
"Aku pulang dulu!" pamit Roy pada Selena setelah pria itu menenangkan wanita tersebut. Roy mengantar Selena tepat di depan apartemen wanita itu.
"Setelah ingatanmu pulih? Apakah kamu tidak kembali ke Bandung?" tanya Roy menatap wanita itu penuh tanya.
"Aku sudah pulang ke Bandung dan aku ke sini setelah melepaskan rasa rinduku pada keluargaku di sana!" jawab Selena tersenyum.
"Kamu janji ya! Balik lagi sama aku, aku tidak bisa hidup tanpamu, Roy!" ucap Selena seraya menatap pria itu penuh harap.
Roy tidak menjawab wanita itu, ia hanya tersenyum terpaksa karena ia masih belum tahu jalan keluar dari permasalahannya.
"Masuklah! Sekarang aku harus pulang!" ucap Roy dengan senyum yang dipaksakan.
Selena menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak memudar. Wanita mencium pipi Roy sekilas, lalu masuk meninggalkan Roy yang masih berdiri mematung menatap kepergian wanita itu.
Setelah bayangan Selena menghilang dari balik pintu, pria itu juga pergi meninggalkan apartemen itu dengan langkah gontai.
Roy masuk ke dalam mobil seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu melajukan mobil tersebut menuju rumah Putri. Lalu berhenti tepat di depan gerbang pintu rumah mewah tersebut.
Pria itu menatap jendela kamar Putri yang lampunya masih menyala. Tiba-tiba Ia melihat wanita yang di carinya dari kejauhan seraya duduk di jendela tersebut.
Meskipun wajahnya tidak tampak dengan jelas, tapi ia tahu betul bahwa yang dilihatnya adalah seseorang yang selalu berhasil membuatnya tersenyum di setiap tingkahnya.
Pria itu ingin memanggilnya. Namun, ia tahu betul bahwa Putri masih sangat marah padanya, ia hanya melihatnya dari kejauhan, membiarkan wanita itu merasa tenang sebelum ia menjelaskan semuanya.
"Maafin aku yang hanya bisa menyakitimu!" gumam Roy yang melihat Putri dari kejauhan.
"Putri yang duduk bersandar di jendelanya menoleh, dan ia melihat orang yang dicintainya sedang menatap ke arahnya.
Meskipun ia tidak melihatnya dengan jelas, tapi ia tahu betul bahwa orang tersebut adalah orang yang membuatnya terluka.
"Roy ... !" gumam Putri. Gadis itu hendak beranjak untuk menghampiri pria itu. Namun, langkahnya seketika ia hentikan setelah mengingat semuanya, semua keputusan yang telah ia buat.
"Tidak! Aku harus bisa move on!" ucap Putri seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu wanita itu menutup jendela kamarnya perlahan, meskipun ia ingin menatap pria itu lebih lama tapi ia menahannya dan belajar untuk mengikhlaskan pria itu.
Sementara Roy yang melihat Putri akan menutup jendela kamar tersebut. Ia tersenyum sendu, ia sadar bawa Putri melihat keberadaannya hingga gadis itu menutup jendela kamar.
"Maafkan aku!"
Roy melajukan mobilnya setelah melihat jendela kamar Putri tertutup sempurna. Akan tetapi, setelah Roy meninggalkan rumah tersebut, Putri membuka jendela kamarnya kembali.
"Aku pikir kebahagiaan kita l akan sempurna setelah ini, aku pikir dengan kita bertunangan, kau adalah jodohku. Tapi ternyata tidak! Kamu hanya mimpiku yang tak 'kan menjadi nyata." Putri tersenyum sendu. Ia menghapus air matanya yang terus mengalir deras di pipi mulusnya.
_
__ADS_1
_
_
"Selamat datang, Sayang!" Gracia merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan menantunya tersebut.
Devan mendahului Catherine, lalu pria itu hendak memeluk mommynya. Akan tetapi, Devan berdiri di depan Gracia hingga pria itu memeluk daddynya.
Gracia yang melihat wajah kekesalan Devan langsung tertawa lepas, begitupun dengan Catherine. Sementara Brian memasang wajah datar.
"Kamu kenapa?" tanya Brian seraya bersedekap dada dan mengangkat sebelah alisnya.
"Daddy sangat menyebalkan!" ucap Devan kesal seraya melangkah dan masuk ke dalam mendahului istri dan orang tuanya.
