
"Kalau begitu aku mau kembali ke dalam dulu sebelum istriku menyadari kalau aku tidak ada di sana!" ucap Devan seraya beranjak.
"Aku sudah menyadarinya dari tadi. Aku pikir kamu kemana?" Catherine tiba-tiba melangkah mendekati kedua pria tersebut.
"Sejak kapan kau di sini, Sayang?" tanya Devan dengan wajah terkejut, begitu pun dengan Brata yang tiba-tiba mendengar suara adiknya.
"Sejak tadi!" ucap Catherine yang duduk di antara kedua pria itu.
"Apa?" teriak Devan dan Brata bersamaan dan tepat di telinga wanita itu.
"Kalian kenapa?" tanya Catherine seraya menatap ke kanan dan ke kiri sambil menyumbat telinganya karena terkejut dengan teriakan suami dan kakaknya tersebut.
"Jadi kamu mendengar semuanya?" tanya Devan seraya memegang kepala istrinya supaya menatap mata pria itu.
"Iya aku denger! Kamu tadi bilang kalau kamu akan kembali ke dalam sebelum aku menyadari kalau kamu tidak ada di dekatku, iya 'kan?" tanya Catherine seraya mengerutkan kening.
"Terus, kamu mendengar apa lagi?" tanya Brata yang juga penasaran.
"Memangnya kalian bicara apa lagi?" tanya Catherine seraya menurunkan tangan Devan dan menatap kakaknya penuh tanya.
"Apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Catherine sambil menatap Kakak dan suaminya satu persatu.
"Tidak, kami tidak bicara apa-apa!" elak Devan.
"Yakin!" Catherine menuding pria itu dengan jari telunjuknya hingga membuat Devan terjengkit.
"Yakin. Kamu apaan sih, Sayang!" Devan menggenggam telunjuk istrinya seraya menurunkan jari wanita tersebut.
"Ya sudah, aku ke dalam duluan!" ucap Brata seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ya sudah sana! Aku masih mau di sini sebentar!" jawab pria itu.
"Tapi bagaimana dengan tamu-tamu kita, Sayang?" tanya gadis itu.
"Sudah Biarin saja! Lagi pula di dalam ada Mommy dan Daddy kita yang menyambut kedatangan mereka!" ucap Devan santai.
"Tapi, Sayang!"
"Nggak usah tapi-tapian lebih baik kamu geser ke sana!" ucap Devan seraya mendorong tubuh Catherine perlahan ke ujung kursi panjang itu. Lalu pria tersebut tidur di pangkuannya.
Brata pun meninggalkan tempat tersebut, ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan adik dan adik iparnya tersebut.
"Aku masih ingin melepaskan rinduku pada Baby kita!" ucap Devan yang mencium perut Catherine yang membuncit.
Pria itu mengelus perut istrinya perlahan, tiba-tiba Bayinya nendang-nendang hingga membuat Devan tertawa dan terus mengelus-elus perut buncit itu.
__ADS_1
Sementara Catherine membelai rambut Devan menikmati masa bahagianya bersama pria tersebut.
"Sayang, Baby kita ternyata juga merindukanku! Lihat saja dari tadi nendang-nendang terus!" ucap Devan yang tak hentinya menciumi perut Istrinya tersebut.
Catherine tersenyum mendengar ucapan sang suami. "Aku tidak tahu apa yang harus ku ucapkan untuk mengungkapkan rasa bahagiaku saat ini, Sayang!" ucap Catherine.
"Kau tidak perlu mengungkapkan apapun, karena aku juga merasakan hal yang sama!" ucap Pria itu.
"Terima kasih atas cintamu yang begi ... tu besar padaku, My Husband!" ucap Catherine tersenyum.
"Terima kasih juga karena kau telah sudi menajdi sumber kebahagiaanku, My Wife."
"Aku juga ingin berterima kasih atas hadiah ini yang tak 'kan bisa ku balas sampai kapanpun!" ucap Devan yang terus menciumi perut buncit istrinya tersebut.
"Aku sangat mencintaimu!" ucap Catherine.
"Aku juga mencintaimu melebihi cintamu padaku!" jawab Devan tersenyum.
"Gombal!" ucap Catherine seraya mencubit hidung pria tersebut.
"Bukan gombal, tapi itu kenyataan!" jawab Devan.
"Sudahlah, sudah cukup kita mainnya di sini! Kita kembali ke dalam, kita hargai mereka yang menyempatkan diri untuk menghadiri undangan kita!" ucap Catherine tersenyum.
"Baiklah! Aku tidak pernah salah memilih istri, meskipun aku mendapatkan dengan cara yang salah, tapi aku tidak pernah menyesalinya!" ucap Pria itu tersenyum.
Di tengah keramaian, Keyla menatap ke kanan dan ke kiri seraya melangkah untuk mencari suaminya. Namun, tanpa sengaja wanita itu menabrak Edward hingga tubuh wanita itu hampir jatuh jika Edward tidak menangkapnya.
Tanpa sengaja Brata melihat pemandangan itu, ia tersenyum seraya melangkahkan kakinya ke arah yang berbeda. Ia sengaja memberi keduanya ruang untuk berbicara.
Sepasang mantan kekasih yang masih saling masih mencintai itu saling tatap penuh kerinduan. Keduanya terdiam hingga Keyla menyadari bahwa ia berada di keramaian dan ia sadar bahwa yang ia cintai itu adalah kakak iparnya sendiri yang seharusnya ia lupakan.
Keyla mengalihkan tatapannya, lalu berdiri dan menjauhi pria tersebut. Edward pun hanya menatap langkah Keyla tanpa bisa mengejar wanita yang dicintainya tersebut.
Namun, Edward tetap melangkahkan kakinya ke arah taman dan tanpa sengaja wanita itu juga berada di taman tersebut.
Dengan langkah ragu Edward mendekati adik ipar sekaligus mantan kekasihnya tersebut, ia duduk di samping wanita itu yang masih memejamkan matanya dengan wajah yang menengadah ke arah bulan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Edward tersenyum.
Seketika Keyla menjauhkan tubuhnya karena terkejut. Ia menatap Edward dengan wajah tegang karena takut ada yang melihatnya dengan pria itu.
"Kenapa kamu terlihat tegang?" tanya Edward dengan senyum manisnya.
"Lebih baik kamu pergi sebelum ada yang melihat kita berduaan di sini!" ucap Keyla yang memalingkan wajahnya dari pria itu.
__ADS_1
"Apakah kau sudah bahagia?" tanya Edward yang masih menatap wanita itu.
"Itu bukan urusanmu, aku ingin kau pergi sekarang juga! Aku tidak ingin cinta ini akan semakin menghukumku lebih lama lagi!" ucap Keyla dengan air mata yang menerjang begitu saja.
Edward menghela nafas. "Aku mohon lupakan aku agar hatimu bisa tenang, dan bahagia bersama Brata!" ucap Edward.
"Mengucapkan itu memang mudah, tapi untuk menjalani itu sulit! Aku tidak ingin mencintaimu lagi, tapi batinku melarangnya!" ucap Keyla yang terus mencoba mengusap air matanya.
Edward menundukkan kepalanya. "Maafkan aku yang menunjukkan bukti itu telat! Tapi aku cukup lega jika kau tidak dendam lagi!" ucap pria itu tersenyum.
"Aku tidak punya alasan untuk dendam padamu, lagi! Tapi sekarang aku semakin sakit karena aku tidak bisa memilikimu ataupun Brata."
"Kenapa kau bilang seperti itu? Kau memang bukan milikku, tapi kau milik Brata di mata hukum maupun agama!" ucap Edward.
"Dia memang milikku, tapi raganya terlalu jauh untuk ku gapai!"
"Kenapa begitu?" Edward mengerutkan kening.
"Entahlah, sejak aku mengetahui semuanya, dan aku ingin mencoba memulai semuanya dari awal, dia malah menjauh dan tidak bisa kudekati lagi!" Tanpa sengaja Keyla meloloskan air matanya satu tetes.
"Dia pasti punya alasan kenapa dia melakukan itu?" ucap Edward.
"Iya, Karena aku yang menyakitinya terlebih dahulu!" jawabnya yakin.
"Tidak, aku tahu sifat adikku! Dia bukan tipe orang pendendam apalagi pada orang yang dicintainya!" ucap Edward.
"Terus apa alasannya?" tanya Keyla yang beralih menatap pria itu.
"Apakah dia tau tentang masa lalu kita?"
Jedduarrr ....
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Untuk Season2 ini, Maaf Othor ubah alurnya ya! Karena Edward tidak ada dalam pikiran Othor sebelumnya 🙈
Kalau Edward kubikin kejam, 'kan kasian hidupnya sudah terlanjur menderita 😂🤭
Entah bagaimana jadinya, nanti. Ikuti yuk karya Othor yang berbelit-belit kayak cacing kepanasan ini 🤣🤣🤣
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya!
__ADS_1
Love you All 🥰