
Catherine yang ingatannya kembali pulih langsung menatap mata Devan dengan air mata mengembun. Wanita itu langsung memeluk tubuh Pria itu erat.
"Benarkah kau telah menjadi suamiku, sekarang?" tanya Catherine yang terisak-isak. Devan mencoba melepaskan pelukan Catherine, ia ingin menatap wajah istrinya. Namun, Catherine semakin mengeratkan pelukannya hingga pria itu memilih diam dan mendengarkan ucapan sang istri.
"Aku tidak bermimpi 'kan?" tanya Catherine lagi dengan tangisan pilunya. Devan mengangkat tangannya, lalu membalas pelukan wanita itu.
"Kau mengingatku?" tanya Devan dengan senyum yang mengembang.
"Iya! Aku mengingatmu, Dev!" ucap Catherine seraya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang berderai.
"Kamu selingkuhanku yang sangat kucintai dan aku tidak sanggup jika harus jauh denganmu, apalagi kehilanganmu!" ucap Catherine.
"Aku tidak percaya kalau kau sudah menjadi suamiku, kau tidak bercanda 'kan?" tanya Catherine seraya melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Devan dengan tangisan harunya.
"Kenapa kau tidak percaya? Bukankah kau sudah melihat kenyataannya?" tanya Devan dengan senyum yang mengembang.
"Kenapa kita bisa menikah, Dev? Bukankah kau sudah bertunangan dengan Nona Putri? tanya Catherine bingung.
"Tidak, aku tidak bertunangan dengannya!" ucap Devan.
"Tapi waktu itu ... "
"Kau tidak menunggu acaranya sampai selesai." Devan memotong ucapan wanita itu.
"Memangnya apa yang terjadi di acara itu?" tanya Catherine dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Putri bertunangan dengan Roy dan sebulan lagi pernikahan mereka akan di gelar!" jawab Devan tersenyum.
"Benarkah?" tanya Catherine tidak percaya.
"Kenapa aku harus bohong, kita tidak mungkin menikah, karena dia sudah ku anggap sebagai adikku sendiri!" ucap Devan.
"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Dev!" ucap Catherine seraya memeluk Devan kembali.
Devan pun mengangkat tangannya, membalas pelukan Istrinya tersebut.
"*Aku baik, tapi kebaikanku tidak akan pernah bisa menebus dosaku padamu, aku lah yang menyebabkan penderitaanmu selama ini!" batin Devan.
💦💦💦*
"Oh, ya! Kenapa kamu bisa pingsan di kamar mandi tadi?" tanya Devan lembut.
"Entahlah, aku mengingat sesuatu tentangmu. Aku terus berusaha mengembalikan memoryku yang hilang hingga akhirnya aku kesakitan sampai aku tidak tau apa yang terjadi padaku!" jawab Catherine.
"Sekarang istirahatlah! Kamu harus cepat sembuh agar kita bisa mengulang sesuatu yang pernah terjadi di antara kita!" ucap Devan.
"Maksudnya?" tanya Catherine bingung.
"Tidak ada maksud apa-apa! Cepatlah tidur, jangan terlalu banyak berpikir!" titah Devan.
"Jika kau tidak mau tidur, maka aku akan meminta hakku sebagai seorang suami sekarang juga!" ancam Devan.
Catherine melebarkan mulutnya, ia tidak percaya bahwa suaminya tersebut bisa mengatakan hal seperti itu. Catherine pun langsung tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Jangan lupa pakai baju! Kalau tidak, nanti aku bisa khilaf karena melihat tubuh polosmu!" ucap Devan seraya meletakkan baju ganti Catherine di sisi istrinya. Lalu, pria itu melangkah meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
"Dasar mesum!" umpat Catherine.
Wanita itu bangun seraya memanyunkan bibirnya setelah bayangan Devan menghilang di balik pintu kamar.
_
_
_
Satu Minggu kemudian.
Catherine pun sudah pulih, meskipun wanita itu masih belum bisa melangkah terlalu cepat layaknya orang sehat.
"Antar aku ke kantor suamiku!" perintah Catharine pada salah seorang Bodyguard yang ditugaskan untuk menjaganya.
"Sebentar Nona!" Bodyguard tersebut mengambil ponselnya untuk menghubungi Devan.
Namun, Catherine langsung merampas ponsel Bodyguard tersebut, melarangnya untuk menghubungi suaminya.
"Nona!" ucap sang Bodyguard.
"Kau tidak perlu menghubungi Devan. Jika kalian memberi tahu kedatanganku maka namanya bukan kejutan lagi," ucap Catherine kesal.
"Tapi, Nona ... !"
"Tidak ada tapi-tapian! Atau mau kalian kupecat, dan aku tidak mau dijaga kalian lagi!" ancam Catherine.
