
"Sayang, apakah kau sudah siap untuk menjadi istriku yang seutuhnya?" tanya Brata menatap Regina penuh cinta.
Regina menundukkan kepalanya, wanita itu memejamkan mata karena merasa takut untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yang ada dalam pikiran wanita hanyalah bersama Brata, tidak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk melakukan hubungan suami istri.
Brata mulai membuka gaun pengantin sang istri, hingga akhirnya wanita itu hanya menggunakan pakaian dalam. Regina yang belum terbiasa dengan perlakuan seperti itu akhirnya memejamkan mata dan melepaskan tangan Brata yang sudah memegang pundaknya.
"Tidak, Kak! Aku takut …!" teriak Regina seraya lari dari suaminya.
"Sayang kamu mau kemana?" Brata mengejar istrinya yang lari menuju ranjang.
Regina terus lari hingga akhirnya pasangan suami istri itu kejar-kejaran seraya turun naik di ranjang pengantin, karena Regina terus berusaha melarikan diri dari suaminya tersebut.
"Sayang, stop! Lihat kamar kita!" teriak Brata seraya memegang lututnya dengan nafas yang tersengal-sengal karena mengejar sang istri yang lari sambil mengambil barang-barang di kamar itu untuk menghalangi Brata.
Regina pun menghentikan aksinya, lalu menatap keadaan kamar tersebut. Sementara Brata akhirnya menyerah dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan kaki yang terjuntai ke bawah.
Regina pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, wanita itu tersenyum cengengesan seraya menatap suaminya penuh dengan perasaan bersalah.
"Jangan malam ini ya, Kak?" Regina melangkahkan kakinya mendekati sang suami dengan perasaan ragu.
__ADS_1
Brata pun membaringkan tubuhnya seraya membelakangi sang istri yang mendekat ke arahnya, sedangkan Regina semakin dipenuhi dengan perasaan bersalah karena ia telah menghindari Brata hingga membuat suaminya kelelahan karena tingkahnya yang konyol.
Regina pun duduk di pinggiran tempat tidur dengan Brata yang masih tidur membelakangi. "Maafin aku, Kak!" Ragina menyentuh lengan Brata dengan suara yang tercekat.
Namun, tidak ada tanggapan dari pria tersebut. "Kakak … !" panggilnya dengan mata yang mengembun.
Sementara Brata menahan tawanya, ia sangat tahu karakter istrinya tersebut, jika ia semakin mendesak sang istri, maka wanita itu semakin menjauh, dan sebaliknya, jika Brata menjauh, maka iya yakin, bahwa istrinya tersebut akan mendekat.
"Kakak … !" rengek Regina seraya menarik lengan Brata agar pria itu menghadapnya.
Akan tetapi, pria itu tetap pada posisinya hingga membuat wanita itu kesal dan langsung menarik tubuh Brata kasar, lalu melumt bibir Brata tanpa permisi.
Akan tetapi, sebelum ciuman itu terlepas sepenuhnya, Brata membalasnya lebih buas hingga Regina sesak dan tidak bisa bernafas.
Regina pun mendorong tubuh Brata hingga pria itu terjengkang jatuh dari tempat tidur. Wanita itu mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan tidak menyadari keadaan sang suami yang kesakitan karena perbuatannya.
"Regina … !" teriak Brata penuh kekesalan.
Seketika wanita itu menutup telinga karena suara Brata yang memenuhi kamar tersebut.
"Maaf, Kak! Gina nggak sengaja karena Gina tidak bisa bernafas!" ucap Wanita itu dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik kita tidur saja! Aku sudah kehilangan tenaga karenamu!" ucap Brata penuh kekesalan.
"Kak … !"
"Stop, Re! Aku tidak ingin tambah emosi!" sentak Brata.
"Ya sudah, kalau begitu kita ciuman di lantai aja, biar Kakak aman dan tidak akan jatuh dari ranjang jika aku dorong!" ajak Regina antusias.
"Tidur!" titah Brata kesal.
"Iya, Kak! Iya!" ucap Regina seraya memanyunkan bibirnya. Lalu, ia menyelimuti seluruh tubuhnya untuk menghindari tatapan sang suami yang membuatnya ketakutan.
"Ternyata kau masih tetap sama seperti yang dulu, Sayang! Aku merindukan tingkahmu yang seperti ini!" ucap Brata setelah mendengar nafas istrinya teratur.
Dan pada malam pertamanya mereka menghabiskan waktu hanya dengan tidur, keduanya tidak melakukan hal lebih karena tingkah aneh Regina.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
... TBC ...
__ADS_1