"Ayo, Sayang!" ajak Gracia seraya menarik tangan menantunya tersebut.
Brian melangkah lebih dulu, mengikuti jejak Devan dengan Gracia dan Catherine di belakangnya.
"Ayo, Sayang duduk sama mommy sini?" Gracia menarik kursi untuk menantunya tersebut. Akan tetapi, Devan malah duduk terlebih dahulu di kursi itu.
"Kami apa-apaan sih, Dev!" ucap Gracia kesal.
"Mommy duduk di samping daddy sana! Biar Devan duduk sama istri Devan!" ucap Pria itu.
"Sayang, duduk sini!" Brian menatap Gracia dengan wajah penuh cinta.
"Tapi, Mas ... !"
"Kita bicara sama menantu nanti setelah makan malam!" ucap Brian lembut.
"Okay!" Akhirnya Gracia pasrah dan duduk di sebelah suaminya tersebut.
"Sayang ... ! Suapi aku, dong!" Devan menatap Catherine dengan wajah memohon.
Catherine yang merasa tidak enak sama mertuanya kini hanya melirik Brian dan Gracia sekilas. Wanita itu terlihat salah tingkah. Namun, ia tetap menyuapi Devan meskipun terasa Kaku.
"Sejak kapan kamu jadi lebay seperti kakakmu, Dev?" Gracia melihat tingkah anaknya yang berubah 180 derajat.
"Enak aja Mommy samain aku sama Kak David, kalau dia mah bukan lebay, tapi sesat!" ucap Devan membela dirinya.
"Kalau David bersikap seperti itu nggak aneh, kalau kamu?" Gracia menaikkan sebelah alisnya seraya menatap putranya tersebut.a
"Sudah, sudah! Kalian tidak perlu berdebat lagi! Makan dulu, nanti kita bicara!" ucap Brian datar.
__ADS_1
Seketika Gracia diam dan menatap suaminya kesal. "Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Brian yang melihat istrinya mulai kesal.
"Aku mau makan kamu!" ucap Gracia seraya menatap Brian tajam.
"Hua ha ha ha ... " Devan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Gracia yang membuat semua orang menatapnya aneh.
"Kamu kenapa, Dev?" Catherinemenatap suaminya aneh.
"Aku nggak apa-apa, Sayang! Hanya saja mendengar ucapan mommy lucu sekali! Devan memegang perutnya yang terasa keram.
"Apa yang kamu ketawain dari mommy?" tanya Gracia menatap putranya curiga.
"Ya, masak mommy bilang mau makan Daddy di depan kita, ajari istriku juga biar Catherine bisa ganas seperti Mommy!" ucap Devan menggoda mommynya tersebut.
"Devan ... !" Gracia melempar sendok yang dipegangnya tepat di kepala pria itu.
"Ah mommy menyebalkan sekali sih?" Devan menatap mommynya penuh kekesalan.
"Brian yang sudah tidak tahan, ia melerai pertengkaran anak dan istrinya tersebut. Ia langsung menyuapi istrinya dengan sesendok makanan yang ada dihadapannya.
Devan yang tidak terima, ia langsung mengambil tangan Catherine lalu menyuapi dirinya sendiri melewati tangan istrinya tersebut.
Setelah selesai makan malam, kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Dengan Catherine yang duduk di sebelah suaminya atas permintaan pria tersebut.
"Mommy mau bicara apa?" tanya Devan dengan senyum yang mengembang.
Gracia mendes'h lalu tersenyum seraya menyodorkan dua tiket pada pengantin baru tersebut. "Untuk kalian!" Gracia tersenyum menatap anak dan menantunya tersebut.
Devan membalas senyuman mommynya, lalu mengambil tiket dari mommynya tersebut.
Devan menatap mommynya kesal setelah membaca tiket. "Kenapa harus ke Paris sih, Mom? Yang ada entar Kak David mengacaukan bulan madu kita!" ucap Devan kesal.
"Sudah, Sayang! Lagi pula aku belum kenalan sama Kakak dan Kakak ipar! Sekalian kita bulan madu sambil main ke sana!" ucap Catherine dengan senyum lembutnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, sayang 🥰
Semoga besok Othor bisa update 3 Bab lagi ya 😂 Doain Othor semoga otaknya lancar dan semangat tentunya.
Maaf jika banyak Typo 🙏🤭🙈
__ADS_1