"Baik, Nona!" ucap Bodyguard yang bertugas menjaga Catherine.
"Baik, Nona!" ucap Bodyguard tersebut seraya membungkukkan sedikit badannya.
Catherine pun menaiki mobil pribadinya dan diantar sopir dengan bodyguard itu di samping sopir tersebut.
______
Sesampainya di kantor Devan, ia menghentikan langkah bodyguard tersebut. Menyuruhnya untuk menunggunya di mobil itu, karena Catherine hanya ingin berdua dengan Devan tanpa ada seorang pun yang berani mengganggunya.
Sesampainya di depan ruangan Devan, wanita itu dicegah oleh seseorang. "Berhenti!" cegah seorang wanita yang berdiri menghalangi langkah Catherine.
"Iya, kenapa?" tanya Catherine tersenyum lembut.
"Anda siapa?" tanya wanita itu seraya menatap Catherine dari atas hingga bawah.
"Kamu jangan ngaku-ngaku! Sudah banyak wanita sepertimu mengaku-ngaku menjadi istri Tuan Devan." Wanita itu menatap Catherine sinis.
"Ini buktinya!" ucap Catherine memperlihatkan cincin pernikahannya dengan Devan.
"Ha ha ha ... " tawa wanita itu pecah saat mendengarkan ucapan Catherine.
"Kalau cuma cincin aku juga punya, apa dengan memakai cincin seperti ini aku berarti sudah menikah dengan Tuan Devan?" tanya wanita tersebut.
Catherine memilih diam, dia hendak membuka pintu ruangan Devan karena lelah meladeni wanita yang menurutnya gila. Akan tetapi, wanita itu justru mengambil kotak makanan Catherine dan membuangnya hingga makanan itu berserakan di lantai.
"Uft ... !" ucap wanita itu sengaja.
__ADS_1
"Lancang kamu!" teriak Catherine dengan wajah merah padam.
"Ha ha ha ... " Wanita itu menertawakan Catherine yang menatapnya tajam.
"Kamu siapa sih?" tanya Catherine dengan wajah kesalnya.
"Aku ini pengganti Tuan Roy selama dia masih dalam masa cuti!" ucap wanita itu bangga.
"Owh ... jadi kamu hanya pengganti Roy? Aku pikir kamu siapa karena telah berani menghinaku!" ucap Catherine sinis.
"Apa kamu bilang? Kamu pikir aku percaya kalau kamu itu istri Tuan Devan? Tidak! Aku tidak percaya. Makanan yang mau dikasih ke Tuan Devan aja makanan kampung seperti itu!" ucap wanita itu menghina.
"Kenapa kamu yang menilai hasil masakanku? Aku membuatnya dengan penuh cinta dan kasih karena aku ingin makan siang dengan suamiku tapi kau malah menghancurkan rencanaku! Seharusnya kau jangan buang makanan ini meskipun kau tidak menyukaiku!" teriak Catherine dengan wajah penuh kekesalan.
"Makanan kampung aja sok soan mau ngantar makanan, malu-maluin aja!" ucap wanita itu sambil bersedekap dada.
"Stop! Aku sudah bosen mendengar ocehanmu!" teriak Catherine seraya membereskan makanan-makanan yang berserakan di lantai.
"Scurity!" panggil Wanita itu.
"Keterlaluan kamu! Awas aja, aku aduin kelakuan kamu ke suamiku!" ancam Catherine.
"Kamu pikir aku takut?"
Catherine hendak mendorong pintu ruangan Devan. Namun, sebelum pintunya terbuka tiba-tiba wanita itu menarik tangan Catherine dan menamparnya hingga Catherine jatuh tersungkur karena keadaan wanita itu masih lemah.
"Devan ... !" teriak Catherine seraya mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Scurity bawa dia!" titah wanita itu saat melihat dua orang scurity yang tiba-tiba datang.
Di tempat itu sepi karena di lantai itu hanya untuk ruangan Presdir.
"Devan ... !" teriak Catherine kembali saat wanita itu di bawa paksa oleh kedua scurity kantor atas perintah wanita itu.
"Lepaskan!"
Suara bariton yang menggelegar di lantai itu mengagetkan semua orang yang ada di sana termasuk dua scurity yang membawa paksa Catherine menuju lift.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Karena bulan sebelumnya nggak ada Top Fans sama sekali, jadi Give Awaynya ditunda bulan depan.
Kalau bulan depan sudah pasti ada, karena sudah ada satu orang yang menjadi Top Fans di karya Othor hari ini.
Thank you atas dukungan kalian ❤️
Love you All 🥰
Maaf jika masih banyak Typo, jangan pernah sungkan untuk menegurnya, karena teguran kalian akan memperbaiki karya Othor 🥰
Terima kasih sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian, love you 😘
__ADS_1