Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Maukah kau menikah denganku?


__ADS_3

"Kau tenang saja! Jika kau tidak nyaman dengan keberadaan Selena, dia sudah tidak ada di antara kita, karena dia sudah mengikhlaskan hubungan kita, kau tidak akan tersakiti dengan melihat keberadaannya!" ucap Roy tersenyum lembut.


Seketika tangisan Putri terhenti mendengar ucapan pria itu. "Apakah benar Selena sudah mengikhlaskan hubungan kita?"


"Untuk apa aku berbohong? Aku hanya butuh waktu sebentar untuk menjelaskan tentang hubungan kita padanya, tapi kau terlanjur pergi dan menjauh dariku hingga aku harus menjemputmu ke Negara ini!" ucap Roy.


"Aku hanya tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kalian, aku hanya ingin menikah jika aku yakin jika pria itu mencintaiku, karena bagiku lebih baik tersakiti sebelum menikah dari pada tersakiti setelahnya!" ucap Putri datar.


"Aku akan buktikan jika aku hanya mencintaimu, tidak ada sedikitpun wanita lain selain dirimu! Baik wanita di masa lalu ataupun masa mendatang!" ucap Roy.


"Jangan pernah bilang seperti itu, kamu bukan Tuhan, tidak ada yang tau apa yang terjadi di masa depan kecuali Sang Maha Pencipta!" ucap Putri.


Roy merogoh saku celananya, lalu bertekuk lutut di hadapan wanita itu. "Di tempat yang paling kamu sukai, aku ingin melamarmu kembali. Aku mencintaimu, Putri! Maukah kau menikah denganku?" Roy membuka kotak beludru merah di depan gadis itu seraya menatap Putri dengan senyum lembutnya.


Putri diam mematung menatap pria yang dicintainya tersebut. Ia tidak menjawab iya atau pun tidak.


Setelah lama tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Roy berdiri kembali, lalu tersenyum. "Jika kau memang lebih bahagia bersama polisi itu, maka aku tidak punya hak untuk menghalangi kalian! Aku tidak akan memaksamu untuk kembali padaku jika dengan kita menikah, kau hanya akan merasa tersiksa!" ucap Roy tersenyum.


"Pergilah, temui dia! Aku akan kembali lagi ke Indonesia," ucap Roy seraya membelai pipi gadis itu.


Pria itu hendak berbalik dan pergi meninggalkan Putri. Namun, ucapan Putri mengehentikan langkahnya.


"Apakah hanya segitu rasa cintamu padaku?" tanya Putri menatap Roy yang hendak melangkah.


Pria itu tersenyum, lalu menatap gadis yang dicintainya tersebut. "Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan maafmu? Aku tahu aku salah, dan aku sudah mencoba untuk minta maaf. "


"Tapi jika kau tidak bisa memaafkanku dan lebih bahagia bersama orang lain, apa yang bisa kulakukan selain mengikhlaskan?" ucap Roy tersenyum lembut.


"Maksudmu apa? Kau menuduhku berselingkuh?" tanya Putri semakin emosi.


"Tidak, tapi kau mengajaknya ke negara ini, sementara kau tidak sedikitpun pamit padaku dan membatalkan pernikahan kita sepihak! Jadi menurutku kau lebih membutuhkannya daripada aku!" ucap Roy yang menahan kecemburuan di hatinya.


"Kamu keterlaluan, Roy! Kau yang menyakiti perasaanku lebih dulu, tapi sekarang kau malah menyalahkanku!" teriak Putri seraya beranjak ingin meninggalkan pria itu dengan emosi yang meledak-ledak karena tuduhan pria tersebut.


Akan tetapi, Roy langsung memeluknya erat dan tidak membiarkan gadis itu pergi. "Aku tidak mau lagi terjadi kesalahpahaman di antara kita, please kembalilah padaku dan lanjutkan pernikahan kita!" ucap Roy seraya memejamkan matanya.


"Apa kau yakin akan menikah denganku?" tanya Putri di pelukan pria itu.

__ADS_1


"Tidak ada sedikitpun keraguan, karena hatiku hanya milikmu!" ucap Roy tersenyum.


"Jika kau yakin, aku tidak punya alasan lagi untuk menolakmu, karena hatiku hanya milikmu!" ucap Putri menangis haru.


"Terima kasih, Tuan Putri!" ucap Roy dengan senyum yang mengembang. Pria itu melepaskan pelukannya dan mengusap air mata gadis itu.


Roy mengambil Cincin yang sengaja ia siapkan untuk Putri, lalu menyematkan cincin tersebut pada jari manis Putri.


Setelah itu, mereka berpelukan dengan begitu mesranya di kapal pesiar tersebut, membuat seseorang yang sedang melihat keduanya dari kejauhan ikut tersenyum menyaksikan semuanya.


_


_


_


"Selamat datang, Adik dan Adik Ipar!" ucap David tersenyum setelah melihat kedatangan Devan dan Catherine di mansion pria itu.


"Salam kenal Kak, namaku Catherine," ucap wanita itu seraya menatap Freya yang hanya tersenyum tipis. Lalu mengulurkan tangannya pada Freya.


"Silakan duduk!" Catherine melangkah terlebih dahulu menuju ruang tamu.


"Ayo ajak Istrimu ke ruang tamu, Dev!" ucap David seraya tersenyum lembut.


"Baik, Kak!" jawab Devan membalas senyuman kakaknya.


"Ayo Sayang!" ajak Devan seraya menarik tangan wanita itu. Catherine pun mengangguk, lalu mengikuti langkah suaminya tersebut.


David duduk dengan Freya di sampingnya, sementara Devan dan Catherine duduk di seberangnya.


"Sean mana, Kak? Aku hanya melihatnya waktu pas masih umur beberapa hari dulu, sekarang dia pasti sudah besar? Kalau pas kita VC dia lucu sekali," ucap Devan seraya celingukan.


"Dia tidur!" jawab Freya tersenyum tipis.


"Kalian kapan menyusulnya?" tanya David dengan senyum usilnya.


"Kakak tenang saja! Aku sudah membuatnya tiap malem, bahkan siang pun ... Auh ... !" Catherine menginjak kaki suaminya. Ia merasa malu sendiri karena ucapan Devan.

__ADS_1


"Apa sih, Sayang!" ucap Devan seraya menatap wajah Catherine kesal.


Sementara David tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan adiknya yang begitu blak-blakan.


"Kamu itu ngomongnya jujur banget sih, Dev! Tanpa kau jelaskan pun kami ngerti kok," ucap David dengan tawanya yang menggelegar di ruangan tersebut.


"Daddy ... !" panggil Freya seraya menatap suaminya dengan wajah datarnya.


"Iya, Sayang maaf! Habisnya Devan yang sekarang beda banget sama Devan yang dulu! Dia bisanya pendiam eh sekarang kayak gini!" ucap David dengan sisa-sisa tawanya.


"Terserah, Kakak! Dibandingkan dengan Kakak yang nggak ada perubahan sama sekali dari dulu!" ucap Devan menatap wajah kakaknya kesal.


"Untuk apa aku berubah, aku tidak akan pernah berubah seperti cintaku pada mommynya Sean, yang akan tetap abadi sampai di keabadian nanti!" ucap David menatap Freya dari samping, lalu mencium pipi wanita itu sekilas.


"Daddy ... !" panggil Freya seraya melirik suaminya tersebut.


"Kak David, di sini ada aku dan istriku! Kalau Kak David mau Mesra-mesraan sama Kakak ipar, lebih baik ke kamarnya saja!" ucap Devan menatap kakaknya kesal.


"Kenapa? Kamu tidak terima?" tanya Devan tersenyum usil.


"Kenapa tidak terima? Aku juga punya istri! Nih ... !" Devan mencium pipi Catherine juga mengikuti gaya kakaknya.


"Ha ha ha ... " Seketika tawa David pecah saat Devan mengikutinya.


"Kalian apa-apaan sih?" Freya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suami dan adik iparnya tersebut.


"Adik ipar, ayo ikut aku aja ke kamar Baby Sean! Biarkan mereka berdebat berdua!" ucap Freya seraya beranjak. Catherine pun mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo!" ajak Freya seraya menarik tangan Catherine. Catherine pun tersenyum seraya mengikuti langkah Kakak iparnya tersebut.


Sementara kedua pria itu tertawa terbahak-bahak melihat istrinya masing-masing yang terlihat kesal.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


.

__ADS_1


__ADS_2