kembali, Kak! Kau segalanya, kau hidupku dan kau nyawaku!" ucap Regina seiring air mata haru yang membasahi kemeja pria tersebut.
Brata pun merenggangkan pelukannya dan menatap wajah gadis itu. "Hey, kenapa menangis? Apakah pelukanku terlalu erat hingga membuat tubuhmu sakit?" tanya Brata dengan wajah khawatir.
Regina menggeleng dengan senyum yang mengembang. "Aku bahagia, Kak! Aku sangat bahagia! Aku pikir kakak tidak akan pernah bisa kugapai sampai kapanpun, tapi saat ini aku bisa merasakan cinta kakak yang begitu tulus," ucap Regina dengan tangisan harunya.
Brata membelai rambut gadis itu dan menatapnya penuh cinta. "Kamu tahu nggak Re! Senyuman di bibirmu itu selalu tersimpan dalam relung hatiku yang terdalam, dan tidak akan ada yang bisa menggantikan itu!" ucap Brata.
"Re, aku merindukan puisimu! Maukah kau berpuisi di sana untukku?" Brata menunjukkan sebuah pentas di restoran itu dan mengulurkan tangannya pada pentas tersebut.
"Aku lama tidak berpuisi, Kak! Di Paris aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan bernyanyi!" ucap Regina tersenyum.
"Kalau begitu, kamu nyanyi untukku saja! Selama ini kau tidak pernah menyanyi di depanku! Aku ingin mendengarkan suaramu saat bernyanyi." Brata menantang wanita itu.
"Bagaimana pun suaramu! Aku akan tetap senang mendengarnya," ucap Pria itu yakin.
Regina pun menghela nafasnya, lalu memejamkan mata. "Baiklah, Kak!" jawab Regina pasrah.
Regina beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pentas.
Gadis itu pun berdehem untuk menetralkan suaranya, dan jantungnya pun berdegup tak karuan. Ia pun mengambil mikropon dan menatap Brata penuh cinta.
"Lagu ini ku persembahkan untuk orang yang sangat kucintai. Dengan judul lagu 'Pesan dari hati," ucap Regina tersenyum.
...****************...
...Tatapan mata itu terasa begitu dalam...
...Seakan-akan menyentuh jantung hatiku...
...Apakah ini satu isyarat sebuah pesan dari hatimu?...
...ungkapan rasa cinta engkau pendam ......
...Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita...
...hentikanlah kebisuan membohongi kita...
...biar hati yang berjanji dia tak mungkin bisa berdusta...
__ADS_1
...tentang rasa cinta kita tulus dari hati ......
^^^Senyuman di bibirmu selalu tersimpan di hati^^^
...Seakan-akan menyentuh mesra jiwaku......
...Apakah ini satu isyarat sebuah pesan dari hatimu?...
...ungkapan rasa cinta engkau pendam ......
...Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita...
...hentikanlah kebisuan membohongi kita...
...biar hati yang berjanji dia tak mungkin bisa berdusta ......
...tentang rasa cinta kita tulus dari hati......
...Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita...
...hentikanlah kebisuan membohongi kita...
...Biar hati yang berjanji dia tidak mungkin bisa berdusta...
...tentang rasa cinta kita tulus dari hati ......
...Cinta kita selalu jadi milik kita berdua...
...untuk selamanya ......
...Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita...
...hentikanlah kebisuan membohongi kita...
...biar hati yang berjanji dia tak mungkin bisa berdusta ......
...tentang rasa cinta kita tulus dari hati......
(Cover lagu : Laras)
...****************...
Suara tepuk tangan pun bergemuruh setelah Regina membawakan lagu itu, sementara Brata tak hentinya mengembangkan senyum dan melangkah mendekati gadis itu seraya membawa sebuket bunga mawar merah yang ia pesan melewati pemilik restoran tersebut. ia menuju pentas dengan Regina yang menatap langkah Brata yang mendekat ke arahnya.
"Ini untukmu!" ucap Brata menyerahkan buket bunga mawar merah yang dipegangnya.
"Terima kasih, Sayang! Suaramu begitu merdu!" ucap Brata.
"Di hadapan orang banyak, aku ingin mereka menyaksikan tentang lamaranku!"
Brata pun mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu bertekuk lutut di hadapan wanita itu dan membuka kotak beludru warna merah hingga membuat Regina mengembangkan senyumnya dengan rasa bahagia yang membuncah.
"Will you marry me?"
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC...